6. Mantan Suami Ingin Membunuhku

1143 Words
Malam itu, mansion Falcone kembali tenggelam dalam keheningan yang menekan. Nicolas, masih menahan amarah dari pertemuan makan malam sebelumnya, berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Telepon di tangannya mati rasa. Setiap kata Citra yang ia dengar sebelumnya menusuk hatinya, tapi bukan dengan rasa takut lebih pada keteguhan yang membuatnya ingin mengendalikan segalanya. Namun, di sisi lain, Gwen duduk di kamarnya, tubuhnya terlihat tenang, tapi pikirannya bergerak lebih cepat dari biasanya. Ia meneliti denah mansion yang tersimpan di ponselnya, mengingat setiap lorong, setiap pintu rahasia yang pernah ia lihat. Lorong servis di sisi barat jalur itu adalah satu-satunya celah. “Aku harus memastikan tidak ada yang melihatku malam ini,” gumam Gwen pelan. “Tidak satu pun pelayan atau penjaga akan sadar sampai aku jauh dari sini.” Ia menarik napas panjang, kemudian berdiri dan membuka lemari lagi. Kali ini, bukan untuk memilih pakaian tapi untuk mengambil sepasang sepatu datar hitam dan jaket tipis yang dapat membantunya bergerak cepat tanpa membuat suara. Tas kecilnya sudah siap, berisi dokumen penting, ponsel cadangan, dan uang tunai. Langkah kaki Nicolas semakin keras terdengar, mendekat ke lorong yang menuju kamar Gwen. Tapi Gwen sudah menunggu di tempatnya. Dengan napas yang terkontrol, ia mematikan lampu kamar dan berbaring di tempat tidur, membuat tubuhnya terlihat tertidur. “Jangan tertipu dengan penampilan,” gumamnya dalam hati. “Mereka pikir aku lemah. Mereka pikir aku takut. Mereka salah.” Nicolas tiba di depan pintu, menatapnya sebentar, dan menunduk untuk melihat bayangan tubuh yang seolah tertidur. Ia menggertakkan giginya, memaksa dirinya untuk pergi, tapi hatinya tetap waspada. “Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu,” gumamnya, lalu berbalik meninggalkan kamar. Begitu suara langkahnya menghilang di lorong, Gwen segera duduk perlahan, menarik napas, dan merayap ke arah jendela kecil di sudut kamar yang jarang digunakan. Di luar, gelap malam menutupi halaman mansion, memberi Gwen kesempatan yang sempurna untuk memulai pelariannya. Namun, saat ia membuka jendela, sebuah bayangan hitam melintas di taman, terlalu cepat untuk dilihat jelas. Gwen berhenti, menahan napas. Intuisi kerasnya berkata ini bukan satpam biasa ini seseorang yang sengaja mengintai. “Tidak masalah,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku sudah siap.” Dengan gerakan cepat tapi tenang, Gwen menuruni jendela dan mendarat di tanah basah oleh embun malam. Angin malam menampar wajahnya, menyegarkan adrenalin yang kini membara. Ia bergerak ke arah lorong barat, menghindari lampu taman dan kamera keamanan. **** Di dalam mansion, Nicolas menatap layar monitor kamera pengawas, dan sebuah kilat kerutan muncul di dahinya. Beberapa kamera menangkap bayangan seseorang bergerak cepat. “Apa dia mencoba kabur?” Suara Nicolas berat, campuran marah dan ketakutan yang tidak ingin ia akui. Sementara itu, Gwen berhasil menyusup ke lorong servis. Setiap langkahnya membawa hati berdegup lebih kencang, tapi ia tidak berhenti. Setiap pintu rahasia, setiap celah yang pernah ia pelajari, kini menjadi jalan menuju kebebasannya. Dan saat ia mencapai ujung lorong, di depan sebuah pintu besi tua yang biasanya terkunci, ia tersenyum tipis. “Ini dia,” bisiknya. “Jalan keluar dari neraka mereka.” Ia menekan kunci rahasia yang hanya ia ketahui, dan pintu berderit perlahan terbuka. Di luar, malam menunggu, penuh kemungkinan dan ancaman. Gwen melangkah keluar, meninggalkan mansion dan meninggalkan Nicolas, Citra, dan seluruh dunia yang pernah mengira bisa mengendalikan hidupnya. **** Di kejauhan, cahaya bulan menyinari jalannya. Tapi Gwen tahu, ini baru awal. Kebebasan hanyalah langkah pertama. Balas dendam, keadilan, dan rencana besar masih menunggu. Dan malam ini, Gwen de luca memulai babak baru. Di luar, Gwen melangkah cepat melalui hutan di belakang mansion. Napasnya berat, tapi langkahnya mantap. Ia tahu, Nicolas akan mengejarnya, dan kali ini, ia bukan sekadar mencoba melarikan diri ia sedang dikejar pembunuh. Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar di jalan samping mansion. Lampu sorot menembus gelap. Nicolas keluar, pistol di tangan, wajahnya tegap namun mata kosong tak ada belas kasihan. “Gwen De Luca,” suaranya terdengar keras, seram, penuh kemarahan yang dipaksa. “Citra memintaku … dan aku tidak akan gagal.” Gwen menahan napas, menunduk di balik semak-semak. Setiap langkah Nicolas mendekat seperti jarum yang menghitung detik kematiannya. Ini bukan permainan. Gwen sadar itu. Ia menarik napas panjang, otaknya berpikir cepat jalan keluar dari hutan, cahaya di kejauhan, jalan utama. Hanya itu satu-satunya harapan. Tiba-tiba, Nicolas menembakkan pistolnya. Peluru pertama menghantam batang pohon dekat Gwen, serpihan kayu beterbangan, membuat tanah di sekitarnya berguncang. “LARI...!!!” teriak Nicolas, matanya dingin, tangan tetap menembakkan. Gwen berlari sekuat tenaga, menunduk di antara semak, melompati akar pohon, adrenalin membuatnya hampir tak merasakan sakit. Di kejauhan, cahaya lampu mobil truk menyilaukan malam. Gwen menengok sekejap, kemudian melompat ke jalan, tubuhnya terhuyung, berlari menepi. Nicolas muncul di ujung hutan, menembakkan beberapa kali lagi, tapi dia terpaksa berhenti karena kendaraan di jalan bukan karena rasa takut, tapi karena kesempatan untuk membunuh tidak boleh terbuka di depan umum. Gwen terguling ke sisi jalan, napasnya hampir habis, tubuhnya lecet, tapi matanya menyala oleh tekad. Nicolas menatap dari hutan, pistol masih di tangan. “Lari sejauh apa pun ..., aku akan menemukanmu, dan aku akan melakukannya demi Citra,” gumamnya, suara seram dan dingin, penuh dendam yang dipaksa. Gwen menatap gelap di depan, tahu satu hal malam ini bukan hanya pelarian. Ini adalah awal dari permainan maut yang Nicolas mainkan atas perintah Citra dan ia harus lebih cepat, lebih cerdas, atau mati. Gwen berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya lecet oleh semak dan akar pohon. Cahaya lampu truk yang melaju di jalan utama kini semakin dekat. Tanpa berpikir panjang, ia melompat ke tepi jalan, menahan diri agar tidak terjatuh. Truk itu hampir melewatinya. Dengan insting yang tajam, Gwen meloncat ke sisi belakang bak truk yang terbuka. Tangan dan kakinya tergelincir sebentar karena basah oleh embun, tapi ia berhasil mencengkeram sisi bak truk dan memanjat ke atas. Truk melaju kencang, getarannya membuat Gwen hampir kehilangan keseimbangan. Napasnya tercekat, jantungnya seperti hendak meledak. Ia menunduk, menyembunyikan tubuhnya di balik tumpukan kotak dan palet kayu, menahan diri untuk tidak membuat suara sedikit pun. Di belakang hutan, Nicolas muncul, pistol di tangan. Ia menatap jalan yang kini hanya terlihat kosong Gwen telah lenyap. Matanya menyala, penuh amarah dan frustrasi. Ia menggeram pelan, menggigit bibir, merasakan dorongan gelap dari Citra: “Pergilah dan selesaikan tugasmu.” Sementara itu, truk semakin menjauh, membawa Gwen sedikit demi sedikit keluar dari jangkauan Nicolas. Angin malam menampar wajahnya, rambutnya terurai liar, tubuhnya masih gemetar, tapi adrenalin membuatnya tetap fokus. Gwen menatap jalan yang terbentang di depannya, napasnya berat tapi tekadnya semakin menguat. Ia tahu ini baru langkah pertama. Masih ada Nicolas di belakang masih ada Citra yang mengatur segalanya. “Tunggu saja,” gumam Gwen dalam hati, sambil menahan tangan agar tidak tergelincir. “Aku akan selamat malam ini … dan suatu hari, kalian berdua akan menyesal karena menganggap aku mudah dikalahkan.” Truk melaju semakin jauh, meninggalkan mansion di belakangnya, dan membawa Gwen menuju malam yang penuh ketidakpastian … tapi juga harapan sekecil apapun untuk hidup dan membalas dendam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD