Bab 41

1259 Words

Malam itu, Elmira duduk di ruang kerjanya sendirian. Laptop menyala, menampilkan berkas-berkas yang ia terima dari seorang sumber anonim. Tangannya gemetar, keringat dingin membasahi pelipis. “Ini… terlalu rapi,” gumamnya. Setiap dokumen terlihat meyakinkan, tapi ada sesuatu yang menggelitik intuisi Elmira. Seakan semua itu sengaja disusun untuk menggiringnya pada kesimpulan tertentu. Ia menutup laptop dengan kasar, lalu berdiri, mondar-mandir. Di luar, suara hujan deras menabrak jendela. Rumah yang biasanya terasa hangat mendadak terasa seperti perangkap. Elmira mengambil ponsel, jari-jarinya ragu di atas layar. Ia ingin menelepon Malik, menceritakan semua. Tapi suaminya sudah terlalu letih menghadapi serangan demi serangan dari Surya. “Kalau aku kasih tahu sekarang, dia pasti marah.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD