Chapter 3

1871 Words
Sienna Halim POV "Tau namaku darimana?" Aku bertanya. Segelap lampu yang memudarkan wajah tegasnya, pria misterius itu enggan menjawab. Lebih cepat dari hentakan musik pada piringan disc jockey, begitulah pria misterius berkarisma yang saat ini sedang mencuri perhatianku. Giselle dan aku—pandangan kami saling bertukar arahan. Gerakan matanya mengindikasi saran agar aku segera pulang, agar dia bisa 'melayani' tamu barunya ini. Harusnya, itu adalah SOP yang normal. Lainnya, kepalaku justru lebih tertarik untuk memperhatikan pria ini dari dekat wajahnya. "Oh." Baru sadar. Pria ini menyodorkanku segelas kecil wine Cabernet Sauvignon, sebagai salam perkenalan. Semakin kecil gelasnya, semakin tinggi alkoholnya. Kutarik kesimpulan, pria ini tidak tau usiaku masih di bawah umur. "Aku masih sekolah, Pak," ucapku—sengaja. Aku tau lelaki ini belum setua itu, tapi cara pdkt-nya sangat kuno sekali. "Hm," gumamnya, matanya tergulir pada barisan koleksi liquor milik Giselle. Jemari kekarnya mengetuk dagu tegas itu, lalu pandangannya menimpaku. "Harusnya ini bukan tempat untuk anak sekolah. Atau, kau yang berbohong?" "Pffttt." Aku tertawa. Dan, sangat lepas. Kugeser kursiku mendekat padanya. Baiklah. Tadinya, aku ingin pulang dan menyerahkan pria ini pada Giselle. Tapi, melihat dia bisa membuatku tertawa begini—not bad. Sepertinya, aku mendapatkan teman main hari ini. Aku memberi pesan lewat gestur jadi pada Giselle—komando untuk patroli dari jauh, karena sudah kuputuskan pria ini tidak berbahaya. Minuman yang dia berikan padaku tadi, kuteguk habis. Dia agak kaget, wajar. Tak ada anak SMA yang tahan dengan Cabernet Sauvignon. Tapi kalau aku adalah anak SMA biasa, aku tak akan ada di sini. "Wajahmu murung," pria itu berucap. Entah karena mabuk atau apa, tapi wajahnya buram sekali di mataku. Yang terlihat hanyalah helai rambut hitam bersinar terhujani lampu bar. Dan dari suaranya yang begitu eksotis, menggoda manis, aku yakin dia sudah punya banyak pengalaman dengan perempuan. "Yah, enggak ada yang bikin tersenyum di hidupku," gelakku, setengah bercanda. "Why not?" dia menanggapi. Sorot mata penasarannya membuat mulutku yang harusnya berhenti pada kalimat ini, justru gatal untuk bercerita lebih lanjut. Kutunjukkan cincin berlian yang mengunci jemari manisku. Reaksinya, dia agak tertegun. "Aku sudah bertunangan. Perjodohan, lebih tepatnya," tutur bibirku, basah karna alkohol. "Dan, dengan lelaki yang tidak kucintai. Wajar, Ayah membesarkanku hanya untuk keperluan bisnis. Menikah dengan siapapun, asal menghasilkan uang, tak masalah baginya." "That doesn't sound good." Alisnya berkerut simpati. Namun, aku justru fokus pada aksen British-nya yang amat kental. Persetan mabuk ini yang membuat pandanganku mengabur, aku sangat ingin melihat wajah tampannya itu. Rasanya, kita pernah bertemu di satu tempat. Tapi, dimana itu? "Kalau ayahmu butuh uang, aku bisa memberikannya," sambung suara berembun miliknya. "Katakan nominalnya. Sebut berapapun sampai dia bisa melepaskan hidupmu. Beautiful girl like you, deserves better than this." "Beautiful, huh," napasku sedikit terkekeh. Kugulingkan kaki gelas yang telah kosong di atas meja, ketika mataku tak bisa lepas dari pikatnya. Kapan terakhir kali seseorang memujiku seperti ini? Terlahir sebagai Sienna Halim, kesempurnaan adalah keharusan. Pujian bukan pilihan. Karena sudah terbiasa sempurna, hampir tak ada yang pernah mengapresiasi diriku. Sampai aku rusak begini pun, tak ada sesiapapun yang peduli. Dipuji pria misterius seperti ini membuat tubuhku panas. Yang bisa aku rasakan hanyalah getaran suaranya, rasanya tidak asing. Dan, somehow membuatku nyaman. Pria misterius itu terus berucap. Ada gap besar antara gerakan mulutnya, dan tangannya yang perlahan meraba-raba tubuhku. Aku yakin sekali mulutku terbuka untuk menanyakan namanya, lantas mengapa yang kudengar hanya des*ahanku saja? "Ngh." Desa*hanku terlepas. Saraf kesadaran di kepalaku ibarat minim sinkron dengan lapisan otot tubuh. Mulut mende*sah, dan tanganku tak bisa digerakkan. Tapi, kepalaku masih bisa berpikir jernih. Inilah efek alkohol yang paling aku benci. Satu teguk saja, bisa membuatmu seperti mayat hidup. Aku tau sensasi ini. Sensasi rokmu tersingkap, gesekan kulit dari telapak tangan dingin, kaku, hanya dimiliki para lelaki. Aku paham betul. Tak terhitung berapa kali Jonathan berusaha menyentuhku, selalu kutolak dengan alasan agama. Tapi, aku paham. Ini yang orang sebut sensasi rangs*angan. Aku masih perawan, tapi aku paham. Dan pria misterius ini, sedang berusaha menjelajah bagian int*im tubuhku di bawah sana. Dengan mulutnya. "Hmp!" suaraku tertekan. Bukan karena mulutku, tapi karena jemarinya yang menutupi. Tangannya membungkam mulutku, lembut. Begitu lembut sampai aku hampir sepenuhnya menyerah pada sentuhannya. Secepat itu, sebuah ciuman mendarat di bibirku. Ciuman pertamaku. Panas, manis, sisa-sisa minuman keras kami masih menetes pada ujung lidahnya bagai undangan untuk memasuki pesta. Organ tak bertulang itu membawaku pada debut ciumanku yang sangat panas. Aku melunak, tulang-tulangku meleleh. Lenganku melingkari lehernya. Tanpa aku sadari, kujambak rimba rambutnya dengan sangat ganas, memperdalam ciuman kami. Yang mende*sah, hanya aku. Tapi, aku tau. Pria ini juga menikmatinya. Panggulnya dibawah sana bergerak maju mundur tak sabar, aku terkekeh ringan. Normalnya, tubuhku akan bergerak repulsif pada sentuhan pria, tapi mengapa kali ini aku merasa rela? Gerakan tubuhnya, seluruh getaran naf*su yang dia salurkan pada setiap bisikan, tarikan napas, aku seperti tengah berharapan dengan lelaki yang belakangan ini mengisi pikiranku. Samuel. Cowok cupu yang diam-diam seorang player. Entah karena semua lelaki sama—atau apa. Tapi, antara Samuel dan pria misterius ini, aku merasa mereka seperti memiliki aura yang sama. Ciuman kami bertahan lama sekali. Aku mulai bosan. Alcohol took the best of me, dan tanganku mulai menjelajah sendiri. Saat jemariku berhasil menemukan gundukan gemuk di balik celana silk hitamnya, bibirku tersungging menang. Mengetahui lawan mainku ternyata ere*ksi, rasa banggaku meluap. At least, bukan aku sendiri yang kepanasan di sini. Kutarik cepat ikat pinggang platinumnya itu. Gerakan tak sabar, tenaga penuh. Alisku, tertekuk aneh. Tanganku sudah yakin menarik ikat pinggang yang benar, mengapa tidak kunjung lepas juga? Keanehan terjadi lagi. Ciuman panas kami mendadak hilang. Beban berat dari otot da*danya yang menekan tubuhku dari atas, pun lenyap entah kemana. Dalam satu kedipan mata, semuanya menjadi gelap. Pandanganku gelap. Aku kebingungan. Fabric di bawah kulitku berkali-kali bergoyang. Hentakan suara membangunkan kesadaranku, sampai iris biruju nyaris melompat keluar. Giselle. Mataku terbuka total. Hal pertama yang aku notice selain perubahan drastis ruangan Bar—berganti dengan ruangan hotel Bar—adalah Giselle yang sedang sibuk membangunkanku. "b***h. Akhirnya kau bangun juga. Sekolah, oi! Mau papamu menggorok leherku, kalau tau semalam kau mabuk total? Buruan bangun dan pergi dari barku!" "Ma...buk?" mulutku mengeja dengan susah payah. Efek alkohol masih menunggu. Kupandangi lagi ruangan ini—serba putih. Terakhir aku ingat, aku masih bersama pria misterius di meja Bar kami, dan— "Giselle! Kemana cowok itu!?" Mendadak, lumpuh di tubuhku hilang. Berganti mendorong Giselle spontan sampai empunya berteriak kaget. "Ih!" bentaknya marah. "Cowok mana!?" Kuremas kerah blouse biru lautnya. "Mana lagi? Cowok yang minum sama aku semalam! Kau sendiri yang lihat, kan? Mana dia? Kenapa dia enggak ada di sini?" Beriringan dengan reaksi Giselle yang ganjil, kutemui satu hal aneh. Kendati sudah pindah ke kamar hotel Bar, pakaian yang kukenakan terlalu rapi untuk sebuah malam panas kami. Giselle menyadari kebingunganku, dan aku tak suka dengan tone penjabarannya. Dia berkata, apa yang aku ingat semalam hanyalah sebuah mimpi. Kalau aku terbangun dalam kondisi kering rapi, mungkin Giselle bisa aku percaya. Tapi, jenis mimpi apa yang bisa menghilangkan cel*ana dal*amku? Giselle masih sibuk dengan ponselnya—sekarang sudah masuk jam sekolah—, dan aku berhamburan ke kamar mandi. Kuteliti bias penampilanku di depan cermin. Dan, aku tidak bodoh. Bekas kecupan pria itu, nyata di leherku. Dimana-mana, bahkan bekas gigitan giginya di pundakku sangat kentara. Kusentuh semua bekas cintanya dengan ekspresi bingung, berpikir kencang. Aku yakin sekali malam tadi, sentuhannya, semuanya, nyata. Aku tidak delusi. Buktinya, aku terbangun dengan kondisi celana dalamku hilang. Giselle saja tidak tau. Siapa lagi kalau bukan karena pria misterius itu? "I'm screwed." Kujambak rambutku, merasakan tubuhku merosot jatuh ke lantai. Alasan panikku tadi pada Giselle, jauh dari kemarahan akan hilangnya pria itu secara mendadak. Melainkan, aku ingin memastikan satu hal yang lebih krusial: "Seberapa jauh kita main tadi malam?" gumanku, buku-buku jariku mulai dingin karena anxiety. Celana dalam yang hilang mengindikasikan adanya pene*trasi. Tapi, aku tidak merasa sakit sama sekali di bagian bawah. Se*ks atau bukan, aku cuma butuh tau satu hal. Apa pria itu memakai pengaman atau tidak tadi malam, itu yang aku pikirkan. Kalau ada satu gadis di dunia ini yang paling tidak boleh hamil duluan sebelum nikah, maka aku adalah jawabannya. Karena bagi keluargaku, kepera*wananku adalah aset. Satu jam berlalu, Giselle yang panik mulai berulah lagi. Kusembunyikan soal celana dalamku pada Giselle untuk sementara waktu. Setidaknya, sampai aku bisa menemukan nama pria misterius itu. Jangan sampai hal ini bocor ke telinga orang. Aku berusaha tenang. Mandi, mengenakan seragam sekolah yang Giselle siapkan dadakan, berias. Semua kulakukan dengan menekan kepanikan di dalam kepala. Tidak ada waktu cukup untukku sekadar mengecek selaput daraku, karena ini hari Senin. Sampai aku telat, Henri Halim akan membunuhku. Giselle mengantarku sampai ke gerbang sekolah. Dia memintaku untuk menjauhi Bar Lumierre sementara waktu—paranoid. Ayahku begitu menakutkan sampai dia takut bisnisnya hancur kalau tau semalam aku mabuk berat di Barnya. Bukan masalah. Tapi, ini artinya aku tidak bisa mencari pria misterius itu untuk sementara waktu. Sialan. Seolah nasibku kurang buruk, sekarang tak ada satupun yang bisa aku mintai pertanyaan. Aku masuk sekolah. Seperti biasa, Jonathan memimpin pasukan Paskibraka. Sengaja kupilih barisan paling belakang, agar dia tidak menemukanku. Upacara selesai, tapi aku tidak langsung kembali ke kelas. Tujuan utamaku adalah kamar mandi. Di hotel Bar tadi, belum sempat aku cek kondisi kemaluan. Celana dalam memang hilang, tapi semoga saja tidak ada pene*trasi tadi malam. Lagian, Sienna, otakmu dimana? Kau paling takut dikuliti hidup-hidup oleh ayahmu. Tapi sekarang, kau berani mabuk-mabukan dengan pria asing, yang bahkan kau tak tau siapa namanya? Baru kali ini aku benci pada kebodohanku sendiri. "Shit." Aku menggeram. Sudah kugigit 7 lembar tisu pun, suara geramanku masih keluar. Perih. Aku mencoba memasukkan satu jari ke dalam lubang vag*ina, sakitnya menjalar sampai aku nyaris terjatuh ke lantai. Kupastikan telunjukku masuk ke lubang yang benar. Kutekan-tekan bagian lembut di bawah klit*oris; mirip daging, lembaran daging, namun sangat lembut dan rapuh. Kuncinya adalah jika kau kesulitan memasukkan jemarimu ke dalam, berarti, kau masih perawan. Dan, selamat, selaput daramu masih aman. "Thank God." Aku bisa bernapas lega. Rasa perihnya terbayar. Telunjukku bisa merasakan selaput daraku masih pada tempatnya. Mulus, tanpa goresan sedikitpun. Itu artinya semalam, pria itu tidak memera*waniku. Akhirnya, aku bisa bernapas dengan lega. Tapi, ada sedikit kecewa juga. Kalau malam panas tadi sudah dipandu dengan alkohol pun belum bisa melelehkan na*fsu pria misterius itu, sampai tidak terjadi apa-apa di antara kita ... ... bukankah itu artinya aku tidak atraktif? Apa aku kurang cantik, kurang menggoda? "k*****t bangsat." Beres memastikan selaput dara, tapi akhirnya aku marah-marah juga. Kubuang tisu itu dari di mulutku. Lalu, bersiap mengenakan rok sekolahku sendiri. Posisiku sangat konyol saat ini: berdiri dengan posisi kedua pa*ha menga*ngkang, rok sekolah dilinting hingga ke atas, cel*ana dal*am putih diturunkan, berhenti di tengah pa*ha demi jemariku bisa menyelip bebas ke dalam. Kalau Giselle, Raya, atau siapapun yang melihat, penampilanku sekarang akan jadi bahan ejekan grup kami untuk setahun ke depan. Buru-buru aku betulkan penampilan. Aku sedikit kesulitan, memasukkan jari ke dalam lubang vag*ina sempit yang kering membuat pinggangku agak nyeri. Sambil tahan meringis, kutarik cel*ana dal*am putihku kembali ke asalnya. Kalau tidak, telingaku mendengar suara langkah kaki seseorang. Masuk ke dalam toilet wanita, seperti sedang mengintipku dari kejauhan. Amarahku seketika naik pitam. Kurang ajar. Maksudnya, sejak tadi, saat aku sedang sibuk menc*olok vag*ina sendiri, ada yang diam-diam mengintipku!? "Keluar! Siapa kau!?" pekikku marah, bersiap mengejar pengintip itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD