11. Pria Yang Hangat

1340 Words

Seminggu kemudian, Gwen telah kembali pulih. Luka di tubuhnya masih menyisakan rasa perih sesekali, namun ia sudah mampu berdiri dan berjalan tanpa bantuan. Malam itu, hujan turun tipis ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang tidak terlalu tinggi, jauh dari kemewahan mansion mana pun. Maxim membuka pintu mobil dan membantu Gwen turun dengan hati-hati. “Kita sampai,” ucapnya pelan. Apartemen itu berada di lantai tiga. Lorongnya sempit, cat dindingnya sudah sedikit pudar. Ketika pintu dibuka, terlihat ruang kecil yang bersih dan rapi sofa abu-abu sederhana, dapur mungil dengan lampu kuning hangat, dan sebuah kamar tidur di ujung ruangan. Maxim terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. “Aku tahu tempat ini jauh dari kata mewah,” katanya akhirny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD