"Maaf mengganggu, Tuan Winston. Rekap cctv sudah keluar." Saat situasi ketegangan masih mengudara, salah satu anak buah Robert masuk dan melapor perihal cctv adiknya.
Atensi Robert seketika teralih untuk melihat cctv tersebut. Asher, adik laki-lakinya turut nimbrung di sebelah Robert.
Sedangkan, Elara hanya bisa menunggu dengan harap cemas, nasibnya bergantung pada rekap cctv. Selama menunggu, matanya tak berhenti menatap ke arah dua adik kakak itu. Harus ia akui, keduanya pria berparas tampan. Adiknya serupa cassanova sedangkan sang kakak sangat kharismatik.
"Lihat, kan kak? Elara justru menyelamatkanku," seru Asher membela Elara.
"Apa yang sebut penyelamatan, huh? Kalian asyik memanfaatkan situasi dengan beradu lidah?" sindir kesal Robert saat angle CCTV menyorot seolah Elara dan Asher berci*man. Entah mengapa dad* Robert cukup panas melihat adegan tersebut.
"Inginnya begitu, tapi aku tidak ingin menambah masalah baru. Jadi kami hanya berpura-pura, ya kan El," balas Asher enteng, meminta pendapat Elara. Namun, langsung dibalas dengan putaran bola mata malas karena Elara tidak sepemikiran.
"Dengar, Tuan. Aku ingin semua masalah clear. bukti cctv sudah jelas dan Masalah adikmu, aku jamin tidak akan ada rumor apapun keluar dari mulutku ini. Aku akan pergi sekarang juga dari Club ini."
"Dia benar, Kak. Lepaskan dia. Elara innocent," timpal Asher.
"Baik. Kali ini kuanggap masalah selesai. Jika ada gosip yang mencuat terutama tentang Asher untuk menjatuhkanku, kau orang pertama yang akan kucari. Ingat, aku bisa dengan mudah menemukan data penduduk kota A ini."
GULP!
Elara meneguk liurnya cukup gugup. Aura Robert sukses mengintimidasinya. Tak heran dia menjadi kandidat calon orang nomor 1 di kota A, pikir Elara.
Sejenak, saling tatap intens dalam jarak dekat kembali terjadi antara Robert dan Elara seolah makna lain terselip disana.
Namun, Elara segera menepisnya dan bergegas pergi saat tas miliknya diserahkan salah satu bodyguard Robert.
"Kirim orang untuk awasi dia selama beberapa hari!" titah Robert pada anak buah kepercayaanya.
"Woah, ternyata kakakku penasaran pada Elara," goda Asher.
Robert mengalihkan tatapan bengis pada adiknya. "Diam atau-"
"Baik-baik. Maaf. Aku akan serius mulai sekarang, ok," sela Asher menghentikan gurauan karena takut ancaman dicabutnya fasilitas.
"Jangan pernah membuat skandal, atau kau akan merasakan akibat lebih buruk daripada fasilitas yang kucabut, mengerti!" tandas Robert mengultimatum sang adik.
Dan kau sebaiknya berhati-hati, Elara.
Beberapa saat kemudian.
Setelah mencari hampir setengah jam, Elara bertemu lagi dengan Felisha. Namun, kejadian tak terduganya dengan Robert tadi membuat wanita bermanik kecokelatan itu cukup cemas minta pulang.
Tak jadi menginap di hotel, Elara dipaksa menginap oleh sahabatnya di apartmen sewaan Felisha.
"Apa benar tidak terjadi hal serius selama kau menghilang setengah jam tadi, El?" Felisha bertanya untuk ke sekian kalinya sesampainya mereka di unit apartmen lantai 10.
"Iya, Fel. Aku hanya mengobrol dengan seseorang," kilah Elara setengah jujur, setengahnya lagi berbohong karena ia berjanji insiden dengan Robert dan adiknya akan disimpan rapat-rapat.
Wajah Felisha berubah antusias. Ia mengira Elara menemukan pria yang tepat pengganti suami kontraknya. Hingga meledek Elara mungkin saja bercinta satu malam dengannya.
"Jangan ngaco, Fel. Bagiku tidak segampang itu menemukan partner ranjang. Chemistry itu penting."
Tak mood untuk mengobrol lebih lama karena lelah, Elara izin mandi dan beristirahat. Kebetulan apartmen Felisha memiliki 2 bedroom meski tinggal sendiri. Kamar kosong biasanya akan dihuni keluarga Felisha jika sedang berkunjung.
Felisha adalah sahabat Elara semasa kuliah. Kini, gadis dengan khas rambut pendek sebahu itu bekerja di kantor Casias, suami Elara sebagai tim keuangan.
Seusai mandi, Elara merebahkan diri di atas kasur. Ia lantas menghela napas panjang sebelum mengambil ponsel di dalam tas.
Tak lama, natanya berhenti berkedip kala melihat beberapa panggilan masuk termasuk dari Casias.
"Ch! Untuk apa dia menelponku? Bukankah dia sedang bermadu kasih dengan cinta pertamanya?" gumam Elara getir, padahal hatinya lebih sakit lagi.
Tak lama, sebuah panggilan masuk, tapi bukan dari Casias melainkan ayahnya.
"El, bagaimana keadaanmu?" tanya Edward, ayah Elara.
"Aku baik, Pa. Tolong jangan basa-basi, katakan apa yang kau inginkan?" Suara Elara tedengar lelah, tak ingin mendengar basa-basi.
"Uhmm, aku tau pernikahanmu akan berakhir besok. Tapi, apakah mungkin ... suamimu memperpanjangnya? Kulihat, chemistry kalian sangat serasi belakangan. Kau tidak boleh melepaskan kesempatan ini, El. Bahkan keluarganya sayang padamu."
Elara mendadak geram dengan pernyataan Edward barusan. Jemarinya meremat ujung spray. Selain dirinya dan Casias, pernikahan kontrak mereka diketahui oleh Edward karena ayahnya lah sumber masalah utama.
Edward merupakan pegawai bagian keuangan perusahaan Langford Enterprise cabang kota lain. Namun, karena judi online yang belakangan marak, membuatnya gelap mata sehingga menggelapkan uang perusahaan. Aksinya terendus oleh manager kepercayaan Casias dan segera dilaporkan.
Edward lantas dipanggil dan disidang internal oleh Casias dengan tuntutan mengganti uang sejumlah 1 miliar yang telah ia gelapkan, tapi jika tidak bisa, ia akan dimasukan ke penjara. Namun, Edward tak sanggup. Singkat cerita, di saat bersamaan Elara sebagai putri tunggal menawarkan diri untuk bekerja dengan potong gaji hingga hutang ayahnya lunas.
Namun, bukan pekerjaan yang ia dapat. Elara melainkan kesepakatan menikah kontrak demi image Casias di mata keluaraganya yang memang telah lama ditagih menikah.
Meski memberatkan, Elara terpaksa melakukannya karena ia tak ingin ayahnya masuk penjara. Sejak Elara kecil, hanya Edward berjuang membesarkannya sebagai ayah tunggal karena sang istri pergi meninggalkan mereka entah kemana.
"Jangan konyol, Papa. Kau tau sendiri pernikahan hanya kedok untuk menyelamatkanmu agar tak dipenjara," sanggah Elara menahan kesal.
"Ah, kau benar. Maaf jika aku egois, Nak."
Elara lantas mengembus napas berat dan meminta dengan sangat setelah ia bercerai, ayahnya tidak bertingkah. Elara mengarahkan Edward agar lebih baik menjalankan rencana membuka kedai makanan kecil bersama karena pria itu sudah berumur. Setelah usaha kedai makanan stabil, Elara akan mencari pekerjaan lebih baik. Kebetulan, Elara dan ayahnya memiliki bakat memasak yang cukup mumpuni sehingga memungkinkan mereka membuat usaha berbasis katering atau kedai makanan.
Tak lama, setelah mengakhiri panggilan, samar-samar, Elara dapat mendengar suara pria dan wanita yang sedang berdebat di luar kamar.
"Bos, dengan segala hormat, silahkan pergi. Ini sudah malam dan aku tak ingin terkena rumor penggoda CEO yang telah beristri," ujar suara Felisha.
"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum bertemu istriku!"
Tubuhnya terperajat dan segera menuju ke luar kamar.
Betapa terkejutnya Elara, kala penglihatannya menangkap tubuh gagah Casias sudah berdiri diambang pintu apartment Felisha.
Apa yang dilakukan suami kontrak ku disini?