Alya menerima Amplop besar berwarna coklat. Ia membuka amplop tersebut dan mengambil kertas yang ada di dalamnya, sebuah surat panggilan dari pengadilan untuk memberikan kesaksian atas kejahatan yang Evan lakukan. Tangannya begitu gemetar saat mendengar nama pria itu lagi. Alya menelan salivanya kasar, keringat dingin keluar dari pelipisnya, wajahnya tampak terlihat pucat. Alya langsung teringat bagaimana Evan memperlakukannya saat itu. Melihat reaksi Alya, Rangga langsung duduk di sampingnya, dan menggenggam tangannya. "Hey, it's ok. Ada aku nanti di sana!" ucap Rangga berusaha menenangkan Alya. "Obat, obat aku di mana?" pinta Alya yang sedang mencari-cari obatnya. "Obat Kamu di mana biar gua ambilkan!" "Di kamar!" Alya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Rangga pun sege

