Bab 12. Memori Que Sera Sera

1286 Words
Author POV Sean masih mengendap, bersembunyi di balik tembok. Setelah ia berhasil melompati pagar, gadis itu segera mencari keberadaan teman-temannya, sembari mendekap dus di depan d**a. Gadis itu mengintip dari balik tembok. Di lapangan, para peserta MOS sedang berkumpul. Sean bisa melihat beberapa kakak kelas yang sedang berteriak-teriak. Meneriaki satu deret siswa dengan tampilan seperti dirinya yang berdiri berbaris. Sean mendesah … tidak tahu bagaimana caranya bergabung dengan salah satu barisan itu, tanpa ketahuan. Rasanya tidak akan mungkin. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa dia pergi ke kelas saja? Tapi, di mana kelasnya? Dengan tampilannya seperti ini, tidak mungkin Sean bisa berjalan dengan santai, tanpa tatapan curiga. “Ngapain lo di sini? Mau kabur?!” Sean yang masih sibuk memikirkan rencananya—terlonjak. Kardus dalam dekapannya, bahkan terlepas dari kedua tangan. Sepasang mata gadis itu membola saat mendapati seorang kakak kelas--berdiri menjulang di depannya. “Mau kabur??” tanya nya lagi. Sean segera menggelengkan kepala. Cowok itu berdecak. “Berdiri!! Balik ke tempat lo. Enak saja mau kabur!” Tak ingin membuat sang kakak kelas yang sudah melotot ke arahnya—semakin kesal, Sean segera meraih kembali kardusnya, lalu berdiri. Dengan isyarat kedikan kepala, cowok dengan rambut cepak ala tentara itu, meminta Sean untuk segera berjalan. Meringis, Sean membawa langkah kakinya menuju lapangan. “Mampus gue,” batin Sean. Berencana lari pun, sekarang sudah tidak mungkin. Melirik ke belakang, hanya untuk kembali mendapati pelototan sang kakak kelas. Sean mendesah pasrah. “Gus! Nih, ada satu yang mau kabur!!” Kakak kelas yang mengikuti Sean dari belakang--berteriak. Sean merasa aliran darahnya saat ini sudah berhenti, ketika sepasang netranya mendapati semua kepala di depan sana, menoleh ke arahnya. Seorang cowok berderap menghampiri Sean. Sean hanya mampu mengerjapkan mata, saat seseorang yang entah bernama Agus, Bagus, Lugus, atau siapa pun itu, yang belakangnya ‘Gus’ menatap menelisik ke arahnya. Buru-buru Sean menundukkan kepala. “Beneran, lo mau kabur???” tanya cowok yang berdiri di depan Sean, dengan tubuh sedikit membungkuk—untuk melihat wajah Sean yang masih tertunduk. “Eng-enggak … kak,” sahut Sean dengan kepala tertunduk. “Halah … bohong, Gus. Orang tadi dia ngumpet di balik tembok sono tuh.” Cowok yang dipanggil Gus itu menoleh—mengikuti arah telunjuk salah seorang temannya. “Gue baru dari toilet waktu mergokin dia,” lanjutnya. “Beneran enggak, Kak … berani sumpah.” Sean mengangkat kepala, lalu menggeleng. Memang benar dia ngumpet di balik tembok, tapi bukan karena mau kabur. Justru sebaliknya, ia sedang berpikir bagaimana cara bergabung dengan para peserta MOS, tanpa harus ketahuan. Sean tahu, tidak mungkin selamat dari hukuman, kalau sampai ketahuan terlambat. Namun, kali ini, Sean sudah pasrah. Sepertinya dia memang tidak akan selamat kali ini. "Lalu, kalau bukan karena mau kabur? Ngapain lo ngumpet? Jawab!" *** Dari balik dinding, dengan memanjat batu yang tadi Sean pakai—Elang menahan tawa, melihat apa yang terjadi di depan sana. Melihat gadis yang dia bantu melompati tembok keliling sekolah, sekarang berdiri di depan banyak siswa lainnya. Elang yakin, gadis itu tidak akan selamat dari hukuman. Seorang peserta MOS datang terlambat, itu makanan empuk untuk panitia MOS! Elang terkekeh. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Meski jaraknya lumayan jauh, namun ia masih bisa dengan jelas melihat wajah gadis itu yang sudah pucat pasi. Sean berdiri di depan ratusan siswa peserta MOS. Setelah ketahuan, ia digiring ke depan semua siswa yang menatapnya dengan berbagai macam pikiran. Mencoba meliarkan pandangan untuk mencari kedua sahabatnya dari SMP—yang juga menjadi siswa baru di sekolah ini. “Ayo cepetan!!” Sean menoleh, lalu mengerjap. “Sebutin nama kamu, dan beri alasan kenapa kamu terlambat!” perintah seseorang yang dipanggil ‘Gus.’ “Nama saya Asean Sofi. Terlambat karena bus yang saya tumpangi mogok di jalan.” Sean tidak sedang berbohong. Ia mengatakan yang sebenarnya. Bola matanya bergerak ke segala tempat saat suasana hening. “Emang kamu anak pendiri Asean, sampai mewarisi nama itu??” tanya salah satu panitia yang lain. Sean mendesah. Selalu seperti ini, saat pertama kali ia memperkenalkan namanya. Jangan tanya dia bagaimana ia bisa menyandang nama Asean Sofi. Harusnya mereka bertanya pada Ibunya yang begitu tergila-gila pada Asian games ketika hamil dirinya--dulu. “Bukan, Kak. Kalau bapak saya pendiri Asean, nama saya Sofi Ramos, Sofi Husein, Sofi Koman, Sofi Rajaratnam, atau Sofi Malik,” sahut Sean, yang membaut beberapa siswa tertawa, sementara senior yang bertanya padanya--ternganga. Sean meringis. “Wah … kamu pinter juga ternyata, ya. Masih ingat para pendiri Asean. Ya sudah … karena kamu cukup pintar, jadi bisa buat aset sekolah ini—hukuman buat kamu saya kurangi.” Sean langsung tersenyum lebar ke arah kakak kelasnya yang--anggap saja bernama Agus. “Sekarang kamu nyanyi saja. Hibur teman-teman kamu yang sudah kelelahan itu.” Senyum Sean langsung surut. Kirain, Sean hanya disuruh balik ke barisan. Hah!! Itu namanya elo nggak jadi dihukum dodol—sahut sisi otak Sean. “Apa nggak bisa dianulir saja, Kak? Hukumannya? Saya juga sudah capek lari dari jalan raya, trus manjat tembok.” Sepasang mata Agus yang ditatap Sean, kembali terbuka lebar. “Kamu manjat tembok??” Sean mengangguk. “Kalo gitu … sekarang kamu la—” “Tunggu kak!!” potong cepat Sean. Membayangkan hukuman fisik, membuat Sean menyerah. Lebih baik nyanyi sekalipun fals, dari pada ia harus berolah raga lagi. Cukup tadi Sean sudah berolah raga. “Oke … saya nyanyi sekarang.” Berdehem, Sean kemudian mulai membuka mulut. Menyanyi lagu yang akhir-akhir ini ia sukai. Que Sera Sera. Seketika suasana kembali hening. Semua memilih mendengarkan suara Sean yang ternyata cukup enak didengar. Pun bagi Elang yang masih bertahan berpijak pada batu untuk bisa melihat ke arah para peserta MOS. “Suaranya lumayan …,” guman Elang, sebelum kemudian turun dari pijakan. Membungkuk untuk mengambil tasnya, cowok itu lalu melangkah ke sisi lain tembok. Dengan mudah memanjat, lalu melompat turun. *** “Lo beneran telat karena bus nya mogok??” tanya Dian, yang langsung diangguki oleh Sean, sementara mulutnya masih menyedot es teh menggunakan sedotan plastik. Ia dan kedua sahabatnya—Dian, serta Ruri, sedang duduk di kantin setelah acara MOS diistirahatkan. “Gue beneran sial hari ini,” ujar Sean setelah melepas sedotan plastik dari mulutnya. Menatap kedua sahabat yang duduk di seberang meja--bergantian. “Bus mogok. Nunggu bus lain … ampun, penuh terus. Gue cegat juga nggak mau berhenti. Habis itu, setelah dapat bus, gue masih harus lari dari jalan raya. Ah … kenapa juga sekolah ini tempatnya di kampung begini,” keluh Sean. Dua sahabatnya hanya diam mendengar, dan mengamati kekesalan Sean. “Habis itu … gerbang depan sudah ditutup. Gue mesti manjat tembok belakang.” Kedua temannya menggelengkan kepala bersamaan. Mereka sudah mendengar cerita Sean tadi di lapangan. “Kayaknya sulit percaya kalau lo beneran manjat tembok deh, Sean,” ucap Dian tidak percaya. Dian tahu selemah apa Sean dengan yang namanya olah raga. Lalu, gadis itu bilang memanjat tembok?? Dian bilang, itu … impossible. “Lo nggak percaya gue manjat tembok??” kali ini bukan hanya Dian, pun dengan Ruri—menganggukkan kepala. Sean berdecak kesal. “Gue nggak bohong. Beneran manjat tembok—setelah manjat punggung orang lebih dulu,” jujur Sean, diakhiri dengan kekehan, sebelum berganti cemberut--ketika mengingat momen terakhir yang kurang menyenangkan. Kedua sahabatnya ini sudah terlalu tahu tentang bagaimana Asean untuk dibohongi. “Punggung siapa yang lo panjat??” Ruri sudah memajukan tubuhnya—hingga jaraknya dengan Asen sedikit terkikis. Cewek itu menatap penasaran sang sahabat. “Jangan ngayal ya, Sean. Lo lihat kaki dia napak di tanah, nggak?? Jangan-jangan itu—” “Husss … dia manusia, bukan hantu!” sahut Sean tidak terima. Ruri yang mulutnya sering kali dol saat bicara, mengira Sean bertemu hantu. “Cowok. Gue nggak tahu namanya. Ganteng sih, sebenernya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD