N*ked Apron

1011 Words

Pagi-pagi sekali, Dirga sudah memarkirkan motornya di depan rumah untuk mengantar Sintia pergi bekerja di pasar. Keduanya sudah siap dengan pakaian sederhana dan jaket untuk menghalau dingin yang menusuk kulit. Pria itu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali Sintia akan mengajaknya untuk bercengkrama. Tidak ada rasa menyesal yang Dirga rasakan karena telah menduakan Sintia. Dia begitu menikmati hubungan terlarangnya bersama putri istrinya itu. "Sepertinya Alana sudah menerima kamu, Mas." kata Sintia menumpukan dagunya pada pundak lebar Dirga. "Sudah berkali-kali kamu mengatakan hal itu, Sintia." balas Dirga tersenyum. "Aku masih belum percaya. Sewaktu aku pergi ke kota tempo hari lalu, kalian belum sedekat itu." Sintia kembali bersuara. "Aku memanfaatkan waktu itu den

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD