"A-apa?” Kalana tergagap, suaranya tercekat di tenggorokan.
Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Damian, namun dampaknya bagaikan hantaman petir di siang bolong untuk Kalana. Ia berharap pendengarannya salah, dan seringai di wajah pria ini hanyalah sebuah candaan buruk yang keji.
"Kau tidak tuli, kan?” ucap Damian dengan nada rendah yang mutlak. "Itu harga yang harus kau bayar, jika memang ingin melunasi hutangmu dengan cepat, atau bahkan dianggap lunas sepenuhnya."
"T-tapi tidak dengan cara itu juga! Aku bukan p*****r," cicit Kalana, sembari menarik kepalanya mundur, agar tidak terlalu dekat dengan Damian.
“Tapi sayangnya … aku sudah membelimu. Jadi kau milikku sekarang.”
Damian berbisik rendah, kemudian membungkam protes apa pun yang hendak keluar dari mulut Kalana dengan ciuman yang dalam, menuntut, dan tanpa ampun. Tangannya merayap turun, menyusup ke balik helaian rambut gadis itu, lalu mencengkram tengkuk Kalana agar terus mendongak dan tidak bisa menghindar.
"Eughh ... Mmpphh ...."
Bibir Damian melumat bibirnya dengan d******i penuh. Kalana sempat memberontak hebat, mencoba memalingkan wajah, memukul dan mendorong d**a pria itu menjauh. Namun, cengkraman Damian di tengkuknya, terlalu kuat untuk dilawan.
Perlahan, pertahanan Kalana runtuh. Kehangatan yang mendesak, aroma maskulin yang memabukkan, serta sentuhan tangan besar Damian yang mulai meraba sisi pinggangnya membuat Kalana terbuai dalam kepasrahan yang menyesakkan d**a. Ia tak lagi punya tenaga untuk melawan—terseret sepenuhnya ke dalam pusaran kekuasaan pria yang kini memegang kendali atas hidup dan raganya.
Lama kelamaan, ciuman itu semakin menuntut dan merampas sisa-sisa oksigen di paru-parunya, hingga Kalana merasa pusing. Lidah Damian mendesak masuk, menjelajahi rongga mulutnya dengan penuh penguasaan. Bahkan ia tidak sadar, kapan tepatnya telah terbaring di ranjang dengan pria itu yang menindih tubuhnya.
"Mmpphh ... cu-cukuphhh …,” cicit Kalana terbata-bata, suaranya melemah, berubah menjadi desahan panik saat bibir Damian mulai bergerak turun di sepanjang lehernya.
Setiap hisapan lembut yang diberikan pria itu pada kulit sensitifnya mengirimkan gelombang kejut yang melumpuhkan saraf-saraf pertahanannya. Cengkraman tangannya di pundak Damian yang awalnya dimaksudkan untuk mendorong, kini justru berubah menjadi pegangan putus asa di tengah badai sensasi aneh yang melanda kewarasannya.
Damian menyesap bibir bawah Kalana sekali lagi, sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya. Ia menyatukan kening mereka, mengamati bibir Kalana yang kini bengkak dan basah, serta manik mata gadis itu yang menatapnya dengan air mata menganak sungai.
“Kenapa menangis, hm?” bisik Damian serak, ibu jarinya terulur mengusap lembut sudut bibir Kalana dengan sentuhan posesif yang membuat sekujur tubuh gadis itu meremang tidak berdaya.
"Kau b******k," desis Kalana tertahan, suaranya bergetar hebat di antara isak tangis yang mati-matian ia tahan.
“Aku memang bukan orang baik. Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih dari ini, termasuk membuatmu mendesah setiap malam jika aku mau,” balas Damian dingin, iris gelapnya menatap lurus menembus manik mata Kalana yang basah.
Ia kembali menunduk, dan melumat bibir Kalana dalam-dalam. Kali ini tangannya mulai bergerak aktif mengusap paha gadis itu yang terekspos—akibat kemeja kebesaran yang tersingkap, memberikan sensasi panas yang membuat Kalana semakin meronta histeris.
Sebelum Damian sempat melakukan hal lebih, suara dentuman keras tiba-tiba menggema ke seluruh ruangan. Pintu kamar terbuka kasar dari luar.
BRAK!
"BOS! KAU DARI MANA SAJ—"
Kalimat itu terputus begitu saja di udara. Pria bersetelan jas rapi yang berdiri di ambang pintu itu seketika membeku bagai patung. Matanya membelalak lebar, dan rahangnya yang menganga lebar nyaris jatuh ke lantai saat melihat pemandangan di atas ranjang king size tersebut.
"O my god," gumamnya, speechless.
Suasana di dalam kamar mendadak hening mencekam. Damian menghentikan pergerakan tangannya di paha Kalana, lantas menegakkan tubuhnya menatap pria di ambang pintu itu. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi gairah kini berubah menjadi pancaran aura membunuh yang begitu pekat.
Memanfaatkan kelengahan Damian, Kalana buru-buru merapikan kemeja yang tersingkap, lalu mundur hingga punggungnya menempel pada kepala ranjang, dan menarik selimut rapat-rapat sampai ke lehernya. Wajahnya memerah padam—bercampur aduk antara malu yang tak tertahankan, panik, sekaligus lega karena perlakuan pria itu terhenti.
"A-ampun, Bos …,” cicit pria di ambang pintu itu, menelan salivanya susah payah saat menyadari situasi bahaya yang baru saja diciptakannya. "A-aku ... aku pikir kau hilang diculik karena dari semalam ponselmu tidak aktif dan direksi sudah—”
"Keluar," desis Damian dingin. Suaranya rendah dan serak, namun sarat akan ancaman yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
“Oke, aku tunggu di bawah. T-tapi serius, dua puluh menit lagi jadwal rapat dengan dewan direksi!" pekik pria itu panik.
Tanpa menunggu Damian merespons lagi, pria itu buru-buru melangkah mundur dan membanting pintu kamar hingga tertutup rapat. Keheningan kembali menyergap kamar tidur yang luas itu.
Damian mendengus kasar, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, lalu menoleh pada Kalana yang masih gemetaran di balik gulungan selimut. Tanpa mengatakan apapun, ia turun dari ranjang, dan berlalu menuju kamar mandi.
Tak lama berselang, suara gemericik air dari balik pintu kamar mandi mulai terdengar. Kalana menatap pintu kayu berukuran besar itu dengan perasaan campur aduk.
Jantungnya masih berdegup kencang—bukan lagi karena ketakutan, melainkan sisa-sisa adrenalin karena kejadian tadi. Ia menyentuh bibirnya yang bengkak, lalu buru-buru mengusap jejak air mata di pipinya.
“Aku harus kabur,” gumam Kalana penuh tekad. “Kalau aku tetap di sini, aku benar-benar akan hancur.”
Saat suara air di kamar mandi masih terdengar, Kalana nekat turun dari ranjang. Dengan kaki telanjang, ia melangkah menuju dinding kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit kamar.
Ia melongok ke bawah, menatap hamparan ibu kota yang tampak seperti miniatur dari ketinggian lantai lima puluh ini. Kepalanya mendadak pening, dan ia langsung menelan saliva susah payah. Jarak itu terlalu jauh, terlalu curam, dan terlalu mustahil untuk ditembus. Ini benar-benar sebuah penjara di angkasa.
"Ck, gak mungkin lompat, kan?” bisiknya lirih.
Beberapa menit kemudian, suara air di kamar mandi berhenti. Kalana tersentak, buru-buru kembali ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya sebelum pintu kamar mandi terbuka.
Damian keluar dengan lilitan handuk putih yang melingkar di pinggangnya, memperlihatkan tetesan air yang mengalir turun di atas d**a bidang dan otot perutnya yang terpahat sempurna. Pria itu tampak acuh tak acuh, melangkah tenang menuju walk-in closet di sudut kamar.
Kalana buru-buru memalingkan wajahnya yang merona merah hingga ke telinga, lalu menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi pandangannya. Tak lama kemudian, Damian keluar dari area walk-in closet dengan pakaian kerja yang sudah melekat sempurna di tubuhnya.
Pria itu mengenakan kemeja putih formal yang lengannya digulung sebatas siku, dipadukan dengan celana bahan hitam yang membuatnya terlihat semakin memukau sekaligus mengintimidasi. Setelah itu, Damian menyambar ponsel dan jam tangan dari atas nakas, lalu melangkah kembali mendekati ranjang.
"Jangan berpikir macam-macam, apalagi mencoba kabur dari tempat ini," ucap Damian dengan nada dingin yang mutlak. "Pintu penthouse ini dikunci dengan sistem biometrik, dan seluruh gedung ini adalah wilayahku."
Kalana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menatap Damian dengan sorot mata takut dan penuh ketidakberdayaan.
“Sarapan akan diantar oleh pelayan nanti. Aku ada urusan penting di kantor, dan akan kembali nanti sore,” lanjut Damian tanpa peduli pada ekspresi Kalana.
Tepat sebelum berbalik, Damian membungkuk dan mendaratkan satu ciuman dalam dan singkat di bibir Kalana. Setelah puas, baru pria itu menarik diri dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Brak.
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Kalana yang terduduk lemas di tengah bentangan kasur yang luas. Kesunyian kembali merayap, menyisakan dirinya seorang diri di dalam sangkar emas milik Damian, menanti nasib apalagi yang akan menimpanya nanti malam.