BAB 2

1206 Words
“Kamu diam, saya keluar, jangan berisik!” ucap Bagas. Zhafira hanya mengangguk, menuruti. Memang mobil dinas yang dipakai Bagas ini kaca nya gelap sehingga aktivitas didalam mobil tidak dapat terlihat dari luar. Bagas perlahan turun dari mobil dengan menyambar botol air mineral sebelum kakinya menapak aspal, untuk menghalau kecurigaan anggotanya, seolah-olah anggotanya berpikir Bagas sedang haus dan ia mengambil minumnya. “Bagaimana?” tanya Bagas saat melihat salah satu anggotanya sudah berdiri menunggunya. “Suasana semakin chaos, Dan..” “Oke, kembali ke barisan!” Tanpa menaruh curiga sedikit pun anggota kembali ke barisan, Bagas menghela napas lega, ia pun kembali memantau situasi untuk melakukan tindakan selanjutnya. Di dalam mobil dinas Bagas, Zhafira merasa seperti seorang tahanan. Satu jam pertama, ia masih bisa duduk tenang sambil memainkan ponselnya yang kebanjiran ratusan notifikasi dari grup angkatan kuliah. “Woy, Korlap kita hilang!” “Zhafira mana? Tadi gue lihat ditarik polisi ke belakang!” “Zhafira ketangkep, Guys? Serius?” Zhafira hanya membaca pesan-pesan itu tanpa berniat membalas. Namun, saat waktu sudah memasuki jam kedua, rasa bosan mulai menyiksa jiwa mudanya yang tidak bisa diam. Suara samar gas air mata yang ditembakkan berkali-kali di luar sana, ditambah teriakan massa yang belum juga reda, justru membuat rasa penasarannya kembali bergejolak. "Duh, lama banget sih Om Bagas," gumam Zhafira gelisah. Ia melirik jam di layar ponselnya. "Bisa lumutan gue di sini. Mending gue pulang aja deh ke rumah." “Sorry ya guys.. gue balik, bukan gak tanggungjawab, tapi gue gak aman kalo terus disini..” gumam Zhafira sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan-pesan di grup kuliahnya. Dengan gerakan super pelan, Zhafira membuka handel pintu mobil. Setelah memastikan area parkir steril dan tidak ada anggota polisi yang memperhatikannya, ia menyelinap keluar. Saking terburu-burunya, Zhafira sama sekali tidak menyadari kalau jaket almamaternya masih tertinggal manis di jok belakang mobil dinas Bagas. Ia berjalan cepat memutari pembatas jalan, berniat menuju ke halte bus yang berada di seberang jalan besar. Namun, baru saja kakinya melangkah mendekati separator jalan, situasi di sekelilingnya mendadak berubah mencekam. Duar! Duar! "Woy, lari! Polisi maju! Lari semuanya!" Teriakan histeris itu memicu gelombang manusia berjaket almamater dari berbagai kampus berlarian mundur ke arah Zhafira. Aksi kejar-kejaran antara polisi dan pendemo pecah seketika. Jalanan yang tadinya cukup lengang kini dipenuhi oleh massa yang kocar-kacir. Beberapa pendemo yang tersulut emosi kembali melempari barisan polisi dengan batu, botol bekas, hingga pecahan kayu. "Semua personel, dorong massa sampai bersih dari jalur utama!" Terdengar instruksi tegas lewat pengeras suara dari kejauhan. Pasukan polisi dengan tameng penuh coretan piloks hitam dan tongkat pemukul tidak gentar sedikit pun. Mereka merangsek maju untuk menarik mundur para pendemo yang mulai bertindak anarkis. Zhafira membeku di tempat. Tubuhnya yang mungil terombang-ambing di tengah arus massa yang berlarian berlawanan arah. “Aduh, kok malah makin parah sih?!” pekik Zhafira panik. Sial baginya, karena ia tidak memakai almamater, beberapa pendemo menyangkanya sebagai warga sipil atau anak sekolah yang terjebak, membuat tubuhnya ditarik ke sana kemari. Zhafira ikut berlari sekuat tenaga mengikuti rombongan mahasiswa yang masuk ke pemukiman warga. Napasnya terengah-engah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena perih terkena sisa-sisa gas air mata yang terbawa angin. Di seberang jalan, mata elang Bagas yang sedang memimpin penyisiran wilayah menangkap siluet seorang gadis berkaus hitam tanpa almamater yang berlari dengan gaya yang sangat familier. Jantung Bagas rasanya mau copot saat menyadari siapa gadis itu. “Zhafira?!” desis Bagas tak percaya. “Kalian amankan area depan! Saya sisir gang sebelah kanan!” perintah Bagas cepat pada anak buahnya. Dengan langkah seribu, Bagas mengejar Zhafira yang sudah berbelok ke sebuah gang sempit. Zhafira yang kelelahan dan panik menoleh ke belakang, berniat melihat apakah polisi masih mengejarnya. Namun, begitu ia berbalik, sebuah tangan kekar langsung menarik kaus hitamnya dari belakang dan menyeret tubuhnya masuk ke sela-sela sempit di antara dua dinding rumah warga yang buntu. “Aaa.....“ Teriakan Zhafira langsung terpotong saat sebuah telapak tangan besar membekap mulutnya dengan rapat. Tubuh Zhafira terhimpit di antara dinding beton dan d**a bidang Bagas. Dari jarak sedekat ini, Zhafira bisa mendengar detak jantung Bagas yang berdegup sangat kencang karena habis berlari. Setelah memastikan situasi di luar gang aman dan derap langkah para pendemo menjauh, Bagas perlahan menurunkan tangannya dari mulut Zhafira. Ia melepaskan helmnya dengan kasar, lalu menatap Zhafira dengan tatapan yang menyeramkan menurut Zhafira. “Kamu... benar-benar mau cari mati, ya?” bisik Bagas dengan suara rendah sedikit bergetar menahan emosi. Kedua tangannya bertumpu di dinding di kiri dan kanan kepala Zhafira, mengunci gadis itu agar tidak bisa kabur lagi. Zhafira menelan ludah berulang kali, nyalinya menciut drastis. “Om Bagas... itu, tadi di mobil bosan banget...” “Bosan?!” potong Bagas setengah membentak, membuat Zhafira tersentak. “Bisa-bisanya kamu mikirin bosan di tengah situasi kayak gini? Kamu tahu gak kalau tadi kamu bisa kena pukul? Mata kamu bisa perih kena gas air mata! Kenapa kamu keras kepala banget sih, Zhafira?!” “Ya kan aku gak tahu kalau bakal chaos lagi, Om! Aku Cuma mau pulang ke rumah!” bela Zhafira, suaranya mulai serak karena menahan tangis. Setengah karena takut dibentak Bagas, setengah lagi karena matanya perih bukan main. Melihat mata Zhafira yang memerah dan berair, ditambah napas gadis itu yang sesenggukan, kekerasan hati Bagas runtuh seketika. Rasa pusing di kepalanya mendadak berlipat ganda. Menghadapi seribu pendemo anarkis rasanya jauh lebih mudah daripada menghadapi satu anak komandannya yang ajaib ini. Bagas menghela napas panjang, lalu meraba kantong celana taktisnya dan mengeluarkan sebotol kecil air mineral yang belum dibuka serta selembar tisu bersih. “Sini wajah kamu,” perintah Bagas, suaranya melembut, meski nadanya masih terdengar kesal. “Mau ngapain?” tanya Zhafira curiga, sambil mengerucutkan bibirnya. “Mau saya siram pakai air comberan! Ya mau dibersihin lah mata kamu! Diam,” ketus Bagas. Bagas menuangkan sedikit air ke tisu, lalu dengan sangat hati-hati dan perlahan, ia mengusap sisa-sisa air mata dan debu di sekitar mata Zhafira. Jarak yang sangat dekat membuat Zhafira bisa melihat dengan jelas bulu mata tebal Bagas dan kerutan di dahinya yang menandakan pria itu sedang sangat lelah. “Om Bagas...” panggil Zhafira pelan, suaranya mendadak manja. “Apa?” sahut Bagas tanpa mengalihkan fokusnya dari mengusap pipi Zhafira. “Jangan galak-galak dong. Aku kan takut, dari dulu gak berubah-ubah deh..” cicitnya. Bagas menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap lekat-lekat mata bulat Zhafira yang menatapnya polos tanpa dosa. Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar dibuat pusing tujuh keliling oleh gadis berusia sembilan belas tahun di depannya ini. “Gimana saya gak galak kalau kamu gak bisa dikasih tahu? Saya punya tanggung jawab moral ke kamu, karena saya kenal kamu, kamu anak Pak Ardi, komandan saya, kalau kamu kenapa-napa, saya yang paling merasa bersalah sama Pak Ardi, paham?” ujar Bagas sambil menjauhkan tangannya setelah memastikan wajah Zhafira bersih. “Iya, maaf...” Zhafira menunduk. Bagas melirik ke arah jalan utama, lalu kembali menatap Zhafira yang penampilannya sudah acak-acakan. “Sekarang kamu ikut saya. Tapi lewat jalur belakang. Dan kali ini, kalau kamu berani kabur lagi...” Bagas menggantung kalimatnya sambil mengeluarkan sebuah borgol besi dari pinggangnya, membuat mata Zhafira langsung melotot. “Eh! Jangan diborgol dong, Om! Iya, iya, aku nurut! Janji gak kabur lagi!” seru Zhafira panik sambil memegang kedua tangan Bagas. “Ayo!” 💞💞💞
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD