Di lantai teratas gedung Ararya Group, suasana di dalam ruangan CEO terasa begitu penuh dwngan ketegangan. Praditya berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap lurus ke arah jendela besar dengan tangan terkepal di balik saku celananya. Rahangnya mengeras, dan aura gelap seolah menyelimuti setiap sudut ruangan tersebut. Selaku pria dan suami. Dirinya cukup bodoh. Membiarkan wanitanya menjadi pelayan untuk pernikahannya kelak. Brak! Pintu ruangan terbuka lebar tanpa ketukan. Wira melangkah masuk dengan wajah yang sama tegangnya, namun langkahnya terhenti saat sebuah suara dingin dan tajam menghantamnya. "Siapa yang mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk, Wira?!" bentak Praditya tanpa menoleh. Suaranya rendah, namun sarat akan ancaman yang bisa membuat nyali siapa pun menciut. Wira tidak ge

