Pagi itu, matahari menembus jendela besar mansion De Luca, menyorot lantai marmer yang bersih dan ruangan luas yang biasanya penuh ketenangan keluarga.
Tapi pagi ini, ketenangan itu terasa rapuh. Gwen melangkah masuk, langkahnya mantap, tapi matanya memancarkan ketegangan.
Pelayan yang melihatnya memberi hormat ringan, tetapi Gwen sama sekali tidak peduli. Ia datang bukan untuk bersantai, bukan untuk menyapa, tetapi untuk mengambil keputusan yang akan mengguncang keluarga dan aliansi mafia mereka.
Di ruang tamu, ayahnya, Don Lorenzo De Luca, duduk di kursi besar, membaca dokumen bisnis. Saat Gwen melangkah masuk, pandangannya langsung bertemu mata putrinya.
“Gwen ,” suara ayahnya berat, tetapi datar. “ Ada apa pagi-pagi seperti ini kemari? Dimana suamimu?!”
Gwen menarik napas, menahan amarah, kecewa, dan rasa sakit yang membara di dadaa. Ia menatap ayahnya dengan tenang, meski hatinya berdetak cepat.
“Papa, aku ingin bercerai dari Nicolas,” ucapnya, suaranya dingin tapi tegas.
Don Lorenzo menurunkan dokumennya perlahan. Matanya menatap putrinya dengan tajam, mencoba membaca apakah ini hanya kemarahan sesaat atau keputusan yang sudah matang.
“Bercerai? Dari Nicolas?! Kau tahu ini bukan keputusan yang bisa kau ambil begitu saja, Gwen. Pernikahan kalian adalah aliansi bukan soal cinta,” katanya, nadanya tegas tapi tetap menahan gelombang emosinya.
Gwen mengangkat dagunya. “Aku tahu itu, pa!! Tapi aku tidak bisa terus berada dalam pernikahan ini. Aku tidak pernah merasa dihargai sebagai wanita, sebagai putrimu atau sebagai manusia. Aku bisa hidup tanpa Nicolas. Aku bisa mengambil alih hidupku sendiri!!!"
Don Lorenzo menghela napas panjang, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang menegangkan. “Ini bukan soal perasaanmu, Gwen. Pernikahanmu dengan Nicolas adalah aliansi keluarga. Kau pikir kau bisa memutuskan begitu saja tanpa memikirkan konsekuensi?!” ucap Don Lorenzo dengan nada bariton.
Gwen menelan ludah. Ia tahu tidak akan ada jalan untuk membujuk Papanya dengan kata-kata manis. Yang ia bisa lakukan hanyalah menatapnya dengan tekad yang serius dan tidak main-main.
Tiba-tiba langkah ringan terdengar dari belakang. Lady Selina, ibu tirinya, muncul dengan senyum manis menempel di wajahnya senyum yang terlalu sempurna untuk dipercaya.
"Ohh,, Gwen sayangku,” suaranya lembut, pura-pura perhatian sambil menepuk lengan Gwen. “Jangan bersedih, Papamu hanya keras karena ia peduli. Kau tahu ia mencintaimu … bukan?”
Gwen menatap ibu tirinya tanpa ragu, matanya menusuk tajam, penuh kemarahan yang terpendam. “Jangan pura-pura baik kepadaku, Selina,” suaranya dingin tapi tegas. “Aku sudah tahu kebusukanmu dan anakmu. Kau hanya mengincar harta Papaku, dan anakmu … Citra, menginginkan suamiku.”
Selina tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Ohh, Gwen … kau selalu terlalu keras kepala. Kau pikir kau bisa menilai semua orang begitu saja?!”
Gwen tidak mundur. “Aku tahu siapa kau sebenarnya. Dan jangan harap aku akan diam membiarkan kalian mengambil apa yang bukan milik kalian!!!”
Don Lorenzo menatap putrinya dengan mata yang membara, ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya. Setiap kata Gwen seperti pisau yang menembus kesabaran seorang pria yang sudah terbiasa dikagumi dan ditakuti.
“Cukup!!!” bentak Don Lorenzo tiba-tiba, suaranya bergemuruh di ruang tamu. Tanpa peringatan lebih lanjut, tangannya menampar pipi Gwen dengan keras.
Gwen menundukkan kepala sejenak, rasa panas menyebar di pipinya. Kejadian itu memicu campuran sakit, marah, dan tekad yang membara di dalam dirinya. Tapi matanya tetap menatap Papanya, tidak lari, tidak takut.
“Gwen … kau terlalu berani, terlalu keras kepala,” kata Don Lorenzo dengan napas berat, tangannya masih menggantung di udara seolah menahan dorongan untuk menampar lagi. “Kau pikir kau bisa melawan dunia ini dan keluargamu sendiri?!”
Gwen mengangkat dagunya, menatap Papanya dengan tatapan yang membara. Rasa sakit dan kemarahannya tidak bisa ditahan lagi. Suaranya dingin, tegas, seperti pedang yang siap menebas.
“Papa, dan kau Selina, aku tahu, kalian berdua adalah penyebab kematian Mamaku.”
Don Lorenzo mengerjapkan mata, wajahnya memerah, tapi ia mencoba menahan amarahnya. “Gwen … jangan ucapkan hal-hal yang tidak seharusnya!!!”
Gwen tidak mundur. Suara dan matanya tetap menantang. “Aku tidak mengatakan hal-hal yang salah! Semua yang terjadi, semua penderitaan Mamaku, itu karena kalian! Dan suatu saat nanti, aku akan membalaskan perbuatan kalian. Aku akan membuat kalian menyesal telah memperlakukan Mamaku, aku dan hidupku seperti ini!!!”
Ruangan itu sunyi sejenak. Hanya ada napas berat dan ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau. Lady Selina menatap Gwen dengan mata yang tampak polos, tapi Gwen tahu itu hanyalah topeng. “Ohh, Gwen … kau begitu dramatis.” katanya pelan, tapi ada nada dingin tersembunyi di balik kata-katanya.
Don Lorenzo melangkah mendekat, jarak di antara mereka kini hanya beberapa langkah. Suaranya diturunkan, tetapi justru terdengar lebih berbahaya.
“Gwen,” katanya perlahan, penuh peringatan. “Jaga batasanmu. Kau masih bagian dari keluarga ini, dan selama itu pula kau harus patuh pada aturan yang sudah kutetapkan!!!"
Gwen mengerutkan kening, menatap ayahnya tanpa gentar. “Aturan Papa?” tanyanya dingin. “Atau aturan yang Selina ciptakan untuk mengikatku?”
Sorot mata Don Lorenzo mengeras. “Jangan memutarbalikkan keadaan. Kau tidak punya kebebasan untuk bertindak sesuka hati!!! Hidupmu, keputusanmu, bahkan masa depanmu semuanya membawa nama De Luca. Dan nama itu menuntut kepatuhan.”
Lady Selina melangkah maju, berdiri di sisi Don Lorenzo seperti bayangan yang setia. “Kau seharusnya bersyukur, Gwen,” ujarnya lembut tapi menusuk. “Tidak semua orang diberi tempat dan perlindungan seperti yang kau miliki.”
Gwen tertawa pelan. “Perlindungan?” Matanya berkilat tajam. “Yang ada hanya penjara berlapis emas!!!”
Don Lorenzo mengepalkan tangan. “Jika kau terus melawan, kau akan belajar bahwa dunia ini tidak ramah pada mereka yang menolak tunduk.”
“Aku tidak takut!!!" Gwen berkata pelan, tapi setiap kata terasa menohok. “Aku tidak akan pernah takut. Dan aku berjanji, suatu hari nanti, semua yang kalian lakukan akan dibayar. Kalian akan merasakan apa yang Mamaku rasakan dan aku akan berdiri di atas semua itu."
Gwen menatap sekali lagi Papanya dan ibu tirinya sebelum melangkah keluar dari ruang tamu. Setiap langkahnya mantap, seolah menegaskan satu hal, ia tidak akan pernah mundur.
Don Lorenzo tetap di kursinya, wajahnya memerah, napasnya berat. Ia menatap putrinya pergi, merasa marah sekaligus tak berdaya. Gwen tidak menangis, tidak meratap tidak seperti gadis kecil yang dulu pernah ia kenal. Kali ini, Gwen adalah musuh yang baru lahir di mata keluarganya sendiri.
Lady Selina menatap Gwen pergi dengan mata melebar. Senyum tipisnya kini pudar, digantikan rasa takut yang samar tapi menusuk. Rahasia yang selama ini dijaga dengan hati-hati kebusukan dirinya dan ambisi Citra terancam terbongkar.
Selina menggigit bibir, tangannya menempel di meja. Ia tahu, satu kata dari Gwen bisa menghancurkan semua rencana yang sudah ia susun bertahun-tahun. Kepura-puraan baiknya, senyum manisnya, semua itu kini berada di ambang kehancuran.
Di luar mansion, cahaya matahari menyinari wajah Gwen. Napasnya berat, tapi matanya tajam, penuh tekad. Ini bukan hanya soal pernikahannya atau Nicolas. Ini tentang balas dendam, tentang membersihkan nama ibunya, dan menunjukkan bahwa Gwen De Luca tidak bisa diremehkan.
Dalam hati Gwen, satu hal jelas, permainan baru dimulai. Dan ia akan bermain dengan caranya sendiri.
Lady Selina masih menatap pintu yang tertutup di belakang Gwen, pucat dan gemetar. Ia tahu, badai yang selama ini ia takutkan akhirnya datang dan ia tidak punya kendali lagi.