Bab 2. Sangkar emas

1374 Words
“Jangan membuat Garran marah, Sienna. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah ini, apa pun yang terjadi. Ingat, sekarang hanya di sinilah tempatmu. Jangan menyusahkan Ibu lagi.” Kalimat itu terus terngiang di telinga Sienna bahkan setelah mobil yang mengantar ibunya meninggalkan halaman rumah besar di hadapannya. Perempuan itu masih berdiri di ambang pintu dengan satu tangan menggenggam alat bantu jalannya. Tatapannya mengikuti mobil sang ibu hingga menghilang di balik gerbang tinggi yang perlahan tertutup. Tidak ada pelukan perpisahan yang hangat, tidak ada kalimat penyemangat, apalagi janji bahwa ia boleh pulang kapan saja jika merasa tidak sanggup menjalani kehidupan barunya. Yang ada hanya pesan agar ia tidak membuat masalah. Sienna menunduk, menyembunyikan kesedihan yang kembali mengendap di dadanya. Ia tahu ibunya tidak benar-benar menginginkan dirinya menderita. Namun, sejak kecelakaan yang merenggut kemampuan kakinya, sikap sang ibu perlahan berubah. Perhatian yang dahulu terasa hangat kini sering kali bercampur dengan rasa lelah, seolah keberadaan Sienna menjadi pengingat atas sesuatu yang tidak ingin lagi dipikirkan oleh keluarganya. Dan sekarang, ketika Stefi melarikan diri dari pernikahan yang sudah direncanakan, Sienna kembali menjadi orang yang harus berkorban. Ia menggantikan posisi adiknya, menikahi lelaki yang tidak dicintainya, lalu ditinggalkan begitu saja di rumah yang bahkan belum dikenalnya. Sienna menarik napas pelan sebelum mengalihkan pandangan ke bangunan megah di hadapannya. Rumah itu begitu besar, dengan halaman luas,, dari luar saja, siapa pun akan mengira pemiliknya menjalani kehidupan yang sempurna. Segala sesuatu tampak mahal dan terawat. Namun, kemewahan itu tidak memberikan rasa nyaman sedikit pun kepadanya. Ia justru merasa seperti orang asing yang tersesat di tempat yang salah. “Nona Sienna?” Seorang perempuan paruh baya muncul dari dalam rumah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna lembut dengan rambut yang disanggul rapi. Senyumnya ramah ketika menghampiri Sienna dan menawarkan bantuan untuk membawa barang-barang yang masih tertinggal di dekat pintu. “Silakan masuk, Non. Saya sudah menyiapkan kamar Nyonya.” Nyonya. Sapaan itu terasa asing di telinga Sienna. Sejak tadi pagi, orang-orang terus memanggilnya dengan sebutan tersebut. Padahal, ia sendiri belum merasa benar-benar menjadi seorang istri. Pernikahan itu berlangsung tanpa kehangatan, dan selama satu minggu setelah akad, Garran bahkan tidak pernah berusaha mengenalnya lebih jauh. Lelaki itu hanya hadir ketika prosesi pernikahan berlangsung. Setelahnya, ia menghilang dengan alasan pekerjaan, meninggalkan Sienna bersama keluarga yang perlahan menjauh darinya. “Terima kasih,” jawab Sienna lirih. Pelayan itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Bu Rini, orang yang bertanggung jawab mengurus kebutuhan rumah tangga. Dengan sabar, ia membantu Sienna memasuki rumah dan menunjukkan beberapa ruangan yang mungkin akan sering digunakannya. Sienna mengamati setiap sudut dengan perasaan canggung. Lantai marmer yang mengilap, sofa besar di ruang keluarga, lukisan mahal di dinding, hingga lampu gantung yang menjuntai dari langit-langit tinggi membuatnya merasa semakin kecil. Ia bertanya-tanya, apakah Garran akan memperlakukannya sebagai seorang istri atau sekadar perempuan asing yang kebetulan tinggal di rumahnya. Pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban. Sebab sejak kedatangannya hingga siang berlalu, Garran tidak pernah menampakkan diri. “Maaf, Bu. Apa Garran sedang berada di luar kota?” tanya Sienna akhirnya. Bu Rini yang sedang merapikan beberapa barang menoleh. “Tuan sudah pulang sejak beberapa hari lalu, Non. Hanya saja, beliau memang jarang berada di rumah. Biasanya berangkat pagi dan pulang tidak tentu.” Sienna mengangguk kecil. Ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ada sedikit kelegaan karena setidaknya Garran tidak sedang berada di rumah. Namun, bersamaan dengan itu, ia juga merasakan kehampaan yang sulit dijelaskan. Mereka baru menikah. Bukankah seharusnya Garran ingin mengetahui seperti apa perempuan yang kini menjadi istrinya? Setidaknya menanyakan apakah Sienna sudah makan, apakah ia nyaman tinggal di rumah tersebut, atau apakah ada sesuatu yang dibutuhkannya. Namun, Sienna segera menepis pemikiran itu. Ia tidak seharusnya mengharapkan apapun dari lelaki tersebut. Pernikahan mereka bukan berawal dari cinta. Garran bahkan seharusnya menikahi Stefi, bukan dirinya. Jadi, mungkin keberadaannya memang tidak lebih dari pengganti yang terpaksa diterima karena keadaan. Sienna memilih beristirahat di kamar yang disiapkan untuknya. Ruangan itu luas dengan tempat tidur besar, lemari pakaian yang memenuhi salah satu sisi dinding, serta balkon yang menghadap taman belakang. Semua terlihat indah, tetapi tidak ada satu pun yang membuatnya merasa berada di rumah sendiri. Ia duduk di tepi ranjang, kemudian memandangi kaki kirinya yang masih membutuhkan bantuan untuk menopang tubuh. Ada kalanya ia membenci keadaan itu, bukan karena merasa dirinya tidak berharga, melainkan karena sejak kecelakaan tersebut, orang-orang di sekitarnya seolah menganggap ia tidak lagi mampu menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahkan untuk urusan pernikahan, ia tidak diberi kesempatan memilih. Sienna mengusap perlahan permukaan gaunnya yang sudah berganti menjadi pakaian sederhana. Ia ingin menangis, tetapi air matanya seperti telah habis. Mungkin memang sudah waktunya ia berhenti berharap. Menjelang sore, suara deru mesin terdengar dari halaman depan. Sienna yang sedang duduk di ruang keluarga spontan menoleh ke arah jendela. Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman, kemudian berhenti tepat di depan pintu utama. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Garran pulang. Entah mengapa, ia mendadak gugup. Ia merapikan rambutnya yang tergerai, lalu mencoba memperbaiki posisi duduknya. Ada dorongan untuk menyambut suaminya sebagaimana seorang istri seharusnya menyambut lelaki yang baru pulang bekerja. Meskipun pernikahan mereka tidak dilandasi cinta, Sienna tetap ingin menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Ia tidak ingin memberikan alasan bagi Garran untuk membencinya. Garran keluar dengan kemeja gelap dan celana panjang yang membuat penampilannya terlihat begitu rapi. Wajahnya tampan, tetapi ekspresinya dingin. Ia berjalan menuju pintu rumah tanpa tergesa-gesa, sementara Sienna berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyapanya. Namun, sebelum lelaki itu mencapai pintu, seseorang keluar dari sisi penumpang. Seorang perempuan. Perempuan itu cantik, dengan rambut panjang yang tergerai, pakaian modis, dan tas bermerek yang tersampir di bahunya. Ia tersenyum akrab kepada Garran sebelum berjalan menyusulnya. Sienna terdiam. Tatapannya berpindah dari perempuan itu kepada Garran. Ia menunggu, berharap lelaki tersebut akan memberikan penjelasan atau setidaknya memperkenalkan siapa perempuan yang datang bersamanya. Namun, Garran sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk melakukannya. Ia masuk ke rumah, melirik Sienna sekilas, lalu kembali melangkah seolah perempuan yang duduk di ruang keluarga itu tidak lebih dari sebuah perabotan. Sienna menggenggam ujung bajunya. Ia menahan diri agar tidak terlihat terlalu terkejut ketika perempuan asing itu ikut masuk dan berjalan tepat di belakang Garran. “Garran, aku ingin istirahat sebentar,” ujar perempuan itu dengan suara manja. “Naik saja. Kamarku masih sama,” jawab Garran singkat. Langkah Sienna seketika terhenti. Kalimat itu terdengar begitu biasa bagi keduanya, seolah perempuan tersebut sudah sering datang ke rumah itu dan mengetahui letak setiap ruangan di dalamnya. Tanpa menghiraukan Sienna, Garran menaiki tangga. Perempuan itu mengikutinya, bahkan sempat melemparkan pandangan sekilas kepada Sienna sebelum menghilang di balik lorong lantai atas. Beberapa detik kemudian, suara pintu kamar tertutup terdengar samar. Sienna masih duduk di tempat yang sama. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan, tetapi ia tidak berani menyimpulkan apa pun. Perempuan itu mungkin teman Garran, rekan bisnisnya, atau seseorang yang memang sudah dekat dengannya sejak lama. Namun, ada satu hal yang tidak bisa diabaikan. Garran membawa perempuan lain ke rumah mereka tanpa merasa perlu menjelaskan apa pun kepada istrinya dan yang lebih menyakitkan, lelaki itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun rasa sungkan. Sienna menunduk. Jemarinya perlahan meremas kain di pangkuannya. Ia teringat pesan ibunya sebelum pergi. Jangan membuat Garran marah. Jangan menyusahkan Ibu lagi. Kalimat itu membuatnya mengurungkan niat untuk naik dan bertanya. Ia tidak tahu bagaimana Garran akan bereaksi jika dirinya mempertanyakan siapa perempuan tadi. Ia juga tidak tahu apakah lelaki itu akan menganggap pertanyaannya sebagai bentuk kecemburuan atau keberanian yang tidak pada tempatnya. Sienna tidak ingin memulai pertengkaran pada hari pertamanya tinggal di rumah tersebut. Ia sudah cukup kehilangan banyak hal. Ia tidak ingin kehilangan satu-satunya tempat yang sekarang bisa ditinggali, meskipun tempat itu belum tentu memberikan rasa aman. Bu Rini menghampirinya dengan wajah yang tampak ragu. “Non, apa perlu saya siapkan makan malam?” Sienna tersentak kecil, kemudian menggeleng. “Tidak perlu, Bu. Saya belum lapar.” Padahal sejak siang ia belum makan dengan benar. Namun, bagaimana mungkin ia bisa memikirkan makanan ketika pikirannya dipenuhi oleh kenyataan bahwa lelaki yang kini menyandang status sebagai suaminya bahkan tidak menganggap kehadirannya penting? Sienna kemudian meminta bantuan Bu Rini untuk kembali ke kamar. Ia tidak ingin terus duduk di ruang keluarga dan mendengar suara yang mungkin akan membuat hatinya semakin tidak nyaman. Sienna sadar bahwa pernikahan yang baru saja dijalaninya tidak akan menyerupai rumah tangga yang pernah ia bayangkan. Tapi Neraka dengan nama rumah tangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD