Alunan musik jazz bertempo lambat mengalun lembut di salah satu sudut restoran bernuansa redup dan eksklusif di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Widya duduk di balik meja marmer hitam dekat jendela, menyesap red wine-nya dengan gelisah. Informasi dari orang suruhannya tidak pernah salah. Di tempat inilah pria yang ia cari—seorang pengusaha muda yang sengaja menutup diri dari sorotan media Jakarta—biasa menghabiskan waktu sorenya. Langkah kaki yang tegas dan beritme mantap mendekat ke arah mejanya. Atmosfer di sekitar Widya mendadak berubah, terasa berat dan mengintimidasi. Widya mendongak dan mendapati seorang pria bertubuh tegap sudah berdiri di samping mejanya. Pria itu berpenampilan sangat tajam dan misterius. Ia mengenakan kemeja hitam legam yang lengannya digulung hingga sebatas s

