Di kantin lantai dasar, Clarissa duduk sendirian di keuangan, Sari Mendekat.
"Clar, lo makan sendirian?"
"Iya, Sar, * jawab Clarissa.
Sari duduk di seberangnya. "Clar, lo tahu nggak sih? Seisi kantor pada ngomongin lo sama Pak Yogi."
Clarissa berhenti mengunyah. "Ngomongin gue? Ngomong apa?"
" Lo sama Pak Yogi cocok," kata Sari.
"Enggak lah sar."
"Cocok lah. Lo cantik, Pak Yogi juga kayaknya perhatian sama lo. Jujur aja deh, Clar. Lo nggak kepikiran apa gimana?"
Clarissa menunduk. Jari-jarinya memainkan sedotan. "Enggak mungkin, San."
"Kenapa?"
"Ya gimana ya dia atasan, dan gue cuma sekretaris."
"Sekretaris? Bukan cuma itu lo tuh orang kepercayaannya. Coba deh liat, siapa lagi yang bisa masuk ruangan Pak Yogi tanpa ngetok pintu? Cuma lo."
Clarissa tidak menjawab.
Di ruangan , Yogi baru saja membuka ponsel. Satu pesan dari Jun.
Jun:
Gi, nanti malam ngopi di kafe langganan kayak biasa? Gabut gue.
Jun:
Pulang kerja, jangan telat.
Yogi:
Oke.
Dia meletakkan ponsel dan menatap cangkir kosong di mejanya. Kenapa sih, pikir Yogi, perempuan yang beneran baik justru susah didekatin? Dia menghela napas, lalu kembali ke monitor. Masih ada tiga email yang belum dibalas.
***
Res baru saja selesai mandi ketika ponselnya berbunyi, ia menekan tombol hijau di layar ponselnya
"Ya, Mi."
Dari seberang lautan, suara Ratih langsung terdengar. Bukan sekadar suara, tapi isakan. Tangis yang sudah menjadi langganan setiap kali telepon berdering di apartemen itu.
"Res, kapan pulang? Mami kangen banget, Nak. Mami enggak kuat nih, enggak kuat sendiri di sini. Mas Jun sibuk kerja mulu, papi juga sibuk. Mami sendirian terus."
Res menutup mata sejenak. "Mi, aku masih ada kerjaan."
"Kerjaan apa sih yang lebih penting dari Mami Nak?" Ratih mendengus, dan Res bisa mendengar suara sendok jatuh ke lantai di background. "Di Australia sana kamu cuma—"
"Mami."
"Jangan Mami-Mami terus. Dengerin Mami. Ini sudah berapa lama kamu di sana? Mami udah tua, Res. Mami kangen anak perempuan mami satu-satunya. Kamu enggak kangen Mami ya?"
Anak satu-satunya yang masih mau ditemani. Res tahu persis maksud kalimat itu. Jun memang jarang pulang karena harus bekerja.
"Event bulan ini selesai tanggal dua puluh lima," kata Res pelan. "Habis itu aku—"
"Event lagi, event lagi!" Tiba-tiba suara Ratih membesar, tapi bukan ke arah Res. "Bram! Bram, kamu denger ini? Anakmu sendiri lebih milih di sana daripada pulang ketemu ibunya. Ini semua karena kamu, Bram! Kamu yang suruh dia kuliah di sana, kamu yang beliin apartemen mewah itu, kamu yang—"
Res mendengar suara berat di kejauhan. Suara Bram, ayahnya, yang berusaha menenangkan. Tapi Ratih tak mau ditenangkan Ratih terus meratap, terus menyalahkan sang suami.
Res menatap kopinya. "Ya udah deh, Mami."
Ratih berhenti. "Yaudah apa?"
"Aku balik setelah event ini selesai," kata Res. "Tanggal dua puluh enam aku cari tiket. Paling telat seminggu setelah itu aku udah di Jakarta."
Diam sejenak, Ratih tak percaya. "Serius, Nak? Bener kan?"
"Serius Mi."
"Janji ya kamu Res?"
Res sibuk Dnegan rambutnya yang basah, lalu mengangguk meski ibunya tidak melihat. "Janji, Mami."
Ratih menangis lagi, tapi kali ini bukansedih tapi karena lega. Ratih berterima kasih berkali-kali, dan bilang akan menyiapkan kamar, bilang akan memasak ini dan itu, bilang Jun pasti senang. Res hanya mengangguk meski tahu Maminya tak bisa melihatnya.
Telepon ditutup setelah Ratih mengucap doa dan bersyukur berkali-kali. . Res meletakkan ponsel di meja, dia diam. Lalu mengambil kopinya, sudah dingin, tapi tetap diminumnya sampai habis.
Ia menghela napas, memikirkan besok lusa dia tetap handle event bulanan untuk perusahaan ayahnya Candramawa Corp di sini. Tapi minggu depan, atau minggu depannya lagi, dia akan pulang.
Ke Jakarta.
Ke rumah yang lama dia tinggalkan.
Di sebuah kafe di Jakarta, Yogi dan Jun duduk berhadapan. Satu membawa diri dengan tenang, satu lagi menyandarkan tubuh ke kursi dengan kaki disilangkan.
Juniar Laksamana Pratama Bramantyo, Jun, menggeser gelas es teh manisnya ke samping. Matanya tertuju pada pria di depannya. Alvian Yogi Mahendra. CEO Amore Corp. Perusahaan keuangan yang sedang naik daun. Tapi saat ini Yogi bukan sedang berpikir tentang saham atau perusahaan. Yogi sedang membaca pesan dari Clarissa gadis yang sedang dia taksir sambil sesekali menjawab dengan singkat.
"Gi, lo serius bakal dateng ke reuni kan?" tanya Jun.
Yogi mengangkat bahu tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. "Iya Dateng, kenapa enggak?"
"Karena gue tau Lo benci acara kayak gitu."
"Gue masih bisa mentolerir orang-orang kalau cuma sebentar."
Jun tertawa kecil. "Same old Yogi."
Yogi tak membalas senyum, matanya masih menatap pada layar ponsel, jarinya mengetik sesuatu untuk Clarissa.
"Kata nyokap gue," kata Jun pelan.
"Apa?"
"Res kayaknya mau balik."
Yogi berhenti mengetik, tapi bukan karena terkejut atau penasaran. Dia hanya menghela napas pendek, lalu melanjutkan pesannya ke Clarissa. Setelah mengirim, dia meletakkan ponsel di meja dan menatap Jun.
"Oh," kata Yogi. "Terus?"
"Ya seneng aja adik gue balik setelah lama di sana ?"
Yogi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bagus lah, adek Lo yang dulu resek dan nyebelin minta ampun itu balik. Lo jadi enggak kesepian."
Jun mengernyit. "Itu dulu, dia seka—"
"Enggak ada dulu dan sekarang," potong Yogi. Suaranya menunjukkan tak suka. "Dari dulu sampai sekarang gue tau dia resek, jahil, gangguin gue terus. Adik Lo itu makhluk paling menjengkelkan. Bukan sesuatu yang bikin gue bisa nunggu dia balik."
"Dia dua puluh tiga tahun sekarang, Gi. Udah dewasa."
"Ya, terus? Itu udah bawaan dia dari dulu "
Jun terdiam, kesal sedikit karena adiknya dikatai. Tapi dulu memang Res sering mengganggu, Jun sering mengajak res berkumpul dengan Kinan dan Yogi.
"Kinan gimana kabarnya?" Jun ganti topik.
Yogi mengambil ponselnya lagi. "Di Jerman. Sibuk sama perusahaan yang harus ditata ulang. Dia bilang usahain balik buat reuni."
"Bagus, jadi kita bertiga bisa kumpul lagi."
"Ya." Yogi menjawab tanpa antusiasme. Matanya sudah kembali ke layar ponsel, dan senyum itu muncul lagi.
"Clarissa?" tanya Jun.
"Iya Clarissa."
"Serius lo sama dia?"
Yogi mengangkat bahu. "Gue suka dia. Dia baik, pintar, dan enggak resek."
Jun tertawa. "Enggak resek, kriteria standar lo cuma itu."
"Kriteria standar gue adalah cewek yang enggak bikin gue kesel. Dan Clarissa memenuhi itu."
"Baguslah." Jun tidak menambahkan apa-apa lagi. Dia membayangkan Res yang akan pulang, bertemu dengan Yogi yang dingin. Penasaran bagaimana jahilnya adiknya sekarang..
"Gue pulang dulu. Alisha udah chat."
Yogi mengangkat alis. "Kamu sama Alisha masih?"
"Masih dong aman banget."
"Serius?"
"Serius."
"Baguslah, gue nunggu invite."
Jun tersenyum. "Doain aja, Gi."
Yogi mengangguk tanpa berdiri Jun pergi meninggalkan kafe itu, meninggalkan Yogi yang kembali fokus pada ponselnya — pada Clarissa, pada gadis yang benar-benar dia pedulikan.
***
Hari ini di apartemennya di Australia, Res selesai berkemas. Koper besar masih setengah kosong, tapi dia tidak terburu-buru. Masih ada waktu seminggu lagi sebelum dia benar-benar pulang. Ponselnya bergetar, pesan dari Indah, sahabatnya di Jakarta.
Indah:
Res, serius Lo balik jakarta?
Res:
Serius gue balik.
Indah:
Finally! Gue kangen banget tau! Kita jalan-jalan ya?
Res:
Oke kita jalan-jalan pas gue balik. .
Indah:
Oke gue tunggu.
Res tersenyum membalas pesan , lalu meletakkan ponselnya, dia akan kembali ke rumah. Kembali ke semua yang dia tinggalkan.
"Akhirnya pulang."