"Gimana?" Lyn menggelengkan kepalanya menolak.
"Gue gak bisa hari ini, ada acara keluarga." Ujarnya kemudian.
"Lo tuh alasannya acara keluarga mulu tiap gue ajak ke club. Kali ini lo bohong lagi kan?" Todong Hyza pada sahabatnya yang sekarang memasang wajah lelahnya.
"Kali ini beneran, yang kemarin-kemarin emang bohong. Keluarga gue udah booking jadwal semua orang selama satu minggu untuk acara family gathering." Aku Lyn dengan suara desah lelah, ia bahkan sampai merebahkan kepalanya di meja.
"Wah tumbenan banget keluarga lo buat acara begitu." Celetuk Hyza yang sudah tau seluk beluk keluarga Lyn, fyi mereka sudah berteman sejak sekolah menengah pertama hingga sekarang.
"Kakak sepupu gue pada pulang, liburan semester kan." Jelas Lyn.
"Yahh sayang banget dong, padahal party kali ini lebih rame dari biasanya. Gue pikir ini bakal jadi comeback lo setelah kita terakhir kali ke club pas prom night." Prom Night yang Hyza maksud adalah dua tahun lalu saat kelulusan sekolah menengah atas. Kali itu adalah kali pertama dan terakhir Lyn pergi ke club, ia tidak lagi mau ikut setiap Hyza mengajaknya dengan banyak alasan sampai saat ini mereka akan masuk semester lima universitas.
"Lo harusnya bilang dari jauh-jauh hari. Gue bakal berdalih udah liburan duluan sama lo jadi Mami gak bakalan maksa gue buat ikut." Andai saja Lyn terpikirkan hal ini sebelumnya, ia pasti bisa bohong dengan menggunakan nama Hyza untuk menolak ikut liburan keluarga. Sayangnya sudah terlambat dan Lyn mau tidak mau harus ikut meskipun hatinya gelisah dan pikirannya berlarian kemana-mana.
"Gak kepikiran gue. Lagian kenapa sih ikut liburan keluarga? Seru-seru aja gue rasa." Hyza meminum lychee tea miliknya dengan santai meskipun matanya agak terganggu melihat teman didepannya ini tampak tidak beres hari ini.
"Gak kenapa-kenapa sebenernya. Cuma ngebayangin satu minggu full diluar rumah dan harus ngelebur di perkumpulan keluarga non-stop dari melek mata sampe tidur lagi, gue bener-bener gak bisa. Pasti energi gue langsung anjlok tak bersisa." Cukup dimengerti jika Lyn merasa demikian, pasalnya sangat jarang keluarga besar Lyn berkumpul kecuali saat ada moment tertentu seperti pernikahan atau kematian anggota keluarga dikarenakan mereka tinggal berjauhan. Kebanyakan keluarganya tinggal berbeda pulau sampai berbeda negara, hanya dengan solusi saling berkunjung satu sama lain menjadi pilihan untuk mereka bertemu di sela waktu.
Karena jarang berkumpul, Lyn jadi tidak terlalu akrab dengan para sepupunya meskipun ada beberapa yang akrab sekali dengannya. Tetapi tentu tidak mungkin dalam waktu seminggu Lyn tidak berinteraksi dengan pihak yang tidak akrab dengannya kan? Mereka keluarga dan tentu Lyn harus berbaur dan saling kenal lebih baik lagi supaya ikatan persaudaraan mereka tetap erat.
"Itu akibat lo suka bohong sama temen lo Lyn, jadi kena karma satu minggu full acara keluarga. Good luck sayangku." Ejek Hyza yang berhasil mendapatkan decakan kesal dari Lyn.
"Emang temen Setan." Tawa Hyza menguar setelah mendengar makian yang Lyn lontarkan padanya tanpa peduli kalau akibat tawanya menjadikan mereka pusat perhatian di kantin prodi yang sekarang sedang mereka singgahi.
"Gue akan info anak-anak kalo lo gak ikut lagi. Daffin pasti kecewa banget sih, doi excited banget soalnya pas gue bilang lo bakal gue ajak."
Lagi-lagi Lyn berdecak, hari ini moodnya benar-benar jelek sekali. "Please deh Za, jangan makin lu ceng-cengin itu anak. Giliran baper gue yang pusing padahal gue gak ngapa-ngapain."
"Ya biarin doi baper sama lo, biar doi lebih getol ngejar lo terus hati lo akhirnya luluh dan kalian jadian."
"Halusinasi lo kejauhan Za. Gue gak suka sama Daffin atau siapapun cowok-cowok yang lo sodorin ke gue." Sudah tidak terhitung berapa banyak laki-laki yang Hyza kenalan pada Lyn untuk dijadikan pacar, tetapi sayangnya Lyn tidak tertarik.
"Lo gak bosen jomblo terus sedari orok? Gak iri liat gue punya pacar?" Tanya Hyza yang berhasil mendapatkan gelengan kepala dari Lyn dengan wajah teramat jujur. Lyn bahkan tidak peduli jika Hyza berciuman dan mesra-mesraan dengan pacarnya didepan mata.
"Serius jawab gue. Lo gak suka perempuan kan?" Kali ini Hyza melontarkan pertanyaan dengan suara nyari berbisik mengingat dimana mereka berada sekarang.
"Gila lo ya. Gue masih normal." Tampik Lyn seraya menepuk kesal punggung tangan Hyza.
"Aduh ih, Lynelle lo tuh kalo beneran normal gak mungkin tolak semua cowok-cowok kece yang gue kenalin ke lo. Sekelas Kak Kesar si ketua BEM lo tolak, Kak Milo asisten dosen ganteng itu ditolak juga. Dan masih banyak lagi cowok-cowok mantep demen sama lo, lo kenapa sih? Gue kalo jadi lo yang cakep begini udah pasti tebar-" "shuttt. Jangan banyak bacot. Gue gak mau dengar."
"Lyn, gue beneran khawatir sama lo. Asal lo tau Mami lo itu sering banget mintain gue buat kenalin cowok ke lo, karena pengen liat lo punya pacar. Coba deh buka hati jangan gini terus." Bujuk Hyza.
"Kalopun semisal ada yang klik di hati gue, pasti gue bakal punya pacar juga kok dan sekarang belom nemu aja. Udah jangan dipikirin omongan Mami gue."
"Gue gak bakal berhenti jadi mak comblang lo sampe lo punya pacar Lynelle Mercya." Lyn menghela nafasnya lelah dan tak lagi menanggapi Hyza yang begitu menggebu-gebu.
Jujur saja bukannya Lyn tidak menghargai usaha temannya itu, tetapi Lyn benar-benar tidak merasakan ketertarikan jenis apapun pada orang-orang yang sudah Hyza kenalkan padanya. Lyn tidak mau berusaha ketika ia tahu usahanya akan sia-sia, jadi lebih baik ia berhenti di awal dan jujur. Lyn tidak mau memaksakan hatinya untuk sekarang.
Melihat kedua orangtuanya yang saling mencintai begitu tulus membuat hati Lyn tergugah dan ingin merasakan hal yang sama di kemudian hari entah kapan dan entah bersama siapa. Salahnya sekarang adalah hati Lyn berpaut pada sesuatu yang tidak sepantasnya ia rasakan, bahkan ia sudah membuat kesalahan yang seharusnya tidak ia lakukan. Hal ini lah yang membuat Lyn terus melangkah mundur ketika ada seseorang yang mendekat maju. Lyn belum siap menerima orang lain dan menumpuk perasaan yang sudah ia rasakan hampir tujuh tahun ini.
Tujuh tahun cinta monyet yang berawal dari kekaguman dan terus mengendap seiring berjalannya waktu meskipun sempat keruh dan sekarang rasanya semakin keruh.
"Jangan bilang lo masih nyimpan perasaan dengan cinta monyet lo itu makanya lo gak minat jatuh cinta sama orang lain? Lo belum move on!"