"Ap-apa! Shela bukan anak kandung Tante? Bagaimana mungkin?" Sean sungguh tidak percaya saat Devina mengatakan kalau Shela bukan anak kandungnya.
Devina mendekati Sean, dan mulai mendekatkan wajahnya pada leher Sean, hingga Sean memejamkan matanya menikmati setiap permainan bibir Devina di leher dan bahkan di dadanya, hingga tanpa sadar, Sean juga membalas setiap permainan bibir Devina di lehernya.
"Basah...
Bisik Sean yang memang V Devina sudah sangat basah.
"Sean, bantu aku, aku mohon! "pinta Devina yang memang sudah tidak tahan ingin mendapatkan hal yang lebih dari Sean.
Devina merubah posisinya bersandar pada wastafel di dapur, karena memang posisi mereka masih ada di dapur, meminta agar Sean melakukan hal yang lebih pada dirinya dengan posisi kesukaannya, membuat Sean benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.
Saat Sean ingin membuka celananya, ponselnya berdering, dan itu membuat Sean benar-benar sangat kesal. Tidak hanya Sean yang kesal, tapi Devina juga sangat kesal, karena keduanya sudah di kuasai oleh nafsu mereka.
Niat Sean ingin mengabaikan panggilan itu tidak jadi saat melihat ternyata orang yang menghubungi dirinya itu adalah Shela. Seketika kesadaran Sean kembali datang setelah melihat nama Shela.
Sean kembali membenarkan resleting celananya, dan mengelus b****g Devina yang tersaji bikin Sean ngiler.
"Aku harus pergi, Shela minta bertemu. "Ujar Sean dan langsung mengecup singkat b****g Devina sebelum pergi, membuat Devina benar-benar frustasi karena ia terpaksa harus main sendiri untuk menuntaskan hasratnya yang sudah terpancing.
Dengan terpaksa Devina menuntaskan hasratnya sendirian di kamar mandi, dan tentunya foto Sean yang menjadi saksinya, dimana Devina mendesah, memanggil nama Sean, meringis, berteriak penuh kenikmatan, hingga mencapai klimaksnya, hanya foto Sean yang dapat menyaksikan.
"Kak Sean pergi kemana? Aku nungguin dari tadi? "tanya Shela saat melihat Sean baru tiba di kantornya.
"Aku tadi ada urusan di jalan, jadi agak lambat, "jawab Sean
"Ada apa? "tanya Sean
"Kak, aku besok ikut berkemah ya, cuma 3 hari kok, "ujar Shela meminta izin untuk ikut kemah yang diadakan oleh kampus.
"Kemana? "tanya Sean
"Masih di kota ini juga kok, "jawab Shela
"Oh, tidak masalah kalau tidak jauh. "Jawab Sean memberi izin pada Shela, membuat Shela tersenyum puas karena sudah mendapat izin dari Sean. Shela memeluk Sean dengan sangat erat, merasa bahagia karena apapun yang menjadi keinginannya, selalu di penuhi oleh Sean.
ternyata urusan yang dianggap penting oleh Sheila hanya ingin meminta izin pada Sean soal kepergiannya untuk berkemah. karena Shela sudah mendapatkan izin dari Sean, akhirnya Sheila memutuskan untuk langsung ke kampus. Yah, Shela buru-buru berangkat ke kampus hanya untuk bertemu dengan Sean, dan tentunya untuk meminta izin pada Sean soal kepergiannya berkemah.
Karena sekarang juga sudah waktunya bekerja, jadi Saya memutuskan untuk langsung bekerja, dan mulai fokus pada pekerjaannya. saat Sean masih fokus dalam pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruangan Sean diketuk, dan setelah Sean mempersilahkan masuk, Egi pun masuk.
"Ada apa? "tanya Sean setelah Egi berdiri di depannya.
"Mohon maaf, Tuan. Saya hanya meminta izin untuk libur bekerja, karena saya ada acara keluarga di kampung. Dan kemungkinan saya butuh waktu beberapa hari, yang saya sendiri tidak bisa memastikan kapan itu, dan saya nanti malam juga tidak bisa menemani anda untuk lembur. "Ujar Egi asisten Sean, meminta izin untuk cuti bekerja karena ada acara di kampungnya.
" Baiklah. Tidak masalah. Untuk sementara ini aku akan menyeleksi orang yang pas untuk dijadikan sebagai sekretaris cadangan, biar nanti pada saat kamu bepergian atau ada halangan tidak bisa masuk atau menemaniku, aku ada penggantinya. "Ujar Sean memberi izin pada Egi membuat Egi tersenyum penuh keramahan.
"Terima kasih atas pengertian dan kemurahan hati Anda, Tuan Sean. Kalau begitu saya permisi dulu. "Ujar Egi yang langsung berpamitan untuk undur diri setelah ia mendapatkan izin dari Sean.
Setelah kepergian Egi, Sean mulai kepikiran siapa yang akan menjadi pengganti sementara selama Egi pulang kampung, karena tidak mungkin juga Sean akan mengurus atau menghandle pekerjaannya sendirian tanpa ada yang membantunya seperti adanya Egi.
Karena sekarang Sean mulai merasakan pekerjaan yang cukup padat saat Egi tidak membantu dirinya, akhirnya Sean memutuskan untuk mencari asisten atau sekretaris cadangan dan karena Egi juga perginya nanti malam, akhirnya Sean memutuskan untuk bekerja sendiri full seharian sampai lembur tanpa bantuan asisten, dan baru besok Sean memutuskan untuk mencari asisten cadangan jika Egi tidak bisa menemani dirinya.
Malam ini sekalipun Sean bekerja tanpa asisten, Sean benar-benar lembur, dan kebetulan juga Sean benar-benar sangat fokus dengan pekerjaannya, bahkan Sean sampai tidak mendengar suara ponselnya yang berdering sejak tadi karena terlalu fokus dengan pekerjaannya. Ternyata orang yang menghubungi Sean hingga berulang kali itu adalah Shela, dan karena Sean tidak menerima panggilan masuk dari Shela, akhirnya Shela langsung mengirim pesan pada Sean Kalau iya akan pergi bertema.
Sean tidak tahu kalau Shela berpamitan untuk berangkat berkemah karena Sean tidak menerima panggilan masuk dari Shela, hingga sampai Shela pergi, Sean masih belum mengecek ponselnya.
Sean yang terlanjur fokus pada kerjaannya, ia tidak sadar akan waktu yang ia lalui sudah cukup lama, hingga larut malam, Sean masih belum pulang dan masih betah di depan layar laptopnya serta tumpukan berkas di dekatnya.
Jam dua belas malam, Sean baru menghentikan pekerjaannya, dan itu karena Sean sudah mulai terasa lelahnya.
Sean mengambil ponselnya berniat untuk melihat jam tapi saat Sean melihat banyaknya panggilan tidak ia terima, serta pesan dari Shela, Sean langsung membuka isi pesan Shela karena Sean lebih tertarik untuk membuka pesan dari Shela di bandingkan menghubungi Shela balik, di tambah sekarang juga sudah sangat malam.
Sean tersenyum kecut saat membaca isi pesan dari Shela ternyata hanya sebuah kabar kalau ia telah pergi. Entah apa arti senyuman itu, padahal masih diberi kabar oleh Shela sudah beruntung, tapi kelihatannya Sean tidak begitu menyukainya.
"Yang penting kamu bahagia, Shela. Tadinya aku pikir, isi pesan ini merupakan sebuah perhatian, ternyata hanya memberitahu soal kesenangan kamu. "Gumam Sean dalam hati yang langsung meletakkan kembali ponselnya, dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya. Yah, ternyata Sean berharap di saat dirinya merasa lelah seperti yang ia rasakan saat ini, ia di perhatikan oleh Shela, setidak Shela memberi perhatian agar Sean tidak pulang malam dari kantor atau seenggaknya jangan lupa makan dan jaga kesehatan, sayangnya Sean tidak mendapatkan perhatian itu, hingga Sean merasa dirinya benar-benar sangat merasa lelah tanpa ada obatnya.
Saat Sean hampir saja ingin terlelap, tiba-tiba ponselnya berdering, dan Sean langsung mengambil ponselnya karena Sean pikir yang menghubunginya adalah Shela. Seketika senyum Sean redup, semangat Sean lenyap saat melihat ternyata yang menghubunginya adalah mama mertuanya.
Jujur saja, Sean sangat malas, karena Sean sedang merasa lelah, bukannya tunangannya yang menghubunginya, malah calon mertuanya yang menghubunginya. Tapi karena Sean tipe pria yang baik pada tunangannya, akhirnya Sean terpaksa menerima panggilan masuk dari Devina.
"Hallo, iya, Tante! "sapa Sean dengan penuh kesopanan pada calon mama mertuanya.
"Sean, lampu di rumah mati, bisa kah kamu ke rumah, Tante tidak bisa membenarkan sendiri, mau memanggil petugas pun sekarang juga sudah malam. Tolong ya, Tante takut kalau gelap! "ujar Devina yang langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, membuat kening Sean berkerut karena ia juga tidak mungkin ke rumah calon mertuanya kalau tidak ada tunangannya.
Disaat Sean masih sibuk berpikir, tiba-tiba ponselnya kembali berdering, dan ternyata tetap saja yang menghubunginya adalah Devina.
"Aku masih di jalan Tante, "kata Sean cepat
"Ah iya, baiklah. Hati-hati di jalan. "Kata Devina yang tiba-tiba membuat Sean tersenyum, dan itu tanpa Sean sadari.
Karena Sean sudah terlanjur bilang ada di perjalanan, akhirnya mau tidak mau, Sean pun terpaksa ke rumah calon mertuanya, meski sekarang tidak ada Shela di sana.
Karena sekarang waktunya sudah cukup larut, jadi di perjalanan, Sean tidak begitu kesulitan karena macet. Sean bisa sampai di rumah calon mertuanya dengan cepat karena perjalanan tidak macet seperti biasanya.
Sean menghentikan mobilnya di halaman rumah calon mertuanya, dan memang Sean melihat rumah calon mertuanya sangat gelap. Sean tidak langsung turun dari mobil. Entah apa yang ada dalam pikiran Sean, yang jelas saat ini Sean sedang melamun di dalam mobilnya, hingga dalam waktu yang cukup lama, Sean baru tersadar dari lamunannya, dan buru-buru keluar dari mobilnya.
Sean mengetuk pintu rumah calon mertuanya, namun tidak mendapat sahutan apapun dari dalam, hingga dengan terpaksa Sean masuk tanpa menunggu Devina membukakan pintu untuknya.
"Tante, ini aku Sean! "teriak Sean memanggil Devina setelah menutup pintu rumah Devina, dan memang, keadaan di rumah Devina sangat gelap, dan menurut Sean, cukup maklum jika Devina takut, karena Devina juga seorang wanita.
"Sean, aku ada di lantai 2, aku takut! "teriak Devina yang memang berasal dari lantai 2, dan dengan cepat Sean mencari posisi Devina.
"Tante..
Devina langsung memeluk Sean dengan sangat erat sebelum Sean menyelesaikan kalimatnya, hingga kalimat Sena terpotong karena Devina memeluk Sean.
"Kenapa lama, lampunya sejak tadi matinya. Cepat perbaiki, aku benar-benar takut, "kata Devina protes, membuat Sean langsung percaya kalau Devina memang takut akan kegelapan, karena Sean merasa tubuh Devina gemetaran, karena ketakutan.
"Tante tunggu di kamar Tante ya, biar aku liat dulu mungkin ada yang konslet. Aku antar Tante ke kamar Tante, "kata Sean
"Tapi aku takut sendirian Sean, "kata Debian yang memang jujur takut
"Baiklah. Tante berpegangan ya ikuti langkah aku, biar tidak jatuh. "Kata Sean seraya melepaskan pelukan Devina, karena selain ia kesulitan berjalan kalau di peluk, Sean juga kesulitan bernafas karena merasa gerah secara tiba-tiba. Jadi Sean memaksa Devina melepaskan pelukannya. Akhirnya Devina mengikuti langkah Sean dengan tangan yang sudah memeluk erat pinggang Sean, dan Sean pun mulai berjalan menuruni anak tangga dan menuju ke bagian belakang rumah Devina untuk melihat apakah ada kabel atau sesuatu yang konslet hingga membuat lampunya mati.
