Bab 9

1200 Words
“Padahal sekarang kamu asisten pribadi saya.” Anita terdiam. “Kalau Tuan mau bercerita, saya akan mendengarkan.” Haris menatapnya. Lama. Lalu berkata pelan, “Kadang jadi pewaris itu melelahkan. Semua orang punya ekspektasi.” Anita mengangguk. “Saya tidak tahu rasanya, tapi… sepertinya berat.” “Berat,” ulang Haris singkat. Sejak percakapan itu, ada perubahan kecil tapi terasa. Haris tidak lagi sepenuhnya tertutup. Ia mulai bercerita soal pekerjaannya, konflik di perusahaan, bahkan sedikit tentang keluarganya—tanpa menyebut Lidya. Sebaliknya, Anita juga mulai lebih terbuka. Ia bercerita tentang ibunya, tentang perjuangannya mempertahankan beasiswa, tentang ketakutannya gagal. Suatu malam, mereka pulang lebih larut dari biasanya. Hujan turun deras. Mobil berhenti di depan mansion. Anita hendak turun, tapi Haris menahan. “Tunggu.” Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Anita, menahan payung di atas kepala gadis itu. Anita terkejut. “Tuan, saya bisa sendiri.” “Diam.” Anita menunduk, menahan senyum. Saat berjalan berdampingan, jarak mereka sangat dekat. Tangan Haris hampir menyentuh tangan Anita. Ia sengaja tidak menariknya menjauh. Masuk ke dalam, Anita sedikit basah. Haris mengambil handuk kecil dan menyerahkannya. “Keringkan rambutmu.” “Tuan—” “Jangan bantah.” Anita menurut. Pemandangan itu membuat Haris menelan ludah. Rambut Anita yang basah, wajahnya tanpa riasan, ekspresinya polos. Ada dorongan kuat di dadanya—keinginan untuk menyentuh, tapi ia menahannya. “Kamu istirahat saja malam ini,” katanya akhirnya. “Besok kamu ada kelas pagi.” Anita mengangguk. “Terima kasih, Tuan.” Namun sebelum pergi, Haris memanggilnya lagi. “Anita.” “Iya?” “Kamu… nyaman di sini?” Pertanyaan itu membuat Anita terdiam sejenak. “Nyaman, Tuan. Walaupun masih canggung.” Haris mengangguk pelan. “Bagus.” Malam itu, Anita tidur dengan perasaan yang aneh—tenang tapi gelisah. Hari berikutnya, konflik kecil mulai muncul. Lidya datang ke mansion tanpa pemberitahuan. Anita sedang membantu Haris di ruang kerja ketika pintu terbuka. “Sayang,” suara Lidya terdengar manja. “Kamu sibuk?” Haris menegang. “Ada apa?” Tatapan Lidya langsung tertuju pada Anita. Tajam. Tidak ramah. “Kamu lagi-lagi sama dia?” tanya Lidya, nadanya turun. Anita refleks berdiri. “Saya pamit dulu, Tuan.” Haris menahan. “Tidak perlu.” Satu kalimat itu membuat Lidya terdiam. “Kamu sekarang lebih sering bersamanya daripada denganku,” ucap Lidya dingin. Haris menatapnya datar. “Dia bekerja.” “Pelayan tidak seharusnya sedekat itu.” Haris berdiri. “Saya yang mengatur.” Anita menunduk, jantungnya berdebar. Setelah Lidya pergi dengan wajah masam, ruangan terasa sunyi. “Maaf, Tuan,” ucap Anita pelan. “Kamu tidak salah.” “Tapi—” “Hentikan,” potong Haris. “Selama kamu di sini, saya yang bertanggung jawab.” Kalimat itu membuat Anita terdiam. Ada rasa aman, tapi juga rasa takut. Malam itu, Anita menulis catatan kecil di bukunya: Aku harus hati-hati. Ini bukan tempat untuk berharap. Sementara Haris, di kamarnya, menatap langit-langit lama. Ia sadar, semakin lama Anita di dekatnya, semakin sulit ia berpura-pura. **** Sejak kedatangan Lidya hari itu, suasana di mansion berubah tanpa ada yang mengatakannya secara langsung. Anita merasakannya paling jelas. Ia menjadi lebih berhati-hati, memilih diam lebih sering, menjaga jarak yang sebelumnya mulai menipis. Bukan karena Haris berubah dingin—justru sebaliknya—melainkan karena Anita sadar, ia berada di wilayah yang berbahaya. Namun Haris tidak bodoh. Ia menyadari perubahan kecil itu. Pagi itu, Anita tidak lagi berdiri terlalu dekat saat membantu Haris mengenakan jas. Tangannya cekatan, tapi cepat menarik diri. Tatapannya tidak lagi berlama-lama. “Kamu kenapa?” tanya Haris akhirnya. “Tidak apa-apa, Tuan,” jawab Anita cepat. “Kamu menghindar.” Anita terdiam sesaat, lalu menunduk. “Saya hanya… menjaga sikap.” Jawaban itu membuat Haris terdiam lebih lama dari yang ia perkirakan. Ada sesuatu di dadanya yang terasa tidak nyaman. “Siapa yang menyuruhmu menjaga sikap seperti itu?” tanyanya rendah. Anita menggeleng. “Tidak ada.” “Tapi kamu berubah.” Anita menghela napas pelan. “Saya hanya ingat posisi saya, Tuan.” Kalimat itu seperti tamparan halus. Haris tidak menjawab. Ia membiarkan Anita menyelesaikan tugasnya, lalu keluar kamar tanpa menoleh. Di perjalanan menuju kantor, suasana terasa kaku. Tidak ada obrolan ringan seperti biasanya. Anita menatap keluar jendela, Haris fokus ke jalan. Sesampainya di kantor, Haris langsung tenggelam dalam pekerjaan. Rapat beruntun, panggilan tanpa henti, dan tekanan yang semakin menumpuk. Namun di sela semua itu, pikirannya justru sering kembali pada satu hal—jarak. Sore hari, saat Anita menyerahkan berkas laporan, Haris akhirnya berbicara. “Kamu tidak perlu sejauh itu.” Anita mengangkat wajahnya. “Maksud Tuan?” “Menjauh.” Anita tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Saya hanya profesional.” Haris menghela napas. “Kamu tahu, saya tidak pernah memperlakukan kamu seperti bawahan biasa.” “Itu justru yang membuat saya harus berhati-hati,” jawab Anita jujur. Kali ini Haris tidak memotong. Ia menatap Anita lama. “Apa kamu tidak nyaman dengan saya?” Pertanyaan itu membuat Anita terkejut. “Bukan begitu.” “Lalu?” “Saya nyaman,” ucap Anita pelan. “Terlalu nyaman.” Jawaban itu menggantung di udara. Haris menelan ludah. “Kamu boleh pulang lebih awal hari ini,” katanya akhirnya. Anita mengangguk, lalu pergi tanpa menoleh lagi. Malam itu, Haris tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon, memikirkan kalimat Anita. Terlalu nyaman. Kata-kata sederhana, tapi menghantam keras. Ia sadar, selama ini ia menikmati kehadiran Anita tanpa memikirkan konsekuensinya. Ia lupa satu hal penting—ia bertunangan. Hari-hari berikutnya berjalan canggung. Haris mencoba menjaga jarak, tapi justru semakin sulit. Setiap kali Anita ada di dekatnya, semua terasa lebih ringan. Saat gadis itu tidak ada, mansion terasa sunyi. Suatu malam, Anita pulang lebih larut dari biasanya karena ada kelas tambahan. Saat ia masuk mansion, lampu ruang tengah masih menyala. Haris duduk di sofa, dasinya sudah dilepas. “Kamu baru pulang?” tanya Haris. “Iya, Tuan. Maaf.” “Kemari.” Anita ragu sejenak, lalu mendekat. “Kamu capek,” ucap Haris datar. “Sedikit.” Haris berdiri, lalu tanpa sadar meraih pergelangan tangan Anita. Sentuhan itu membuat keduanya terdiam. Haris langsung melepaskan. “Maaf,” katanya cepat. “Tidak apa-apa,” jawab Anita, meski jantungnya berdebar. Haris mengusap wajah. “Saya ingin jujur.” Anita menegang. “Sejak kamu di sini, banyak hal berubah,” lanjut Haris. “Saya tidak biasa merasa… nyaman dengan orang lain.” Anita menunduk. “Tuan, sebaiknya kita—” “Saya tahu,” potong Haris. “Saya tahu posisi kita. Saya tidak ingin melangkah salah.” Anita mengangguk pelan. “Terima kasih sudah mengerti.” Namun saat Anita hendak pergi, Haris memanggilnya lagi. “Anita.” “Iya?” “Kamu penting buat saya.” Kalimat itu membuat Anita berhenti. Ia menoleh perlahan. “Tapi saya tidak tahu harus menempatkan kamu di mana,” lanjut Haris jujur. Anita tersenyum tipis. “Sebagai seseorang yang bekerja dengan baik saja sudah cukup, Tuan.” Jawaban itu dewasa, tapi justru membuat d**a Haris terasa sesak. Beberapa hari kemudian, Anita jatuh sakit. Demam tinggi membuatnya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ajudan Haris melapor, dan tanpa ragu Haris langsung pulang lebih awal. Saat Haris masuk kamar Anita, gadis itu terkejut. “Tuan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD