Bab 4

1067 Words
Liana mengangkat tangannya pelan, lalu menekan telunjuknya tepat ke d**a Virion. Tatapannya menusuk, nadanya dingin namun penuh kendali. "Aku tahu, aku tidak diundang ke sini untuk sekadar berbasa-basi," ucapnya tajam. Pandangannya lalu menyapu sekeliling ruangan, meneliti para pengawal yang berdiri kaku bagai patung. "Kau bukan tipe pria yang suka mempertontonkan urusan pribadi di depan bawahannya. Jadi langsung saja, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" Virion terkekeh pelan. Tawa itu rendah, mengandung sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan. "Kau memang selalu bicara tanpa tedeng aling-aling. Baiklah." Ia membalikkan badan, melangkah santai menuju meja kerjanya. Dari sana, ia mengambil sebuah kotak kecil, lalu menyodorkannya pada Liana dengan ekspresi datar namun penuh makna. "Untuk malam nanti," katanya singkat. "Dan pastikan kau tidak mempermalukanku." Liana menyeringai miring, tatapan sinis berkilat di matanya. "Sejak kapan aku pernah mempermalukan diriku sendiri?" katanya, menggulung nada ejekan dalam suara yang masih terdengar manis. "Kalau kau butuh seseorang yang tahu cara mencuri perhatian, maka kau memang sudah datang ke orang yang tepat." Ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya, terlipat dengan rapi, ada selembar gaun sutra yang membungkus sesuatu, sebuah undangan. Liana mengangkat alis, lalu membaca isi kartu itu cepat. "Ah... pernikahan mantan pacar?" gumamnya sembari tertawa kecil. "Kau serius mengajakku ke acara seperti ini?" Tatapan Virion langsung mengeras. Matanya menajam, dingin dan penuh peringatan. "Jangan terlalu banyak bicara, Liana. Kau tahu apa yang terjadi terakhir kali saat kau tak menuruti perintah." Liana tidak mengalihkan pandangan. Justru kini ia melangkah lebih dekat, mempersempit jarak di antara mereka. "Aku hanya bertanya," balasnya dengan nada santai, walau bibirnya menyimpan tantangan. "Aku tak tahu kalau pertanyaan sederhana bisa menyinggungmu sedalam itu." Virion menyipitkan mata. Nadanya kini berubah dingin, tajam, dan mengancam. "Percayalah, ada banyak cara untuk membuat seseorang diam, Liana. Dan aku tidak pernah memilih cara-cara yang biasa." ** Matahari mulai tergelincir, menyisakan cahaya keemasan yang menari di sepanjang jendela kaca mansion. Di dalam kamar luas bernuansa elegan, Liana berdiri mematung di depan cermin tinggi, menatap bayangannya sendiri dengan sorot mata tajam namun tak dapat menyembunyikan keterpukauan. Gaun yang diberikan Virion, sutra berwarna merah marun yang membalut tubuhnya dengan sempurna menggantung indah di setiap lekuk. Belahan d**a berbentuk hati memperlihatkan garis halus tulang selangka, sementara punggungnya dibiarkan terbuka, hanya dilintasi tali-tali tipis yang terjalin rumit namun menggoda. Rok panjang dengan belahan tinggi di paha kirinya membuat setiap langkah Liana tampak seperti gerakan seorang ratu yang tahu cara mengendalikan medan. Rambutnya digelung sebagian ke atas, menyisakan beberapa helai ikal lembut yang jatuh di sisi wajah, menciptakan kesan anggun sekaligus berbahaya. Makeupnya sempurna tegas di mata, lembut di bibir. Bukan mencolok, tapi mencuri perhatian dengan cara yang halus dan tak terlupakan. Dina berdiri tak jauh darinya, hampir ternganga melihat perubahan sang wanita yang sebelumnya lebih sering terlihat dingin dan kasar, kini menjelma menjadi sosok memesona yang menyilaukan. “Luar biasa, Nyonya,” bisik Dina. “Tuan Virion tidak akan berkedip melihat Anda.” Liana mengangkat alis, lalu tersenyum tipis, samar, nyaris tak terlihat. “Bukan cuma Virion. Aku ingin semua mata tertuju padaku malam ini. Termasuk pengantin wanita yang pernah jadi miliknya.” Sepatu hak tinggi berwarna hitam pekat kini telah membalut kakinya. Ia berjalan keluar kamar dengan langkah tegap namun berirama. Setiap detik yang dilaluinya terasa lambat, seperti adegan film klasik yang menampilkan wanita dengan misi berbahaya. Saat tiba di lantai bawah, dua pengawal Virion terdiam sesaat, lalu buru-buru membuka pintu mobil mewah yang telah disiapkan. Di dalamnya, Virion sudah menunggu. Ia tengah mengecek sesuatu di ponselnya, namun begitu melihat Liana masuk, pandangannya langsung terangkat. Detik berikutnya, ia terdiam. Matanya menyapu Liana dari atas ke bawah. Bibirnya yang biasanya tersenyum dengan angkuh kini tertahan separuh, seperti kehilangan kata. “Kau...” katanya, suaranya parau. “Kau benar-benar melampaui ekspektasi.” Liana duduk dengan anggun, menyilangkan kaki dan melipat tangan di pangkuan. “Kau memberiku gaun seperti ini. Kupikir akan sia-sia kalau tidak kupakai dengan maksimal.” Virion menatapnya dalam-dalam, lalu tertawa kecil, pelan namun sarat makna. “Kau ingin membuat malam ini berkesan, ya?” Liana menoleh padanya. Senyumnya manis tapi beracun. “Aku tidak datang ke pesta mantanmu hanya untuk berdiri diam. Aku datang untuk mengingatkan mereka semua... siapa yang seharusnya mereka takutkan.” Mobil pun melaju, membawa dua sosok yang tampak seperti pasangan sempurna. Namun, di balik keanggunan dan kemewahan malam itu, tersimpan rencana dan dendam yang belum terbayar. *** Mobil hitam mengilap itu meluncur mulus ke pelataran gedung megah tempat pesta pernikahan digelar. Gedung tersebut berdiri angkuh dengan lampu-lampu kristal yang bersinar seperti bintang, dan karpet merah yang membentang dari pintu masuk hingga ke dalam aula. Para tamu bergaun mahal dan jas rapi telah memadati tempat, menikmati alunan musik klasik serta hidangan mewah yang disuguhkan. Dari dalam mobil, Liana memandang keluar jendela dengan tatapan tenang, seolah tak terpengaruh suasana pesta. Namun pikirannya tajam, penuh strategi. Ia tahu, malam ini bukan sekadar datang dan tersenyum. Ini pertunjukan. Dan ia, bersama Virion, adalah pemeran utama yang harus memukau. Virion melirik arlojinya. Sudah waktunya. Sebelum turun, ia menoleh ke arah Liana dan membuka suara dengan nada datar namun dingin. "Jangan buat kesalahan sedikit pun malam ini, Liana," ujarnya, matanya menusuk. "Jangan sampai kau mempermalukan diriku... atau dirimu sendiri. Mengerti?" Liana menoleh dengan senyum sinis yang menghiasi bibirnya. “Aku tahu cara membuat panggung ini milikku. Aku tak butuh pengingat, Tuan Calderon,” sahutnya ketus, tapi tenang. Ia menambahkan dengan suara yang sedikit menantang, “Kecuali kau mulai meragukan pilihamu sendiri.” Virion hanya menatapnya sejenak sebelum membuka pintu mobil dan turun terlebih dulu. Sorot kamera dari wartawan dan tamu undangan langsung menghujani dirinya. Nama Calderon memang punya magnet sendiri dalam acara-acara semacam ini. Namun, suasana seketika berubah ketika pintu mobil sebelahnya dibuka dan Liana muncul dari baliknya. Gaun merah marun yang membalut tubuhnya memantulkan cahaya, menciptakan ilusi seolah ia bersinar sendiri. Rambut yang disanggul rapi dengan beberapa helai ikal jatuh di sisi wajah menambah aura elegan. Tumit tinggi membuat langkahnya terlihat anggun, dan tatapan tajam dari matanya seperti menantang siapa pun yang berani menganggap remeh. Liana hendak melangkah sendiri, seperti biasanya. Tapi tiba-tiba, tangan Virion terulur ke arahnya sebuah gerakan yang tidak ia duga sebelumnya. Sejenak, Liana terdiam. Mata mereka bertemu. Ada kejutan samar di matanya, namun ia segera menutupinya dengan ekspresi tenang. Tanpa berkata apa pun, ia menerima uluran tangan itu, meletakkan jemarinya di atas telapak Virion dengan gerakan penuh percaya diri. Keduanya kemudian melangkah bersamaan. Bergandengan. Dan seketika, aula yang semula ramai oleh percakapan dan musik seolah mendadak membeku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD