Fre berdiri di depan cermin kamarnya lebih lama dari biasanya.
Pakaian kampusnya sudah rapi, rambutnya tergerai lembut di bahu. Namun entah kenapa, ia merasa ada yang berbeda hari ini, karena seseorang.
Fre menatap bayangannya sendiri.
Kenapa aku jadi seperti ini…?
Bayangan wajah Stenly muncul di kepalanya.
Cara pamannya itu menatapnya, cara tangannya membelai rambutnya, bahkan suara beratnya yang selalu terdengar tenang, semuanya terus berputar di pikirannya.
Fre menghembuskan napas panjang, ia tahu ini salah. Tapi ia tidak bisa berhenti memikirkan semua itu.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu kamarnya.
“Sudah siap?” suara Stenly terdengar dari luar.
Jantung Fre langsung berdegup lebih cepat.
“I-iya, Paman,” jawabnya.
Fre membuka pintu dan detik itu juga, napasnya seperti tertahan.
Stenly berdiri tepat didepannya dengan kemeja abu-abu yang pas di tubuhnya.
Lengan bajunya tergulung, memperlihatkan otot yang tegas. Wajahnya tenang, tapi tatapannya terlalu dalam, seolah sedang menilai.
“Kamu … cantik,” puji Stenly.
Fre membeku. Pertama kalinya pamannya itu mengatakan hal seperti itu secara langsung.
“Terima kasih, Paman,” jawab Fre, suaranya hampir tak terdengar.
Stenly mengangguk, lalu berbalik. “Ayo. Nanti terlambat.”
Fre mengikuti dari belakang.
Namun sepanjang perjalanan menuju mobil, Fre tidak bisa berhenti menatap punggung Stenly yang tegap dan terasa begitu dekat, meski seharusnya tidak.
Di tengah perjalanan saat ini, sungguh berbeda, tak seperti biasanya, Fre diam saja dan tidak mengatakan apa pun.
Fre duduk di kursi penumpang, mencuri pandang ke arah Stenly yang fokus menyetir.
Jari-jarinya menggenggam setir dengan kuat. Rahangnya terlihat mengeras, seolah ia sedang menahan sesuatu.
Fre menggigit bibirnya pelan.
Kenapa aku terus memperhatikannya?
“Kalau mau lihat, lihat saja,” ucap Stenly tiba-tiba.
Fre tersentak. “Apa?”
“Kamu dari tadi melihatku, Fre,” lanjutnya tanpa menoleh.
Wajah Fre langsung memanas. “Aku nggak—”
“Kamu gugup,” potong Stenly.
Fre menelan ludah. “Nggak, Paman.”
Stenly akhirnya meliriknya. Tatapan itu, membuat Fre langsung kehilangan kata-kata.
“Kenapa?” tanya Stenly pelan.
Fre tidak menjawab, i tidak tahu harus menjawab apa. Yang ia tahu hanya satu, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Mobil berhenti di lampu merah. Dan, suasana di dalam mobil berubah, hening dan penuh ketegangan.
Stenly mematikan AC mobil, membuat udara terasa sedikit hangat.
Fre mengerjapkan mata.
“Ada apa, Paman?”
Stenly tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Fre cukup lama.
“Jangan seperti itu lagi,” ucapnya akhirnya.
“Seperti apa?”
“Melihatku seperti tadi.”
“Kenapa?” tanyanya lirih.
Stenly menghela napas pelan. “Karena aku bukan orang yang seharusnya kamu lihat seperti itu.”
Kalimat itu seharusnya membuat Fre mundur. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Fre tersenyum tipis. “Kalau begitu … Paman jangan terlihat seperti itu.”
“Apa maksudmu?”
Fre sedikit mendekat. “Jangan terlihat terlalu menarik.”
Lampu berubah hijau, mobil kembali berjalan. Namun suasana di dalamnya sudah tidak sama lagi.
***
Hari di kampus berjalan kabur bagi Fre, ia tidak benar-benar mendengar dosen, ia juga tak benar-benar fokus pada mata kuliah.
Yang ada di pikirannya hanya satu, percakapan di mobil tadi dan tatapan pamannya.
Setiap kali mengingatnya, jantungnya berdetak lebih cepat. Seolah ada sesuatu yang perlahan bangkit di dalam dirinya.
Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Selesai dua mata kuliah, Fre beres-beres bukunya, Jema datang dan menghampirinya.
“Makan yuk,” ajak Jema.
“Ngga, Jema. Gue di jemput.”
“Sama siapa? Paman lo lagi?”
“Yes. Paman gue.”
“Kok Paman lo jemput mulu, Fre?” tanya Jema memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya.
“Semenjak kejadian itu, bokap nyokap kan ke Eropa, jadi gue di jagain paman dulu.”
“Lo kayak anak kecil aja dijagain,” kekeh Jema.
“Lo kan tahu kejadian kemaren, nah itu tuh yang buat paman gue jagain gue.”
“Ya udah. Lain kali aja kalau gitu, tapi awas loh, Fre, entar jatuh cinta loh sama paman lo. Soalnya paman lo itu tampan banget, masih muda juga kelihatannya, nggak kayak bokap lo. Apa lo gak berdebar gitu serumah dengan paman ganteng.”
“Ahh udah lah, paman gue kayaknya udah nunggu didepan. Sampai ketemu besok. Baii.” Fre melambaikan tangannya.
Siang menunjukkan pukul dua. Fre keluar dari kampus dan seperti kemarin, Stenly sudah menunggunya.
Namun kali ini, Fre tidak langsung masuk ke mobil. Fre berdiri beberapa detik, memperhatikan pria itu dari jauh.
Stenly sedang bersandar di mobilnya, berbicara di telepon. Wajahnya serius, aura dinginnya begitu terasa.
Kenapa dia terlihat berbeda di luar dan berbeda saat bersamaku?
“Sudah selesai?” tanya Stenly setelah menutup telepon.
Fre mengangguk.
“Kemari.”
Fre mendekat dan masuk ke mobil. Namun sebelum ia sempat menutup pintu, Stenly menahan tangannya.
Fre menoleh. “Ada apa?”
“Kamu capek?” tanya Stenly.
Fre menggeleng. Namun matanya mengatakan sebaliknya.
Stenly menghela napas, lalu tanpa peringatan mengusap pipi Fre dengan ibu jarinya.
Fre membeku, sentuhan itu lembut. Tapi efeknya, menggetarkan seluruh tubuhnya.
“Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Stenly pelan.
Fre tidak menjawab, ia tidak bisa. Karena saat ini, yang ia pikirkan bukan kampus, tapi sentuhan itu.
“Ayo pulang,” ajak Stenly lalu mengemudikan mobilnya.
Malam datang lebih cepat dari biasanya.
Fre selesai mandi dan keluar dari kamar dengan pakaian santai, kaus tipis dan celana pendek. Ia berniat ke dapur untuk mengambil air.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Stenly di ruang tengah.
Pria itu duduk santai, membuka beberapa kancing kemejanya, memperlihatkan sebagian dadanya.
Fre menelan ludah.
Kenapa dia selalu seperti ini tanpa sadar?
“Belum tidur?” tanya Stenly.
Fre menggeleng. “Mau ambil minum.”
“Ambil saja.”
Fre berjalan ke dapur, tapi ia bisa merasakan tatapan Stenly mengikutinya. Dan, itu membuatnya semakin gelisah.
Fre mengambil segelas air. Namun saat berbalik, Stenly sudah berdiri tepat di belakangnya.
Fre terkejut. “Pa-paman?”
Jarak mereka terlalu dekat. Fre bisa mencium aroma tubuh pria itu, maskulin dan memabukkan.
“Kamu menghindar dariku?” tanya Stenly pelan.
Fre menggeleng cepat. “Nggak, Paman.”
“Lalu kenapa sejak tadi kamu gelisah?”
Fre menatapnya. “Paman juga sama. Paman berubah.”
“Aku tidak berubah.”
“Berubah,” tegas Fre pelan.
Napas mereka saling bersentuhan. Fre menatap mata Stenly dalam-dalam.
“Kenapa Paman melihatku seperti itu?” tanya Fre.
Stenly menelan ludah, ia tahu pertanyaan itu berbahaya.
“Fre.”
Namun, Fre tidak memberinya waktu. Ia melangkah lebih dekat.
“Jawab aku.”
Stenly mengangkat tangannya, berniat menjauhkan Fre.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, tangannya berhenti di pinggang Fre dan tidak bergerak.
Fre merasakan itu dan ia tidak mundur.
“Kenapa?” bisiknya lagi.
Tatapan Stenly berubah, lebih gelap dan lebih dalam.
“Karena kamu juga melihatku seperti itu,” jawabnya akhirnya.
Jantung Fre berdetak keras. Fre mengangkat tangannya, menyentuh d**a Stenly.
“Kalau begitu, kenapa kita harus berhenti?”
Kalimat itu menghancurkan sisa pertahanan Stenly. Dalam satu tarikan napas, Stenly menarik Fre mendekat.
Hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.
“Karena ini salah,” bisiknya di telinga Fre.
Namun tangannya justru semakin mengerat. Fre memejamkan mata.
“Kalau salah, kenapa terasa benar?”
Dan detik itu, Stenly hampir menyerah. Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Napas mereka saling memburu.
Suara bel rumah berbunyi nyaring.
Keduanya tersentak.
Stenly langsung melepaskan Fre dan Fre mundur cepat, wajahnya memerah.
“Siapa malam-malam begini?” gumam Stenly dengan suara berat.
Sandy berjalan menuju pintu. Fre berdiri diam di tempatnya. Jantungnya masih belum tenang dan untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak ingin berhenti.