Banyu mencoba tetap bersikap tenang. Ia membuka mulutnya meski dengan kekesalan yang membuncah, “Tidak.” Satu kata tegas keluar dari mulutnya. Dan Banyu mengucapkannya dengan penuh kesadaran. Adi Putra bicara dengan keras, “TIDAK? APA MAKSUDMU?” Ia menggebrak meja sambil mencoba menahan amarahnya, “Kamu… Kamu… “Jelaskan!” Banyu menahan diri agar tidak meledak dan menjelaskan dengan tenang, “Seperti papa bilang, pernikahan ini merupakan kesepakatan demi kebaikan Gendis, tidak lain dari itu.” “Tinggal serumah adalah hal baik demi Gendis. Hal seperti itu tidak perlu disepakati. Sudah otomatis kalau menikah kalian akan tinggal serumah,” Adi Putra terlihat mengendalikan emosinya. Diam diam, Dina tersenyum. Itu perasaanku. Untung saja papa sudah menyuarakan isi hatiku. Tidak mungkin k

