Bel tanda ganti jam pelajaran berbunyi nyaring, memecah suasana kelas yang sejak tadi dipenuhi konsentrasi setengah tegang akibat ulangan fisika. Pak Tedi meminta murid-murid segera mengumpulkan jawaban. Kursi - kursi bergeser, suara siswa saling bersahutan, dan udara terasa lebih longgar. Dede menghembuskan napas panjang begitu pensilnya diletakkan. Apa pun hasilnya nanti, setidaknya ia sudah melewati satu jam yang cukup menguras kepala.
Selanjutnya masih di jam fisika, Pak Tedi mengajak anak-anak untuk membahas soal ulangan tadi. Dede yang disuruh Pak Tedi untuk maju ke depan mengerjakan soal essay yang hanya ada sepuluh soal tadi.
"Ayo Degaira, kerjakan lima soal essay di depan."
Ia pun maju dan mulai mengerjakannya di papan tulis, tidak sampai sepuluh menit lima soal dan turunannya pun selesai. Pak Tedi pun memujinya dan mengatakan jawabannya benar. Sempat terdengar kasak kusuk teman-temannya membahas jawaban mereka masing-masing, ada yang salah rumus, ada yag salah hitung, tapi ada juga yang benar. Giliran lima soal terakhir, Arsya yang disuruh maju ke depan, dan seperti Dede tadi, ia juga bisa menyelesaikan dengan cepat, dan juga benar. Mereka berdua memang menjadi andalan Pak Tedi, dan memang begitulah mereka, sahabat, rival, sekaligus teman belajar.
Satu jam kemudian pelajaran Fisika kedua pun selesai dengan ditandai bunyi bel istirahat pertama. Hanya beberapa anak saja yang ke kantin, mungkin membeli minum karena jam selanjutnya adalah pelajaran olahraga, biasanya mereka hanya butuh minum, sedangkan banyak anak hanya minum di kelas dan segera berganti pakaian olahraga,
Dede berdiri dari bangkunya bersama Tanti. Mereka berjalan keluar kelas, bergabung dengan arus siswa lain yang menuju toilet untuk ganti baju. Lorong sekolah mendadak riuh oleh suara tawa, keluhan malas bergerak, dan rencana-rencana kecil tentang makan siang saat istirahat kedua nanti.
Didepan toilet perempuan, Dede duduk di bangku panjang sambil membuka tasnya, masih antri soalnya, ia membiarkan Tanti duluan. Dede mengeluarkan pakaian olahraganya, meletakkannya rapi diatas pangkuannya. Tangannya sempat menyentuh sesuatu yang dingin dan keras di dalam tas, coklat pemberian Arsya tadi.
Bungkusnya masih rapi, belum tersentuh. Pagi tadi, coklat itu terasa seperti sesuatu yang kecil tapi hangat. Sesuatu yang membuatnya tersenyum diam-diam di balik buku Fisikanya.
"Sana De, gantian," perintah Tanti yang baru saja keluar dari bilik toilet dan sudah berganti pakaian.
Dede menghela napas pelan, lalu menutup kembali tasnya tanpa membuka bungkus coklat itu.
"Titip tas."
"Iya."
Dede berdiri dan masuk ke bilik ganti.
Tanti sempat memperhatikan pergerakannya, tapi ia memilih diam.
Setelah Dede selesai mengganti seragamnya dengan baju olahraga, keduanya siap pergi dari toilet untuk meletakkan tas dulu ke kelas sebelum pergi ke lapangan.
" Cepatlah sikit. Jangan sampai kena marah pula kita sama pak Sianturi," ujar Tanti.
"Iya ... bel masuk pun belum bunyi, sudah ribut kali kau ku dengar."
"Kalo kubiarkan, bisa kayak Putri Solo lagi nari, kau," jawab Tanti dan membuat Dede mendengus.
"Memang Putri Solonya aku ... masalah buat kau?"
Aslinya, Mama Dede memang dari suku Jawa, tapi bukan Solo, sedangkan papanya asli dari Medan.
"Mana ada Putri Solo nendang orang sampe kesungkur."
"Putri Solo limited edition-nya aku," jawab Dede sambil tertawa.
"Ada aja jawab kau, cepatlah sikit."
"Iyaa ..iya.."
Kini mereka berjalan berdua menuju lapangan basket.
Lapangan sekolah sudah ramai. Matahari mulai naik, membuat keringat cepat muncul bahkan sebelum peluit ditiup. Hari ini memang jam pelajaran olahraga tidak di indoor karena hall sedang dipakai untuk acara orangtua murid kelas XII yang sudah mau lulus.
Kini Dede berdiri di barisan bersama teman-temannya, menyesuaikan posisi. Angin tipis berhembus, membawa aroma rumput dan tanah yang mulai menghangat.
Dari kejauhan, Dede melihat Arsya. Ia sudah mengenakan seragam olahraga, berdiri santai bersama Hakim, Togar dan Sangga, juga beberapa anak laki-laki lain dari kelas mereka. Terlihat mereka tertawa lepas, seperti tidak ada beban di dunia.
Sesekali, Arsya menoleh ke arah barisan perempuan. Tatapannya sempat bertemu dengan Dede, tapi hanya sebentar. Ia tersenyum, lalu kembali ke dunianya sendiri.
Dede membalas senyum itu, seperti yang selalu ia lakukan. Ia tidak berharap apa-apa dari senyum itu. Ia hanya ingin Arsya baik-baik saja. Dan selama Arsya masih tersenyum padanya, rasanya itu sudah cukup.
Peluit ditiup, latihan pun dimulai.
Dede berlari mengikuti instruksi, merasakan panas matahari di kulit putihnya, keringat yang mengalir di pelipis. Ia membiarkan tubuhnya bergerak, membiarkan pikirannya fokus pada langkah, hitungan, dan napas. Untuk sementara, ia mengusir segala hal yang berusaha masuk ke kepalanya.
Di tengah lapangan itu, di antara teriakan pak Sianturi dan tawa teman-temannya, Dede tetap semangat ikut latihan basket, meskipun ia payah untuk memasukkan bola dalam keranjang, basket bukan keahliannya. Hal ini berbeda dengan Arsya yang memang kapten basket sekolah mereka. Tapi yang penting ia sudah menggugurkan kewajibannya ikut olahraga basket pagi ini.
"De ...kamu bawa minum, nggak?" tanya Arsya dengan keringat mengucur ketika menghampiri Dede.
"Ada, nih.." Dede menyodorkan tumblrnya.
Tanpa ragu-ragu Arsya mengambil Tumblr tersebut lalu meneguk isinya, kalau dia tidak mengingat ini adalah Tumblr milik Dede, mungkin sudah dihabiskannya air putih itu. Setidaknya saat ini ia menyisakan sedikit untuk si pemilik Tumblr.
Pemandangan seperti itu sudah biasa dilihat teman-temannya, karena mereka juga tahu kalau Arsya dan Dede itu sahabatan sejak lama. Apalagi yang pernah satu SMP juga sama mereka, sangat tahu dan sangat maklum melihat pemandangan seperti itu, bukan hal yang istimewa.
"Ada tisu enggak?"tanya Arsya sambil mengembalikan Tumblr Dede
"Ada, nih."
Arsya pun menyeka keringatnya dengan tisu yang diberikan oleh Dede.
"Makasih," ucapnya sambil memberikan tisu bekas pakaiya tadi ke Dede dan langsung disimpan Dede ke kantong training olahraganya untuk dibuang nanti.
Dan Arsya bergabung lagi dengan teman-temannya.
"Kelen punya persahabatan yang aneh. Kau kok mirip bininya ku lihat," komentar Tanti.
"Bininya apa ..? Biasa aja lah dia minta tisu, minta minum, kau yang aneh," jawab Dede tidak terima dengan pendapat Tanti.
"Iya aku tahu kau sahabatnya, tapi nggak ada sahabat kayak gitu kali, berlebihan kulihat."
"Suka kau lah ...." jawab Dede lalu meninggalkan Tanti untuk bergabung dengan teman-teman yang lain karena Pak Sianturi akan briefing.
Tanti hanya bisa geleng-geleng kepala,"Dasar bucin!"
Sudah dua jam berlalu, akhirnya bel tanda berakhirnya pelajaran olahraga berbunyi. Siswa - siswa berhamburan membubarkan diri dari lapangan yang semakin panas karena terik matahari, ada yang langsung menuju toilet untuk mengganti pakaian, ada pula yang langsung ke kantin. Dede dan Tanti berjalan berdampingan, sama-sama kelelahan dan memilih langsung ke kantin karena ramainya toilet. Lagi pula keduanya sudah sangat haus, tadi Dede hanya disisakan tiga tegukan saja oleh Arsya.
" Langsung makan aja lah ya kita, lapar kali aku," kata Tanti.
Dede mengangguk. Ia membawa Tumblr kosongnya ke kantin untuk diisi ulang dengan air mineraal botol yang dingin, ia mengikuti langkah Tanti.
Di lorong, mereka berpapasan dengan beberapa teman sekelas yang masih saja membicarakan soal - soal ulangan fisika tadi, mereka saling menebak nilai, dan saling menyalahkan rumus.
Ketika Dede dan Tanti sampai di kantin, suasana sudah ramai ketika mereka tiba. Bau gorengan bercampur mie instan, bakso, dan Rice Bowl menyambut sejak langkah pertama. Dede dan Tanti mengambil tempat di salah satu meja panjang dekat jendela.
"Kau nggak makan?" tanya Tanti sambil duduk.
"Makan apa ya..." Dede masih agak bingung, "Belum lapar kali."
"Sudah jam sebelas ini, abis olahraga pula, masa kau nggak lapar?"
"Ya udahlah ... makan apa ya?"
"Aku mau bakso," ucap Tanti sambil berdiri.
"Kau duluan lah, aku jaga meja."
Tanti mengangguk dan berlalu.
Kantin mulai ramai, kelas lain juga sudah keluar menuju kantin. Ini memang sedang jam lapar-laparnya, sudah menjelang siang soalnya.
"Kosong, nggak?"
Dede menoleh dan melihat Arman yang barusan bertanya.
"Kosong, duduk aja, itu kursi Tanti," jawab Dede.
Dede dan tanti memang duduk di meja untuk 4 kursi, tapi hanya diduduki berdua.
Arman datang bersama Aldrin, mereka menarik dua kursi kosong yang tersisa.
"Habis Fisika, ya?" tanya Dede ke Arman.
"Iya."
"Eh aku cari makan duluan, ya," sela Aldrin.
"Iya."
Lalu Arman menoleh ke Dede,"Nggak makan?"
"Mau..aku nunggu Tanti, dia lagi pesan bakso..aku belum tahu mau makan apa."
"Nanti serempak aja kita."
Dede mengangguk.
Mereka sempat membahas soal - soal Fisika tadi, ternyata Arman salah satu soal pilihan berganda.
"Arsya salah berapa, dia?" tanya Arman.
"Nggak tahu, aku. Tadi nggak dibahas sama Pak Tedi, cuma maju nyelesaikan essay aja kami."
"Owh."
Saat mereka ngobrol Tanti sudah selesai dan duduk di hadapan Dede.
"Gantian ya aku mau lihat-lihat," ucap Dede dan diikuti Arman berdiri menuju etalase kantin.
Ujung-ujungnya Dede memesan bakso juga, sama persis kayak Tanti, dan satu botol minum air mineral dingin. Saat itu Arman yang juga sedang memesan makanan, tiba-tiba ia diajak ngobrol sama salah satu temannya yang lain, Dede pamit duluan kembali ke meja.
Mereka baru beberapa menit duduk ketika Tanti mendadak diam. Tatapannya melewati bahu Dede, mengarah ke sudut kantin yang lain.
Dede menyadarinya. Ia menoleh perlahan.
Di sana, Arsya duduk di salah satu bangku dekat penjual minuman. Di sebelahnya, seorang perempuan berambut panjang, rapi, dengan seragam yang tampak selalu pas di badan. Sandra, anak IPA 3.
Dede mengenalnya, bahkan hampir semua orang mengenalnya. Sandra bukan tipe yang mudah dilewatkan. Cara duduknya tenang, caranya tersenyum lembut, dan caranya berbicara selalu membuat orang memperhatikan. Ia dikenal ramah, tapi juga jelas tahu apa yang ia mau. Yang pasti dia cantik, katanya kakeknya orang Italy, ia masih mendapatkan darah campuran itu di wajahnya.
Dede memalingkan wajahnya sebentar, berniat kembali menatap minuman yang ada di mejanya. Namun gerakan kecil itu terlambat.
Ia keburu melihat Arsya mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di depan Sandra, sebungkus coklat.
Dede mengenali bungkus itu tanpa perlu berpikir lama.
Coklat yang persis sama dengan yang Arsha berikan kepadanya tadi pagi. Warna, merek, bahkan pita kecil di ujungnya. Coklat mahal yang tidak pernah ia lihat dijual di minimarket biasa. Coklat yang masih tersimpan rapi di dalam tasnya.
Sandra terlihat terkejut, lalu tertawa kecil. Ia menerima coklat itu dengan kedua tangan, wajahnya berbinar. Arsya mengatakan sesuatu yang tidak terdengar dari jarak mereka sekarang, membuat Sandra mengangguk sambil menepuk lengan Arsya pelan.
Ada rasa aneh yang menyusup ke d**a Dede. Bukan marah, bukan juga cemburu yang meledak-ledak. Lebih seperti sesuatu yang pelan-pelan mengempis di dalam dirinya, seperti balon yang dilepas anginnya sedikit demi sedikit. Mendadak coklat itu seperti tidak ada istimewanya lagi sekarang. Mungkin saja sebenarnya Arsya ingin membelikan Sandra, tapi tiba-tiba teringat dirinya dan membelikannya juga sebagai ucapan terima kasih.
"Oh," gumamnya hampir tak terdengar karena memang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Tapi Tanti melihat ekspresi itu dan menangkap ucapan "Oh" barusan. Ia tahu betul "Oh" itu untuk apa. Ia terlalu tahu, ia mengikuti arah pandang Dede, lalu kembali menatap sahabatnya dengan raut yang ia tahan sebaik mungkin.
Dede menunduk, menatap permukaan meja. Tangannya menggenggam botol minumnya, tapi ia tidak meminumnya. Pikirannya berputar ke pagi tadi, ke senyum singkat Arsya, ke ucapan terima kasih sederhana yang ia simpan terlalu dalam.
Ia tidak marah.
Ia juga belum menyerah.
Ia hanya kembali menyadari satu hal, mencintai diam-diam itu memang sering kali berarti berbagi rasa dengan sunyi.
Dan untuk saat ini, Dede masih sanggup melakukannya.
Bakso pesanan mereka datang, seiring Arman dan Aldrin juga Kembali ke tempat duduk.
"Makan apa kelen?" tanya Tanti.
"Beef bowl," jawab Arman.
Aku bakso juga," sahut Aldrin.
"Kami duluan ya."
Arman pun mengangguk.
Tanti dan Dede pun menikmati bakso mereka. Kalau Tanti tampak sesekali mengajak Arman dan Aldrin bicara, tidak dengan Dede. Terlihat seolah ia sangat fokus dengan baksonya, padahal tidak.
Lima belas menit kemudian, Tanti melihat ke arah Dede seolah memberi isyarat halus agar mereka pergi. Dede mengangguk kecil.
"Kami duluan ya, mau ganti baju dulu ... sebentar lagi adzan," pamit Tanti ke Arman dan Aldrin.
Keduanya mengangguk. Memang biasanya setelah jam istirahat kedua, mereka siap-siap untuk ke masjid, salat berjamaah. Setelah itu tinggal satu mata pelajaran dan mereka boleh pulang.
"Eh sebentar, Tan, biar ku salin dulu lah air dibotol ini ke tumblrku, biar nggak bawa dua-duanya."
Tanti mengangguk dan menunggu.
Dede menyalin minumannya seolah menunda beberapa detik yang tidak ingin ia jalani.
Untuk kembali ke kelas, mau tidak mau mereka harus melewati meja Arsya. Meja itu terlalu dekat dengan jalur keluar kantin, terlalu terbuka, dan terlalu ramai.
Dede bisa merasakan detak jantungnya berubah ritme bahkan sebelum mereka benar-benar melangkah. Ia menegakkan punggung, berusaha terlihat biasa saja. Tanti berjalan di sampingnya, sedikit lebih cepat, seolah ingin segera melewati titik itu tanpa jeda.
Namun langkah mereka keburu tertahan karena Arsya yang menyapa duluan, "Mau ke mana De?"
Dede berhenti. Ia menoleh, sedikit terkejut karena tidak menyangka bakal ditanyai oleh Arsya. Suaranya terdengar lebih dekat dari yang ia kira, dan entah kenapa, itu membuatnya harus menarik napas sebentar sebelum menjawab.
"Mau ganti baju," jawab Dede.
Arsya mengangguk kecil, menatapnya seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah.
"Kok cepat kali, sudah makan rupanya?"
"Sudah."
Kalimat itu keluar begitu saja, datar, tanpa emosi. Dede tidak tahu apakah Arsya menyadari caranya bicara yang sedikit lebih pendek dari biasanya.
Belum sempat suasana menjadi canggung, suara lain menyelip di antara mereka.
"Jangan pula kau mau ikut Dede, nanti Sandra merajuk," sahut Togar yang langsung disambut tawa teman-temannya yang lain sementara Sandra juga senyum-senyum saja.
Tawa itu terdengar ringan, seperti candaan biasa, tidak jahat, tidak juga terlalu ramah kalau menurut perasaan Dede saat ini. Hanya jenis tawa yang sering muncul tanpa dipikirkan dampaknya bagi orang yang berdiri tepat di depan mereka.
Dede menunduk sekilas. Ia tidak mau melihat ke arah Sandra, bukan karena tidak berani, tapi karena ia tahu, sekali saja ia menatap wajah itu terlalu lama, akan ada sesuatu di dadanya yang sulit ia kendalikan.
"Ya enggaklah, kek mana aku mau tinggalkan cewek cantik sendiri di sini," jawab Arsya, tentu saja cewek cantik itu maksudnya Sandra.
Ucapan itu membuat tawa kembali pecah di meja mereka. Sandra masih tersenyum, terlihat nyaman, seolah posisi itu memang sudah sewajarnya miliknya.
Walau ikut tersenyum, tapi Dede merasakan ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dirinya. Bukan sakit yang menusuk, bukan juga perih yang memaksa. Lebih seperti gesekan halus yang terus-menerus, cukup untuk mengingatkannya bahwa ia masih berdiri di tempat yang sama, di jarak yang sama.
Tanti menyentuh lengan Dede singkat, hampir tidak terasa, tapi cukup sebagai isyarat.
Mereka pun melangkah pergi.
Dede dan Tanti pamit dan berlalu dari hadapan mereka tanpa banyak bicara, apalagi setelah teman-teman Arsya sibuk berbicara dan tidak peduli lagi sama mereka.
Langkah mereka menyatu kembali dengan suasana kantin yang merekka tinggalkan. Suara tawa di belakang perlahan memudar, tergantikan oleh anak - anak lain, ada yang berteriak memanggil teman mereka, ada juga yang sambil ngobrol di depan kantin.
Baru setelah mereka cukup jauh, Tanti sedikit memperlambat langkah. Ia melirik Dede dari samping. Wajah sahabatnya itu terlihat tenang, terlalu tenang, bahkan. Tidak ada air mata, tidak ada ekspresi berlebihan. Hanya sorot mata yang sedikit lebih dalam dari biasanya.
Dede menghembuskan napas pelan. Ia tidak merasa dipermalukan, tidak juga merasa dikalahkan. Ia hanya kembali diingatkan, bahwa perannya dalam hidup Arsya memang seperti itu, dekat, tapi bukan yang utama.
Dan anehnya, kesadaran itu belum membuatnya ingin pergi.
Ia masih menyukai caranya Arsya menyebut namanya. Masih mengagumi caranya tertawa. Masih merasa hangat hanya karena ditanya hal sederhana seperti mau ke mana.
Mungkin memang seperti ini caranya mencintai diam-diam.
Bukan tentang berharap dipilih, tapi tentang bertahan tanpa membuat siapa pun merasa bersalah.
Dan siang itu, saat langkahnya kembali menuju kelas, Dede yakin ia belum selesai. Bukan dengan kisah yang masih terus berjalan pelan-pelan di antara bangku sekolah dan kantin yang riuh tapi tak ada ujung, tapi ini tentang rasa untuk Arsya Mahendra.