bc

Kala Embun Berlabuh

book_age16+
258
FOLLOW
1.1K
READ
love-triangle
family
HE
love after marriage
fated
friends to lovers
arranged marriage
heir/heiress
drama
sweet
bold
city
secrets
polygamy
addiction
like
intro-logo
Blurb

Elang & Naura

———————

Menikah dengan calon kakak ipar.

Sebuah gagasan yang tak pernah terpikirkan oleh Naura Zivani Ardhana (Naura). Dia yang sudah memutuskan untuk tidak menikah, tiba-tiba harus menggantikan kakaknya yang kabur tanpa kabar.

Menjadi pengganti berarti harus siap dengan segala risikonya. Termasuk menghadapi perlakuan dingin dari sang suami, Elang Jagatra Adhiraja (Elang).

Istilah “makan hati” sudah menjadi santapan sehari-hari. Terlebih, ada sekretaris Elang yang memperkeruh keadaan dan membuat Naura semakin tak memiliki rasa aman.

Kesabaran Naura ada batasnya. Dia rela menjadi janda daripada harus terus terluka dalam waktu yang lama. Terlebih, ada Naren Wiradipura (Naren), cinta pertamanya yang kembali hadir.

Saat akhirnya Naura mengutarakan niatnya untuk bercerai, Elang justru menjadi pihak yang paling menentang. Dia mati-matian ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Naura.

Mempertahankan rumah tangga tak selalu berarti karena cinta. Sebab, Naura tahu, Elang memiliki trauma akibat perceraian kedua orang tuanya.

Namun, bagaimana ketika kakaknya tiba-tiba kembali?

Akankah Elang tetap ingin bertahan dengan Naura, atau justru mengejar kembali cintanya?

chap-preview
Free preview
Prolog
“Kamu bukan kakakmu. Sekalipun saudara kandung, selamanya enggak akan pernah sama. Jadi, harap sadar diri sejak awal.” Kalimat itu terdengar bagai petir di siang bolong. Diucapkan dengan tenang, tetapi nadanya terdengar menekan. Mata itu juga menyorot tajam, penuh akan penghakiman. Seolah-olah, semua kesalahan adalah ulahku. Padahal, aku tidak tahu apa-apa. Aku juga korban. “Yang aku cintai itu kakakmu, bukan kamu. Seterusnya akan begitu,” lanjutnya. “Kalau memang gitu, kenapa tetap mau menikahiku?” “Karena itu permintaannya.” “Permintaannya? Mbak Kiki sempat menghubungimu, Mas?” “Enggak usah banyak nanya.” Aku tersenyum miring. Merasa lucu dengan takdir yang sedang bermain-main. “Tapi karena aku sudah mengambil keputusan, kamu tenang saja. Aku akan tetap bertanggung jawab. Sebagai suami, aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Baik itu nafkah lahir maupun nafkah batin—" “Enggak perlu!” aku memotong cepat. “Lupakan soal nafkah batin. Nafkah lahir saja cukup.” “Oke.” “Kalau gitu, aku tidur di mana? Aku lelah.” “Kamar tidur utama. Itu pintunya.” Tangan kekar itu menunjuk pintu tinggi sebelah kanan. “Aku yang akan tidur di ruang kerja. Di sana ada ranjang.” “Makasih.” Aku bangkit, lalu menarik koperku. Aku ingin segera tidur. Resepsi hari ini terlalu melelahkan. “Naura …” “Apa?” aku berhenti sejenak, lalu menoleh. “Mau bahas Mbak Kiki lagi?” Dia menggeleng. “Lalu?” “Besok aku daftarkan sidik jarimu buat pintu rumah ini.” “Kalau tanpa sidik jari, PIN-nya berapa?” “Ulang tahun kakakmu.” Aku langsung tersenyum. “Oke.” Aku masuk kamar, menutup pintu, badanku pun langsung melorot ke lantai. Kubenamkan wajahku di antara kedua kaki. Air mataku pun mulai keluar. Elang Jagatra Adhiraja. Kenapa dia harus sebrengsek ini di malam pertama kami? ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
168.1K
bc

Serpihan Hati Yang Utuh

read
2.4K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.6K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.3K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
6.0K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.7K
bc

Terjerat Hasrat Suami Pengganti

read
170.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook