“Pak Wisnu maksa banget membuat jadwal pertemuan secara formal tapi sekarang dianya malah enggak datang,” ujar Kaivan casual.
Zhafira menanggapi dengan tawa kering. “Iya Pak, maaf ya ...,” balas Zhafira sama santainya.
Kaivan menggerakan bahu memberi kesan jika ia menerima permintaan maaf Zhafira dan pak Wisnu.
“Baik, Pak Kaivan ... saya minta waktunya sebentar untuk lebih dahulu menjelaskan Portofolio Keuangan milik Pak Kaivan.” Zhafira meminta ijin.
“Kamu minta waktu saya seumur hidup juga enggak apa-apa,” balas Kaivan menggoda membuat Zhafira tertawa sumbang.
Zhafira mengabaikannya, membuka map yang ia bawa dan mulai membacakan Portofolio sang Nasabah Prioritas.
“Pak Kaivan memiliki dana seratus lima puluh Milyar yang ditempatkan di Deposito, sebelas Milyar pada tabungan dan lima Triliun tersebar di saham, obligasi dan rekasadana.”
Zhafira menjeda, mengangkat wajahnya dan ia mendapati Kaivan sedang menatapnya dengan sebuah senyum tipis sama seperti tadi.
Kembali tubuh Zhafira menggigil karena gugup.
Perempuan mana yang tidak begitu, pria setampan aktor Korea sedang menatapnya sangat dalam hingga Zhafira nyaris tenggelam dan Zhafira cukup dewasa mengartikan tatapan beserta senyum tersebut sebagai suatu bentuk ketertarikan.
Zhafira berdehem, mengerjap beberapa kali dengan tempo cepat untuk menetralkan debaran jantungnya yang tidak bisa ia kendalikan.
“Jangan ge’er, Fir ... jangan ngarep, kamu siapa? Dia siapa? Kerja aja yang bener,” batin Zhafira mengingatkan sekaligus menguatkan imannya.
“Dana Pak Kaivan ini bisa dikembangkan melalui produk yang sedang memberikan return tinggi....”
Zhafira menjeda lagi, sekarang bukan hanya menggigil tapi tubuhnya mulai keringat dingin terbukti dari pelipisnya yang menghasilkan buliran keringat padahal pendingin ruangan bekerja maksimal.
Kaivan tidak bersuara, masih menatap Zhafira dengan senyum sejuta pesona yang setia di bibir tipis pria itu.
Zhafira menelan saliva kelat, wajahnya tampak pias membuat Kaivan tersenyum lebih lebar di dalam hati.
Kaivan yakin jika Zhafira telah jatuh dalam pesonanya.
“Sebentar lagi akan launching Obligasi Retail Indonesia seri terbaru, apakah pak Kaivan berminat untuk menginvestasikan sebagian dana Pak Kaivan?”
Zhafira langsung mengutarakan inti maksud dari kedatangannya ke sini.
Ia ingin segera pergi dari ruangan Kaivan yang terasa menyesakan.
“Berminat ... saya berminat sama kamu,” sahut Kaivan enteng yang kemudian memunculkan kerutan halus di kening Zhafira.
Melihat ekspresi melongo Zhafira—tawa Kaivan pun tercetus.
“Ma ... maksudnya gimana, Pak?” tanya Zhafira terbata.
“Fira,” panggil Kaivan.
“Ya, Pak.” Zhafira refleks menjawab.
“Nikah yuk!”
Kalimat ajakan itu terlontar dari bibir tipis Kaivan dengan ekspresi serius tapi entah kenapa Zhafira malah ingin tertawa.
Beberapa nasabah prioritasnya sering menggoda Zhafira dengan cara lebih elegan, menggunakan kode kalimat-kalimat terselubung dan mereka kebanyakan seumur dengan papa atau mendiang kakeknya.
Tapi kalimat langsung, terang-terangan dan jelas itu diucapkan oleh seorang pria tampan yang umurnya tidak jauh di atas Zhafira.
Pria itu pasti bercanda ‘kan?
Mana mungkin seorang pria seperti Kaivan mau menikah dengan perempuan biasa seperti dirinya.
Alhasil Zhafira tertawa pelan, jenis tawa yang mencerminkan ketidakpercayaan atas ucapan Kaivan tadi.
“Jangan becanda, Pak ...,” kata Zhafira kemudian.
Kaivan menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Zhafira.
“Saya serius, menikah dengan saya dan nanti kamu bisa mengatur keuangan saya sesuka hati kamu.”
Zhafira mengerjap, memberanikan diri menatap Kaivan tepat di mata menyelami hati pria itu mencari kesungguhan dari kata-katanya.
Meski sebenarnya tidak perlu Zhafira lakukan.
Beberapa detik berlalu sampai akhirnya Zhafira mengembuskan napas sambil memutus tatapan dengan Kaivan, menutup map yang berada di atas pangkuannya kemudian meraih tas yang ia simpan di belakang punggung.
“Saya akan jadwalkan kembali pertemuan ini dengan pak Wisnu, sepertinya hari ini Pak Kaivan sedang tidak enak badan atau mungkin terlalu banyak minum alkohol sehingga bicaranya meracau jadi saya pam—“
“Fira, saya serius ...,” sela Kaivan seraya memegang tangan Zhafira, menahan sang gadis agar tidak berdiri dan meninggalkan ruangannya.
Kaivan belum selesai dengan Zhafira.
Zhafira melirik tangan Kaivan yang mencengkram pergelangan tangannya dan seketika itu juga Kaivan melepaskan cekalan.
“Masa Pak Kaivan mau sama saya?” Pertanyaan Zhafira itu terdengar insecure.
“Kenapa enggak?” sahut Kaivan penuh keyakinan.
Zhafira mengesah. “Maaf banget, Pak ... kalau Pak Kaivan enggak berminat dengan produk yang saya tawarkan enggak apa-apa ... saya mengerti tapi jangan nge-prank saya kaya gini.”
Zhafira mengucapkannya dengan suara lembut dan raut wajah memelas.
“Sudah berapa kali saya bilang kalau saya serius? Saya benar-benar serius ingin menikahi kamu.”
“Tapi kita baru aja ketemu, Pak ... Pak Kaivan enggak tau siapa saya dan saya juga begitu ....” Zhafira melemparkan fakta.
“Oke, sabtu besok kita nge-date!” putus Kaivan sesuka hati.
Zhafira menundukan pandangan lagi menatap berkas keuangan milik Kaivan.
“Ini cowok maunya apa sih? Kalau diliat-liat, kayanya pak Kaivan bukan buaya ... malah keliatan cowok baik tapi kenapa dia ngerjain aku kaya gini ya?” Zhafira membatin, masih tidak percaya dengan ajakan gila nasabah prioritasnya.
“Kamu enggak percaya sama saya?”
Suara Kaivan begitu lembut ketika bertanya demikian membuat hati Zhafira bergetar, ia pun mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepala menatap Kaivan dengan sorot mata nanar.