ENAM

1087 Words
Arkanu adalah kesalahan yang diterima bukan tanpa sebab. Sekar Ayu Hadinoto, maminya, merupakan anak seorang menteri yang kala itu masih aktif menjabat. Maminya menjalin hubungan terlarang ditengah pertunangan sang papi dengan wanita pilihan opanya. Hubungan terlarang yang akhirnya membuahkan hasil dirinya itu, tak pelak menggagalkan pertunangan papinya dan membuat maminya menyandang nama Diprojo dibelakang namanya. Namun, apalah arti sebuah nama keluarga jika nyatanya maminya tidak pernah benar-benar diterima. Background keluarganya yang kuat tak berlaku di hadapan ego serta kebencian sang opa. Bahkan setelah tiga puluh tahun berlalu, opanya tetap tak membuka pintu penerimaan untuk maminya. Pria itu hanya menerima para cucunya, tapi tidak dengan diri menantunya. Ah, mengingat itu, Arkanu pun menjadi kesal. “Sialan!” Desis Arkanu sebelum kemudian melirik Mikaela yang terlelap setelah kelelahan dalam menanggung hukuman darinya. Hukuman itu berlangsung cukup lama, dan liar, sehingga Mikaela pun terkapar tanpa sempat membersihkan dirinya. Salah Arkanu memang. Rasa marah yang timbul dari ketidakpatuhan Mikaela membuat ia kehilangan kendali. Entah berapa banyak puncak yang ia ledakkan, untungnya ia bisa berhenti sebelum membuat Mikaela benar-benar pingsan karena menanggung keliarannya. “s**t!” Arkanu menelan kasar air liurnya. Hanya dengan melihat Mikaela, pusat tubuhnya yang sempat tertidur, kembali terjaga meminta untuk segera dipertemukan dengan milik Mikaela. Betapa menjijikkannya ia sekarang. Sekalipun ia kerap mewarnai malamnya dengan para wanita bayaran kelas atas, tapi ia tak pernah menjadi monster gila yang selalu merasa haus akan sebuah percintaan. Ia bahkan tak menyentuh wanita yang sama, kecuali itu tunangannya. Elea adalah pengecualian sekalipun ia tak pernah merasa puas dengan permainannya. Lantas, mengapa bersama Mikaela berbeda? Apa yang membuat wanita itu tak sama sehingga ia tak bisa merasa cukup meski telah berulang kali bercinta dengannya? Pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak dan tanpa Arkanu sadari, tubuhnya telah berpindah, memerangkap kembali Mikaela ke dalam pusat kendali gairahnya. “Enghh..” Dalam tidurnya, Mikaela mengerang. Mungkin karena terlalu lelah, wanita yang mengandung benih Arkanu itu tetap terlelap, tak terganggu dengan pergerakan pria di atasnya. Setelah memastikan Mikaela siap untuk menerima dirinya, Arkanu menyentak lembut miliknya. Tindakannya itu membuat Mikaela kembali mengerang, dan kali ini, Arkanu membalasnya dengan, “Ssst.. Saya tahu kamu lelah. Tidur saja. Saya akan pelan-pelan.” ** Arkanu sempat tertidur setelah ia menuntaskan dahaganya. Lelapnya menghilang sebab sang mami tiba-tiba saja menepuk pundaknya, meminta agar ia segera mengenakan pakaiannya. “Jangan bangunkan dia. Melihat tanda ditubuhnya, Mami tahu sekeras apa permainan kalian.” Sekar, wanita itu mendesah sebelum kemudian melangkah meninggalkan kamar putranya. Ia tak menyangka jika putranya benar-benar menjalin hubungan terlarang dengan asisten pribadinya. Sekar pikir, suaminya hanya membual karena pria itu mengatakan tentang sang putra yang telah menikah serta menghamili asistennya. “Gin, kamu ke unitnya Mbakmu dulu ya. Mami mau ngomong empat mata sama Mas Arkan.” Giana Ayu Diprojo, adik perempuan Arkanu itu menganggukkan kepala. Perubahan drastis wajah maminya sudah menjelaskan akan serumit apa pembicaraan ibu dan kakak lelakinya. “Kalau udah mau pulang, Mami telepon aja. Ntar Gia tunggu di depan.” “Makasih, Sayang.” Kelembutan Sekar menghilang begitu anak keduanya pergi tergantikan oleh anak sulungnya yang baru saja mengeluarkan diri dari kamarnya. “Mas gila? Kalau cuman buat main-main, kenapa pake dihamilin segala dianya?” hardik Sekar bersama tamparan yang ia daratkan ke d**a putranya. “Kamu nggak kasihan Mami, Mas? Kalau Opa kamu tahu gimana? Abis Mami, Mas, Abis! Hiks..” Melihat sang mami sampai mengeluarkan air mata membuat Arkanu merasa bersalah. “Maaf, Mi.. Maafin Mas karena udah nempatin Mami di situasi yang nggak baik ini.” “Lepasin dia, Mas. Seperti yang Papi kamu bilang, dia berbeda, anak kalian nggak akan pernah mungkin bisa diterima Opa.” Deg! Jantung Arkanu berdetak keras. Tatapannya mengosong, dan raut wajahnya tampak seperti orang yang ketakutan. “Dengerin Mami, Mas. Buang wanita itu. Cukup kasih dia uang buat dia ngehidupin anaknya. Lakuin apa yang Mami bilang sebelum semuanya jadi tambah parah.” Arkanu luruh, bersimpuh tepat di hadapan wanita yang melahirkannya. Tangannya bergetar, meraih pinggiran yang maminya kenakan. “No.. Eng.. Enggak, Mi. Mas nggak bisa. M-Mas..” Arkanu kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Ia hanya mampu menggelengkan kepala. Menatap putus asa maminya seolah ia tak memiliki lagi tanda-tanda kehidupan di dalam dirinya. “Ya Tuhan, Arkanu. Sadar Ar, Sadar!” Sekar merunduk, mengguncang bahu Arkanu keras. “Kamu nggak akan bisa ngelindungin dia dari Opa, Arkan. Nggak akan! Kamu pikir, kemampuan kamu aja cukup untuk ngejagain dia? Bangun, Ar. Kalau bukan karena Mami anak mantan menteri, Mami juga nggak akan mungkin bisa berdiri di depan kamu kayak sekarang ini.” “Opa kamu nggak akan memutus pertunangan kamu hanya karena dia hamil, Nak. Kehamilannya bukan harga yang pantas untuk melepaskan keluarga Elea.” “M-Mas akan tetap nikahin Elea, Mi. M-Mas nggak akan batalin pernikahan kami. Iya, pernikahannya nggak akan batal. K-Kalau Elea mau, Elea bisa ambil anak itu, a-asalkan dia..” Plak! Sekar tak lagi bisa menahan tangannya untuk menampar wajah putranya. “b******k sekali kamu, Ar. Kamu pikir ada wanita yang mau menerima anak dan istri gelap calon suaminya? Kalaupun iya, keluarganya pasti nggak akan mau! Kalau kamu lupa, mereka itu Sasongko, Arkanu, Sasongko!” Dibalik daun pintu, Mikaela meremas dadanya. Wanita itu terjaga setelah mendengar teriakan yang menyebut jika seseorang akan habis, entah dikarenakan apa. Setelah lama menguping, Mikaela pun menyesali tindakannya. Jika saja waktu bisa diputar, ia tidak akan mencuri dengar pertengkaran yang terjadi di luar sana. “Jahat..” lirih Mikaela, menepuki dadanya yang nyeri hingga membuat ia sesak bak kehilangan napas. Demi Tuhan pengatur jalan hidupnya, jadi seperti itukah akhir dari kehamilannya? Setelah dipaksa menikah, ia pun akan dipaksa untuk melepaskan anak yang dilahirkannya? Sebenarnya, apa kesalahannya sampai hidupnya dipermainkan? “Kalau kamu nggak bisa mengusir dia, biar Mami yang melakukan.” Harga diri yang nyaris tak bersisa itu, Mikaela ingin menyelamatkannya. Sekalipun artinya ia harus lebih menderita nantinya, ia akan memilihnya dibandingkan hidup dengan merelakan anak yang dilahirkannya kelak. Klek.. “Saya akan pergi, Bu.” Ucap Mikaela, tepat setelah ia membuka pintu kamar Arkanu. Arkanu yang mendengarnya melebarkan mata. Pria itu bergegas bangkit, menyambar pergelangan tangan Mikaela, “Bicara apa kamu?!” kemudian membentaknya dengan begitu keras. “Dengar, apapun yang terjadi, saya tidak akan melepaskan kamu dari genggaman saya.” Imbuhnya, lalu menyeret Mikaela masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci wanita itu seorang diri disana. Menyaksikan betapa merahnya wajah sang putra, Sekar pun menyadari satu hal— dimana sadar atau tidak, putranya telah terikat terlalu dalam, dan ikatan itu, akan menarik putranya ke dalam neraka yang ia ciptakan sendiri keberadaannya. “Mas, kamu.. Kenapa baru sekarang kamu gilanya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD