Bab 23

2491 Words

Pagi menjemput dengan cahaya yang menembus tirai tipis, menimpa ruang tamu yang masih menyimpan hawa malam panjang. Sofa yang sempit dan bantal tidak pada tempatnya, bukti kalau semalaman sofa itu dipakai lebih dari sekadar tempat duduk. Bening membuka mata perlahan. Pandangannya kabur sesaat, hanya garis-garis cahaya yang menembus kelopak matanya. Saat ia berkedip, perlahan fokusnya kembali. Dan yang pertama ia sadari, kepalanya bersandar di bahu Banyu. Lengan Banyu melingkar longgar di pundaknya, hangat dan berat, sesuatu yang asing sekaligus menenangkan. Kesadaran itu membuat dadanya berdebar tak karuan. Hampir tidak pernah, bahkan bisa dibilang tidak pernah ia merasa dipeluk seperti ini sejak menikah. Bening mengedip cepat, buru-buru menegakkan tubuh. Ia ingin bergerak pelan, hati-ha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD