BAB 4

1264 Words
Suara hingar bingar musik dan gelak tawa orang-orang memenuhi ruangan pesta. Tanpa diduga, Kanya yang merasa sedang bahagia, menarik lengan Arka mendekat dan mengalungkan tangannya di leher pemuda itu. Seulas senyum tercipta dari bibirnya yang basah. “Hei, ayo menari. Kamu kaku amat jadi orang!” “Nggak bisa, Kak.” “Bisaaa, pasti bisa.” Meski enggan, Arka membiarkan Kanya membawanya berputar-putar. Tubuh mereka menempel satu sama lain. Saat ada tamu yang menari tanpa sengaja menyenggol Kanya, dengan sigap ia memeluk dan melindungi wanita itu. Tubuh-tubuh berkeringat, aroma parfum menguar di udara bercampur masakan dan wangi bunga dari buket-buket di sudut taman. Dengan tubuh menempel satu sama lain, memandang bibir basah Kanya yang memikat, Arka menahan keinginan untuk mencium wanita itu. Entah kenapa, ia bisa punya pikiran aneh seperti itu. Tanpa diduga Kanya mendekatkan wajah padanya dan melayangkan satu kecupan yang singkat. “Dari tadi pingin kecup kamu, soalnya kamu menggemaskan,” ucap wanita itu sambil terkikik. “Kak, i—itu apa?” tanya Arka gugup, sambil menjilat bibir bawahnya. Tergugah dengan apa yang dilakukan Kanya, Arka meraih belakang kepala wanita itu dan mengecup bibir merekah di depannya. Awalnya hanya kecupan biasa, tapi siapa sangka saat bibir bertautan, ia ingin mencicipi lebih. “Hei, kamu mau berciuman?” tanya Kanya di sela kecupan mereka. “Bu—bukanya ini ciuman?” tanya Arka gugup. Ia melirik keadaan sekitar di mana banyak orang berkerumun. Namun, sepertinya tidak ada yang peduli dengan urusan mereka. Kanya tersenyum, jemarinya membelai bibir Arka dan berucap lembut. “Itu hanya kecupan, bukan ciuman. Ayo, sini kuajari cara berciuman.” Ia melepaskan rangkulan pada lengan Arka dan menyeret pemuda itu menjauhi kerumunan. Mereka melangkah menuju pohon dan tanaman perdu di pinggir taman. Saat mencapai tempat yang agak sepi dengan penerangan minim, Kanya menghimpit Arka ke tembok dan mengamati bagaimana pemuda itu terkesiap. “Kenapa? Belum pernah digrepe-grepe cewek?” goda Kanya dengan tangan menjelajah d**a Arka. “Su—sudah.” Arka menelan ludah. “Begini juga sudah?” Dengan sengaja Kanya menyapukan tangan di bagian bawah pusar pemuda itu dan sengaja membelai ringan di atas permukaan kainnya. “Ah, kamu tegang. Kenapa? b*******h?” Tidak ada jawaban dari Arka, ia mendekatkan mulutnya pada Kanya dan kembali mengecup bibir wanita itu. Tindakannya membuat Kanya terkikik. “Sini, aku ajari berciuman.” Kanya mendekat, bibirnya menyentuh bibir Arka dengan perlahan. Ia menekan lembut, lalu membuka sedikit mulutnya untuk merasakan lebih dalam. Gerakannya teratur, tidak memberi ruang bagi Arka untuk mundur. Ciuman itu berlanjut, berganti antara menekan dan melepas, seolah ia ingin memastikan setiap detik terasa penuh. Arka merasakan tubuhnya tegang. Ada desakan yang membuatnya sulit berpikir jernih. Bibir Kanya terasa hangat, lidahnya bergerak pelan namun membuat d**a Arka berdebar. Ia tidak bisa menolak, justru membiarkan dirinya larut dalam sensasi yang datang bertubi-tubi. Tangannya terangkat, ragu sejenak, lalu menyentuh pinggul Kanya. Ia menarik tubuh wanita itu lebih dekat, merasakan beratnya menempel pada dirinya. Kanya tidak menolak, justru semakin menekan ciumannya. Dalam keheningan ruangan, hanya ada napas yang saling bertemu. Arka tahu ia sedang kehilangan kendali, namun ia juga tahu ia tidak ingin berhenti. Mereka bermesraan, dihujani musik yang mengalun keras. Tidak memedulikan gelak tawa dan percakapan sekitar, Arka memeluk erat tubuh Kanya. Malam makin memanas. Saat pembawa acara mengatakan ada beberapa selebrity yang hadir di acara pesta dan nama Rachelia disebut, serta merta Kanya menghentikan ciumannya. “Eh, aku nggak salah dengar. Ada nama Rachelia?” Arka yang kebingungan karena masih diliputi hasrat, hanya mengangguk. “Iya, ada nama Rachelia. Kenapa?” “Wah-wah, aku datang kemari buat cari dia. Arka, kamu tunggu di sini, ya? Aku cari Rachelia dulu.” “Eh, tapi ...” “Sebentar saja, nggak lama!” Sosok Kanya menghilang di kerumunan dan meninggalkan Arka sendirian serta kebingungan di tempatnya berdiri. Karena tidak tahu mau melakukan apa, ia melangkah ke arah meja prasmanan, berniat mengambil minum. Tepukan pelan di bahu membuatnya menoleh. “Hei, Arka. Mau minum sesuatu?” Bobby Monti mengulurkan gelas berisi cairan kemerahan dengan buah ceri tersemat di bibir gelas. “Minuman apa ini?” tanya Arka curiga. “Minuman segar. Pokoknya akan bikin kamu bahagia. Tenang saja, nggak beracun.” “Tapi, aku belum pernah minum al—,” “Aduh, pokoknya ini enak. Ayo, teguk!” Sedikit memaksa, Bobby Monti mendorong gelas ke mulut Arka dan membuatnya terpaksa meneguk. Sensasi hangat ia rasakan di tenggorokan dan hampir ia muntahkan jika bukan Bobby Monti terus mendorong gelas dan membuatnya menandaskan minuman itu. “Nah, gimana, enak kan?” Arka tidak tahu minuman apa yang ia teguk, tapi ia merasakan tubuhnya menghangat. “Satu lagi, ini coba. Beda dengan yang tadi.” Bobby Monti menyabet gelas dari seorang pramusaji dan menyorongkannya ke mulut Arka. “Ini lebih enak.” Berusaha fokus, Arka menggeleng untuk menolak gelas kedua. “Nggak, udah, ya. Makasih.” “Hei, jangan gitu. Ayolah, ini lebih enak dari yang tadi.” Sama seperti gelas pertama, Bobby Monti setengah memaksa menuangkan cairan itu ke dalam mulut Arka. Lidahnya mencecap, dan merasakan memang berbeda dengan minuman yang pertama. Ada rasa sedikit manis di minuman kali ini serta beraroma tidak terlalu menyengat. Kali ini, ia menandaskan dengan lebih mudah. “Nah, kaaan? Kubilang juga apa. Enak, kan?” Bobby Monti tertawa melihatnya. “Aduh, kamu makin tampan saat mabuk begitu. Ngomong-ngomong, di mana kamu kenal Kanya?” Arka cegukan. “Ka—kami tetangga.” “Oh, sudah lama kalian saling kenal?” Arka menggeleng, ia berusaha berdiri tegak, sementara sekitarnya kini bergoyang tak menentu. Kepalanya sedikit pusing dan perutnya seperti bergolak tak karuan. “Bagaimana, kita dansa?” bisik Bobby Monti cukup keras didengar di sela musik. Merasa jijik dengan sentuhan laki-laki di depannya, Arka berusaha menepis kuat. “Pergi! Jangan sentuh aku!” “Aku cuma ingin membuatmu—” “Bobby, kamu apain Arka?” Sosok Kanya muncul dari kerumunan. Meraih tangan Bobby Monti yang hendak menyentuh wajah Arka dan mengibaskannya. “Jangan sentuh dia!” “Cih, nggak asyik. Baru juga mau main-main.” “Hei, dia milikku!” teriak Kanya. Ucapannya hanya direspon dengan gedikan bahu oleh Bobby Monti. Laki-laki itu menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti. Dengan menggerutu, Bobby Monti meninggalkan tempat mereka. Kanya menoleh dan mengamati wajah Arka yang memerah. Pemuda itu terlihat limbung. “Hei, kamu minum alkohol?” tanyanya kuatir sambil menepuk ringan pipi Arka. “Nggak, cu—cuma mual.” “Gawat. Tahan, jangan muntah di sini.” Kanya bertindak sigap, meraih tangan Arka dan membawanya ke pinggiran lalu mendorong kepala pemuda itu agar menunduk. “Ayo, muntah di sini aja.” Tidak memedulikan tanaman dalam pot yang menjadi korban muntahan Arka, Kanya membiarkan pemuda itu menumpahkan isi perutnya. Dalam hati ia mengutuk Bobby Monti yang telah membuat Arka mabuk dan merasa jika satu tanaman rusak adalah harga yang sepadan. Selesai menguras isi perutnya, Arka membiarkan dirinya dibimbing menembus kerumunan. Kepalanya berputar tak karuan dan merasa jika tanah yang dipijaknya goyang. Pandangannya tidak fokus dan menatap sosok orang-orang serta lingkungan sekitar yang memburam. Ia terdiam, saat Kanya mendudukannya di kursi mobil dan menyenderkan kepala begitu kendaraan melaju cepat di jalan raya. “Hei, mana kunci kamarmu?” tanya Kanya pada Arka yang bergelayut di bahunya. Mereka tiba di apartemen yang sepi dan hanya ada mereka di dalam lift. “Arka, fokus. Mana kuncimu.” Namun, tidak ada tanggapan dari pemuda yang wajahnya memerah dan sepertinya tidak sanggup berdiri tegak. Dengan terpaksa, Kanya membawa Arka ke unitnya. Membuka kunci dengan susah payah lalu memapah dan menidurkan pemuda itu di sofanya. Sebelum beranjak, ia mematikan lampu dan membiarkan Arka tertidur dalam gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD