bc

Jerat; Kontrak Panas Sang Menteri

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
one-night stand
family
HE
opposites attract
friends to lovers
arranged marriage
heir/heiress
drama
sweet
bxg
serious
kicking
bold
brilliant
city
office/work place
lies
friends with benefits
addiction
like
intro-logo
Blurb

Mariska Widagdo adalah presenter yang dikenal cerdas dan berani. Ia mencintai pekerjaannya dan tidak tertarik menjadikan pernikahan sebagai prioritas. Sampai satu pertanyaan terus menghantuinya di usia yang dianggap “terlambat” oleh banyak orang. Kapan menikah?

--

Segalanya berubah ketika ia bertemu Ezra Natarwan, politikus ternama dengan citra bersih dan karier gemilang. Pertemuan mereka di Singapura berujung pada cinta satu malam yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

--

Tak lama kemudian, Ezra datang dengan tawaran yang tak masuk akal. “Mariska, gimana kalau kita menikah?” pintanya santai. “Nikah kontrak. Saya lelah terus didesak untuk menikah. Kamu juga, kan?”

--

Mariska awalnya ragu, tapi tawaran ini juga menguntungkan kedua belah pihak. Terlebih Mariska juga terpikat oleh keahlian Ezra dalam memuaskannya di ranjang.

--

“Oke.” Dia kini menjawab tanpa ragu. “Dua tahun. Tidak ada anak, dan jangan sampai publik tahu aku istri kamu. Cukup orang-orang terdekat yang tahu status kita berdua.”

--

Ezra mengangguk. “Deal, Mariska. Publik tidak akan tahu.”

--

Yang tidak Mariska tahu, Ezra tidak pernah berniat mematuhi kesepakatan mereka. Dan pria itu sudah terlalu lama terobsesi untuk sekadar melepaskannya.

