PROLOG
“Urang cek sebentar. Maneh di sini dulu. Kalau si Juno nggak ada, kita lanjut ke Bandung aja.”
“Kalau ada?”
“Ya maneh turun. Pake nanya sih!”
Ia mencengir singkat. “Oke, Kang!”
Tiga jam berkendara, aku mengaktifkan rem tangan. Mobil terparkir di depan jalan masuk ke kontrakanku. Gang itu terlalu sempit, hanya bisa dilalui motor dan pejalan kaki. Aku turun sendiri, berjalan sambil memeriksa ponsel. Pesanku ke Juno belum juga dibalas.
Rumah itu masih sama. Pagar merah. Catnya mulai pudar. Enam angka di gembok masih kuingat di luar kepala.
Klik.
Kunci terbuka. Pagar yang kudorong tak berderit, mungkin Juno sudah melumasi engselnya.
Samar alunan lagu dari dalam rumah menyapa pendengaranku. Lagu dari band lama yang tak ada bosannya diputar salah satu sahabatku itu.
“Ada di rumah ternyata. Tidur apa pingsan tuh orang?” gumamku.
Aku menjejak di teras.
Lalu terdiam.
Titik pandangku terpaku ke sepasang sepatu yang sangat aku kenali. Model yang sama dengan yang sedang aku pakai. Ada di sisi terdalam bawah kursi, mungkin yang menyimpannya berharap tak ada yang memperhatikan.
Sepatu couple. Ada bordir kecil di sisi luarnya: AE.
Aku menunduk sejenak, memastikan.
Benar, itu sepatu Erin.
Napasku tercekat. Perasaanku tak nyaman. Kemelut muncul di pikiranku.
Aku berdiri tegak kembali. Tanganku megoroh tas, mengambil ponsel, menelepon Juno.
Tersambung.
Namun tak diangkat.
Kucoba sekali lagi.
Sama, tetap tak diangkat.
Aku beralih ke nomor Erin. Ibu jariku nyaris mengetuk tombol panggil.
Urung.
Aku bahkan takut jika prasangka konyolku ternyata benar.
Kaki kupaksa kembali melangkah. Menuju gang kecil di samping rumah. Biasanya kami menjadikan tempat itu area menjemur baju berhubung paling aman dari terjangan hujan dan angin. Jendela kamar Juno ada di sana. Tirainya tertutup, namun tak rapat.
Aku mendekat.
Mengintip.
Dan... dunia yang sebelumnya terasa normal, runtuh begitu saja dalam sekedip mata.
Erin berada di atas ranjang.
Juno di atasnya.
Mereka bersatu.
Gerakan mereka sama sekali tak canggung.
Justru terlihat... terbiasa.
Erin tersenyum.
Dan itu yang paling menghancurkanku.
Bukan tubuh mereka yang polos tanpa sehelai penutup pun. Bukan pula aksi mereka yang tanpa sungkan.
Namun... senyumnya.
Aku memundurkan langkah. Berjalan tertatih.
Dadaku sesak. Napasku tertahan di tenggorokan. Suara-suara di sekitarku terasa menjauh. Tanganku gemetar, dan wajahku terasa kian kaku.
Di depan pintu rumah, aku berhenti lagi.
Sepasang sepatu itu tak bergeser sedikit pun.
Tanganku terangkat, mengetuk sesopan mungkin, lalu kepalan ini kupaksa diam di sisi tubuh.
“Siapa?” sahut Juno dari dalam.
Aku diam.
Langkah kaki terdengar mendekat. Lalu... pintu terbuka.
Juno berdiri di depanku. Rambutnya berantakan. Kausnya terbalik. Napasnya masih memburu. Bibirnya sedikit bengkak dengan bekas lipstik yang samar di sekelilingnya. Dan aku bisa mencium wangi parfum Erin yang menguar dari tubuhnya.
“Eh, maneh, Yal?” sapanya, berusaha tampak normal meski jelas matanya sempat melebar singkat, terkejut. “Nggak bawa kunci?”
Aku tak menjawab.
Tangan kananku masuk ke saku celana, meraih KTP-nya yang tertinggal di rumahku saat ia berkunjung dua minggu lalu. Kartu itu lantas kusodorkan.
“Wah, ketemu?” ujarnya.
Aku masih tak menganggapi.
Tanganku mendorongnya di d**a, memaksa langkahku melewati ambang pintu.
“Yal!” Juno mencengkeram pergelangan tanganku.
Aku menoleh.
“Urang lapar, Indomie kita?” ajaknya.
Bibirku menyeringai. Lalu kutarik kasar tanganku. “Erin! Let's end this!” Aku menyeru.
Juno membelalak, namun tatapannya kosong. “Yal?”
Aku menoleh, menatapnya tajam.
Lalu, pintu kamar Juno terbuka, Erin muncul dengan wajah tegang. Rambutnya terurai, lipstiknya berantakan.
Kami saling menatap.
Tak ada penjelasan.
Sebagian diriku berharap dia melontarkan kalimat ‘ini nggak seperti yang kamu pikirkan’.
Aku menatap Juno.
Lalu kembali menatap Erin.
Diamnya mereka, seolah pengakuan yang diucap lantang.
Aku menarik napas dalam. “Kenapa nggak bilang kalau kamu berpikiran terbuka? Kamu pikir aku nggak bisa muasin kamu?” sinisku.
“b*****t!” Juno menggeram. Ia mencengkeram bahuku.
Aku mengelak, mundur beberapa langkah, lalu tanpa basa-basi kuangkat kakiku ke wajah Juno, tepat di tulang pipi.
Jarak yang terlalu dekat tak menjadikan tendanganku brutal, namun cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan, terjerembab di lantai rumah yang kami sewa bersama.
Erin menjerit, berlari mendekati Juno.
Bukan ke aku.
Dan sikapnya itu kembali menghancurkanku.
Lalu Erin menoleh, menatapku seperti aku yang bersalah. “Anjing lo! b*****t lo! LO b*****t, YAL! ANJING!”
Kata itu menggema di kepalaku.
Anjing.
Bukan permohonan maaf.
Bukan penjelasan.
Bukan rasa bersalah.
Anjing.
Aku bergeming.
Syok.
Namun, akhirnya aku mengerti satu hal.
Yang kulihat di jendela tadi bukan kesalahan sesaat.
Itu pilihan.
Dan aku bukan korban di mata mereka.
Aku pengganggu.
Perih.
Aku mundur. Selangkah demi selangkah.
Aku tak lagi ingin marah, terlebih mengamuk.
Aku hanya... merasa bodoh.
Bodoh karena mencintainya.
Bodoh karena percaya.
Bodoh karena dua hari lagi aku sempat begitu bahagia dan bersemangat akan memasangkan cincin di jarinya.
Seharusnya aku sudah pergi saat melihat sepatu itu.
Bukan justru memilih mengetuk.
Aku... sungguh menyesal mengenalnya. Dan sejak malam ini, hidupku tak akan pernah sama lagi.