Benar saja, memang ada kabel yang putus, dan Sean pun mulai memperbaikinya, lalu tidak setelah itu, lampu mulai menyala, dan Sean bernafas lega.
"Sudah nyala. Tante bisa istirahat lagi, "kata Sean seraya melepaskan tangan Devina yang sejak tadi memeluk pinggangnya, dan Sean langsung tegang, kesulitan menelan air liurnya sendiri saat melihat pakaian tidur yang di pakai oleh Devina yang terlihat begitu sangat transparan. Sean semakin merasa tubuhnya panas saat matanya tidak sengaja melihat Dua gunung kembar Devina yang terlihat begitu sangat menantang, besar, dan terlihat sangat padat.
"Anterin ke kamar, sampai saat ini rasa takutku masih belum hilang, "pinta Devina yang entah kenapa, dengan mudahnya Sean langsung menuruti keinginan Devina.
"Baiklah. Aku antar Tante ke kamar Tante. "Kata Sean seraya kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar Devina, meski ia merasa kesulitan untuk berjalan, tapi Sean tetap memaksakan diri, agar Devina tidak menyadari perubahan dirinya yang mulai merasa aneh.
Sean mengantar Devina hingga Devina naik ke atas ranjang, dan Sean ingin langsung keluar, namun Devina dengan cepat menahan tangan Sean.
"Ada apa lagi, Tante? "tanya Sean yang sudah tidak kuat menahan gejolak pada dirinya.
"Tunggu sampai aku benar-benar tidur, aku masih takut, "pinta Devina
"Tapi Tante. Ini sudah sangat larut, aku tidak enak, takut Shela...
"Shela pergi. Kali ini aja aku minta tolong. "Kata Devina dengan penuh permohonan, membuat Sean kembali meneguk ludahnya saat tangan yang di pegang Devina tidak sengaja menyenggol salah satu gunung kembarnya.
Melihat Sean yang hanya diam saja, Devina pun kembali duduk, dan memeluk pinggang Sean, hingga kepala Devina tidak sengaja menyentuh naga besar Sean dibalik celananya.
"Ssshhttt, Tante! "Sean langsung memejamkan matanya saat naga di balik celananya semakin terasa sesak.
"Aku kalau tidak takut, sudah membiarkan kamu pergi. Tapi aku masih takut, siapa lagi yang aku harapkan selain kamu. "Kata Devina dengan kepala yang seperti sengaja bergerak, hingga membuat Sean tidak sengaja mendesah.
"Ahhh, Tante. Jangan seperti ini, aku takut lepas kendali. "Kata Sean yang diiringi dengan desahan. Devina langsung mengarahkan tangan Sean pada gunung kembarnya, hingga Sean dengan refleknya meremas gunung kembar Devina, dan Devina langsung menikmatinya. Sean yang memang pria normal mana tahan di kasih godaan gunung kembar seperti milik Devina, tentu saja Sean langsung memainkan gunung kembar Devina, hingga Sean langsung mendorong tubuh Devina, dan Sean menindihnya.
Tangan Devina langsung bergerak membuka resleting celana Sean, hingga Sean hanya tersisa CD saja, dan naga Sean langsung menyentuh V Devina yang masih terhalang kain transparan.
Sean semakin menggesekkan pusakanya pada V Devina, dan melumat bibir Devina dengan begitu rakusnya, begitupun juga dengan Devina yang bergerak liar menerima sentuhan Sean.
Sean menarik pakaian transparan Devina, dan terkejut saat melihat tubuh Devina langsung polos tanpa pakaian dalam.
"Aku memang tidak biasa memakai pakaian dalam. "Kata Devina dengan nafas yang sudah tidak beraturan. Sean langsung memainkan jarinya pada V Devina, hingga Devina mendesah penuh kenikmatan, dan Devina menarik kepala Sean untuk menikmati gunung kembarnya juga, membuat Sean benar-benar kehilangan kesadarannya. Sean langsung melepaskan semua pakaiannya sendiri, dan mengarahkan pusakanya pada V Devina yang terlihat sangat bersih dan indah.
"Ssshhttt, Ahhh... aku pengen di masukin, tidak kuat...