Safira sedang melihat pantulan dirinya di cermin. Ia begitu cantik memakai kebaya. Ia cukup memoles wajahnya senatural mungkin agar tidak terlihat berlebihan. Ia sudah siap untuk menghadiri acara wisuda hari ini tapi hati kecilnya sedikit kecewa dan sedih karena suaminya tidak bisa datang. Ingin rasanya di hari bahagianya ini, Safira berharap ada Kafka suaminya. Ingin sekali ketika prosesi wisuda itu berlangsung suaminya bisa ikut menyaksikan. Karena bagaimanapun juga sang suami memiliki andil yang besar dalam keberhasilannya mendapatkan gelar sarjana. Safira ingat bagaimana Kafka terus membantunya ketika membuat skripsi ini. Bahkan Kafka sering menemaninya membuat skripsi ini walaupun ia baru saja pulang kerja. Pokoknya Kafka selalu ada disaat Safira mulai menyerah dengan skripsi yang tak