Pagi itu, suasana rumah terasa lebih senyap dari biasanya. Elmira duduk di meja makan, memutar sendok kecil di dalam cangkir tehnya. Malik belum turun, dan entah kenapa, ia berharap pria itu tidak muncul. Percakapan mereka di mobil semalam masih membekas. Perasaan bahwa ia hanyalah figuran dalam cerita hidup Malik—semakin kuat. Saat pintu dibuka dan langkah kaki Malik terdengar, Elmira segera menegakkan tubuhnya. “Pagi,” ucap Malik sambil duduk di seberang. “Pagi,” jawab Elmira pendek. Diam. Hanya suara sendok dan derit kursi. Malik melirik ke arahnya, seperti ingin bicara, tapi ditahannya. Akhirnya Elmira yang bertanya lebih dulu, “Kau akan ke kantor hari ini?” “Ya. Banyak yang harus aku urus setelah acara tadi malam.” “Oh.” Elmira mengangguk pelan. Lalu, sesuatu keluar begitu sa