chap-preview
Free preview
One Night-stand, bersama Mr. Minister
Mariska mencengkeram erat pinggiran seprai dengan napas yang mulai terengah. Di atasnya, Ezra terus bergerak dengan tempo yang kian cepat dan bertenaga. Meski sudah memasuki ronde ketiga malam ini dan tubuhnya mulai terasa lemas, Mariska tetap terbuai oleh sensasi nikmat yang sulit untuk dihentikan. Setiap desakan yang diberikan Ezra membuatnya tak kuasa menahan jeritan kecil yang terus lolos dari bibirnya. “Please, pelan sedikit—” Bibirnya yang sedikit terbuka mencoba meminta keringanan agar pria di atasnya itu mau memberikan sedikit jeda. Ezra malah menunduk, menyeringai tipis seolah tidak peduli pada keadaan Mariska yang sudah tak berdaya. “Pelan? Tadi kamu bilang lebih kencang. Just enjoy, Mariska. I know you like it more... than me.” Mariska hanya bisa mendengus kesal sambil memukul pelan bahunya. Ia benci jika lelaki one night-standnya mengejek seperti itu. “Sumpah, jangan ngomong gitu, ya. Benci banget! Jangan sampe aku minta berhenti sekarang.” Tapi bibirnya malah tersenyum kecil. Ezra mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka hampir bersentuhan. Keduanya bisa merasakan hembusan nafas yang saling beradu. Maniknya menatap lurus ke iris Mariska, lalu tanpa banyak berkata dia menciumnya tak beraturan, hingga Mariska kesusahan untuk mengimbangi. Di bagian bawah, ritme gerakan pinggulnya juga semakin cepat. Namun wanita itu sudah berpengalaman soal hal ini. Ia berhasil mengigit bibir bawah Ezra, menggigitnya lumayan keras. Tangannya naik ke rambut pria itu, menariknya agar lebih dekat. Beberapa detik kemudian, gelombang puncak itu datang bersamaan. Tubuh Mariska menegang, punggungnya melengkung, dan dia menjerit pelan di mulut Ezra. Ezra ikut mengerang keras, tubuhnya bergetar beberapa kali sebelum akhirnya ambruk di atas wanita itu. Mereka diam beberapa saat, hanya suara napas cepat yang terdengar di kamar hotel mewah tersebut. Ezra berguling ke samping, lalu terbaring telentang sambil menatap langit-langit. Mariska ikut memalingkan wajah ke arah lain. Ia menarik selimut hingga kain itu menutupi tubuhnya dari bawah sampai ke atas. Keduanya terdiam agak lama, sepertinya kewarasan mereka kembali setelah puncak kenikmatan itu. Baru menyadari betapa mereka terlalu liar beberapa detik sebelumnya. “s**t,” umpat Ezra sambil mengusap wajahnya sendiri. “Tadi itu enak banget.” Mariska menoleh sekilas, lalu cepat-cepat berbalik lagi menghadap dinding. Sialnya, pipinya terasa panas. Ia tak yakin sedang tersipu malu, dan jangan sampai itu terjadi. “Iya…, lumayan lah.” "Lumayan, ya?" Terdengar dengusan kecil dari Ezra, tanda ia tidak percaya. Selama ini, permainan ranjangnya selalu dipuji oleh banyak wanita, tapi kali ini hanya dinilai "lumayan" oleh Mariska. Ezra pun merasa penasaran. Mungkinkah selera wanita ini setinggi itu? Bahkan sampai membuat seorang Ezra Natarwan merasa minder hanya karena komentar singkat tersebut. Mariska mendengar suara gesekan kain. Ezra bangkit. Ia berjalan ke arah serakan pakaian mereka yang tersebar di lantai karpet hotel yang mewah ini. Dengan gerakan santai yang masih menyisakan rasa pegal setelah beberapa jam sesi intim. Membuat otot-otot keduanya menjerit meminta untuk diistirahatkan. Ia mengambil celana pendek dan memakainya. Tatapannya, dari balik bahu yang bidang, sesekali menyapu ke arah ranjang. Setelah celana pendek itu menempel sempurna di pinggang atletis tersebut, Ezra berkata, "Saya kira, kamu akan terkesan." Mariska ikut bergerak, ucapan Ezra barusan membuatnya mau tak mau harus memberikan semacam klarifikasi. Jujur saja, ia tak bermaksud berkata demikian. Kini Wajahnya menghadap Ezra, tentu mencoba terlihat tenang seperti yang selalu ia lakukan dalam keadaan terdesak, dengan satu alis yang sedikit terangkat Mariska meluruskan. "Aku bilang lumayan. Permainan kamu sudah enak, mungkin sedikit latihan lagi, akan jauh lebih 'enak'. Ya... seperti itu kira-kira. Jangan marah, I just be honest." Ezra terdiam sejenak. Kemudian, sebuah tawa pendek meledak keluar, “Wah,” ujarnya, sambil menggeleng pelan. Ia mulai berjalan ke arah kamar mandi, namun berhenti di depan pintunya yang terbuka lebar. "Selain menjadi presenter program televisi yang banyak dibenci para politikus, rupanya kamu juga punya bakat jadi pelatih. Mungkin Coach Gym? Dimana biasanya kamu buka kelas? Saya mau ikut mendaftar saat ini juga.” Mariska menyahut, "Ego kamu, kena? Lemah sekali." Tapi kemudian ia menambahkan kata-katanya yang selalu menjadi andalannya selama ini sepanjang karir Jurnalistik, yaitu tajam dan tak pandang bulu. “Aku kira selama ini, Bapak Ezra Natarwan itu politikus ulung yang tidak mudah terpancing oleh sesuatu yang remeh seperti tadi. Ternyata, sama saja, ya?” Yang muncul di wajah Ezra bukan kemarahan. Justru sebaliknya. Sebuah senyuman miring, dan penuh tantangan merekah di wajahnya yang tampan. Ia malah melangkah tak jadi masuk ke kamar mandi kemudian mendekat hampir saja jarak mereka begitu dekat, menempatkan kedua tangannya di tepi ranjang, sehingga tubuhnya membayangi Mariska. “Hati-hati dengan kata-katamu, Mariska. Saya bisa saja sekarang menyentuh kamu lagi tanpa ampun. Jangan terlalu arogan, saya tahu diam-diam kamu memuji saya lebih dari yang kamu ucapkan lewat bibir seksi kamu itu.” Napas Mariska sesaat tertahan. Nyalinya agak ciut mendapatkan ancaman itu padahal biasanya tidak, sama sekali ucapan barusan seharusnya angin lalu baginya. Namun, ia berusaha mengendalikan dirinya kembali dan dengan tenang, ia mengangkat tangannya dan menempatkan telapaknya di d**a Ezra, mendorongnya perlahan tapi pasti. "Kita nggak bisa lama-lama, you know it.” Tapi kemudian jari telunjuknya turun sampai ke pusar Ezra, wajahnya kembali mengadah. “Jam dua pagi aku harus sudah kembali ke hotel tempat timku menginap. Dan kamu, Bapak Ezra yang terhomat. Pasti juga tidak ingin foto kita, dalam keadaan seperti ini, menghiasi timeline media sosial besok pagi. Mungkin dengan headline besar, ‘Menteri bidang investasi yang dikenal cerdas dan kaku, diam-diam menghabiskan waktu bersama dengan seorang wanita, dan kenapa harus di Singapura?’. Karir politikmu yang sedang naik daun ini bisa langsung layu, boom! Redup, dan lebih parahnya kehilangan kepercayaan presiden.” Ezra menahan pandangannya untuk beberapa saat, lalu menarik diri. Ia segera masuk ke kamar mandi. Suara keran air yang mengalir deras mengisi kesunyian ruangan tersebut. Beberapa detik kemudian, ia keluar, wajahnya basah, beberapa helai rambutnya menempel di dahinya dan sumpah, demi apapun ketika Mariska melihatnya, ia ingin mencium dengan liar pria itu lagi. Ezra tidak langsung kembali, melainkan bersandar di tembok, melipat lengannya di depan d**a. "Karir mu juga akan tamat, Nona Mariska Widagdo," balasnya tak mau kalah, enak saja wanita ini terus-terusan menyudutkannya. “Kamu lupa? Kamu bukan hanya perempuan biasa di ranjang ini. Kamu adalah Mariska dari program talkshow politik Catatan Publik, wajah yang dipercaya ratusan bahkan jutaan orang setiap malam. Jika skandal ini terkuak, kita akan tenggelam bersama, Sayang.” Ia mendesah, matanya menatap Mariska tanpa mengedip sama sekali. “Lalu, apa bedanya kita? Kamu juga bagian dari media yang saya takuti, dan saya bagian dari dunia yang selalu kamu beritakan dengan sinis. Dalam hal ini, kita sama-sama punya banyak hal yang bisa hilang dalam sekejap. Jadi, jangan sok-soan mengancam saya.” Ruangan kembali sunyi. Hanya desisan AC yang terdengar. Mariska menelan ludah. b******n sekali, perkataan Ezra menusuk tepat pada inti ketakutan terpendamnya. Ini bukan sekadar one night stand yang sembrono. Ini juga berarti rahasia yang berisiko tinggi antara dua orang yang hidupnya berada di bawah sorotan. “Alright. Kita sepakat soal risikonya,” Mariska tanpa malu menyingkap selimut, melangkah pelan ke arah pakaian dalamnya yang masih tergeletak di karpet hotel. Ia mengenakannya dengan gerakan yang sedikit dipercepat. Sebab dari ujung matanya, ia melihat Ezra masih berdiri di sana, bersandar di tembok, dan mata gelap pria itu mengikuti setiap gerakannya. “Aku harap masih ada taksi jam segini,” katanya sambil mencari gaun yang tadi ia pakai, namun lebih dari itu sebetulnya hanya untuk mengisi keheningan. “Tapi ini Singapura. Negara yang nggak pernah tidur. Mungkin lebih mudah cari taksi di sini daripada di Jakarta.” Ezra terdiam sejenak, mengamatinya. Lalu, dengan tenang, ia meninggalkan sandarannya. Ia berjalan mendekat ke arah tepi kasur dan duduk di sana, masih memperhatikan Mariska yang sedang berpakaian. “Kamu tidak akan naik taksi.” Mariska berhenti, tangan itu masih memegang gaun hitamnya. Ia menoleh. “Maksudnya gimana? Aku tetap disini sama kamu atau jalan kaki ke hotelku?” “Pengawal saya yang akan mengantarmu pulang. Ke hotel tempat timmu menginap.” Ezra menyilangkan kaki, sikapnya santai tapi terkesan memutuskan setiap pilihan yang ingin diambil partner cinta satu malamnya ini. “Saya tidak akan membiarkan wanita yang baru saja berbagi ranjang dengan saya pulang sendirian di tengah malam. Kejahatan ada dimana-mana, terlebih ini bisa jadi jejak yang mudah dilacak dari pertemuan kita.” Mariska mengerutkan kening. Dia melanjutkan memakai gaunnya, menarik ritsleting di samping dengan sedikit usaha. “Come on,” ujarnya sambil membenarkan gaun di tubuhnya. “Jangan perlakukan aku seperti sugar baby atau wanita panggilan. Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah dewasa.” Iris mata Mariska yang tajam bertemu dengan pandangan Ezra. Pria itu hanya menghela napas panjang, seperti lelah dan tak ingin berdebat lebih jauh. “Jangan keras kepala,” kata Ezra. Suaranya tidak meninggi, tapi ada nada keputusan final di dalamnya. “Ini bukan negosiasi. Ini juga bukan permintaan. Tapi ini perintah saya ke kamu. Cukup menurut saja. Jangan buang-buang waktu lebih lama lagi. Kita sama-sama ingin cepat selesai, dan bersikap seolah asing setelahnya.” Mariska menatap Ezra. Ada keinginan untuk membantah, untuk mempertahankan perkataannya barusan. Tapi logika di kepalanya berkata lain. Dia membenci bahwa Ezra sekali lagi masuk akal. Dia juga membenci perasaan lega yang perlahan menyelimuti hatinya. Lega karena semuanya tampak mudah, ia hanya tinggal manut saja. Ugh, ia lupa sejenak title Wanita independent itu. “Oke,” akhirnya ia menjawab, suaranya tanpa sadar lirih. Kekalahan kecil itu terasa pahit tapi juga lambat laun manis yang tak bisa ia jelaskan. “Lakukan sesuai keinginan kamu, Mr. Minister, duh.” Dia mengambil clutch kecilnya dari meja samping, lalu berbalik untuk mencari sepatu hak tingginya. Dari balik punggung, mungkin Ezra tersenyum. Tapi Mariska tidak peduli. Dia hanya ingin keluar dari sini, kembali ke dunianya yang teratur, dan berusaha melupakan bahwa malam ini pernah terjadi. It was just a one-night stand, nothing more.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

A Warrior's Second Chance

read
274.7K
bc

Unscentable

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
837.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
552.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.0M
bc

Not just, the Beta

read
294.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook