Tangan Freya perlahan terlepas dari leher pria itu. Dalam pandangannya yang kabur, wajah asing itu tetap terlihat seperti sosok yang ia cari.
Pria itu Gavin Alister Smith menatap tajam. Ia bukan orang sembarangan. Seorang dokter spesialis kandungan di Starling Premier Hospital,yang terkenal dingin. Sosok yang terbiasa tenang dan terkendali… hingga malam ini.
Namun detik berikutnya, alisnya berkerut.
Freya, tanpa sadar, mulai membuka kancing kemeja Gavin dengan tangan gemetar.
“Nona…” suara Gavin berubah lebih dalam, menahan tangannya. “Kau sadar apa yang sedang kau lakukan?”
Freya menggeleng pelan, napasnya tidak teratur.
“Aku… nggak kuat…” lirihnya. “Sentuhan… aku butuh… tolong aku, Tuan… aku ingin lepas dari perasaan ini…”
Tangannya justru semakin nekat, menarik tangan Gavin, mencoba membimbingnya untuk menyentuh tubuhnya.
Gavin menutup mata sejenak, rahangnya mengeras. Ia tahu jelas kondisi gadis ini tidak normal.
“Kau bahkan tidak dalam keadaan sadar…” gumamnya pelan.
Namun Freya terus mendekat, tubuhnya limbung.
“Panas… aku nggak tahan…”
Gavin menarik napas panjang, mencoba menahan diri terakhir kalinya.
“Kau benar-benar membangunkan masalah besar, Nona…” ucapnya rendah.
Melihat Freya yang hampir jatuh, Gavin akhirnya bertindak.
Dengan satu gerakan tegas, ia mengangkat tubuh Freya ke dalam gendongannya.
Freya langsung bersandar lemah di d**a pria itu, tangannya refleks mencengkeram kemejanya.
“Ayo… kita masuk dulu,” ujar Gavin singkat.
Tanpa banyak kata, ia berjalan menuju salah satu kamar, lalu mengeluarkan kartu aksesnya sendiri.
Pintu terbuka.
Gavin masuk sambil tetap menggendong Freya, lalu perlahan merebahkannya di atas ranjang.
“Istirahatlah,” ucapnya pelan.
Namun tangan Freya justru menariknya hingga tubuh pria itu jatuh tepat di atasnya.
“Tuan… sentuh saya, mohon,” bisiknya lirih.
Gavin menatapnya dalam. “Kamu yakin tidak akan menyesal?”
Freya menggeleng mantap. “Tidak.”
Dengan ragu sejenak, Gavin mulai melepaskan pakaiannya. Ia menatap Freya yang terbaring di bawahnya.
“Kamu sudah membangunkan milikku… sekarang kamu juga yang harus menidurkannya,” ucapnya setengah berbisik.
Bibirnya menyentuh bibir Freya, lalu perlahan turun ke leher. Tangannya bergerak membuka resleting dress yang dikenakan wanita itu.
“Kamu… pernah melakukannya sebelumnya?” tanyanya di sela-sela napas yang mulai berat.
Freya memejamkan mata. “Belum, Tuan.”
Gavin terdiam sesaat. “Jadi… saya yang pertama?”
Tak lama kemudian, Gavin memasukkan miliknya kedalam milik freya.
"Ngh... ah.. pelan-pelan sakit , Tuan."
"Nikmati lah sebentar lagi kamu akan merasakan surga dunia. " bisik Gavin dengan suara penuh gairah.
“Siapa namamu?” tanya Gavin kemudian, suaranya lebih lembut.
Freya menatap ke arah lain. “Tidak penting. Setelah ini… kita tidak akan bertemu lagi.”
Gavin tersenyum tipis. “Jadi kau hanya ingin menjadikanku… pelampasan satu malam?”
Freya menghela napas panjang. “Bukankah ini saling menguntungkan? Kamu mendapatkan tubuhku… dan aku bisa menghilangkan perasaan ini.”
Suara lenguhan memenuhi setiap sudut kamar hingga puncak permainan.
Gavin turun dari tubuh Freya, menatap Freya yang masih terbaring lemah di ranjang.
“Kamu istirahat saja di sini. Besok pagi saya akan mengantarmu pulang,” ucapnya tenang.
Freya menggeleng pelan, lalu ia bangun memaksakan diri untuk turun dari ranjang.
“Tidak, Tuan… saya harus pulang sekarang.”
Ia mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, tangannya sedikit gemetar saat mengenakannya kembali.
Gavin mendekat, raut wajahnya terlihat tak setuju.
“Setidaknya biar saya yang mengantarmu. Tidak bagus anak gadis pulang sendirian malam-malam. ”
Freya menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatapnya singkat.
“Tidak perlu… terima kasih sudah menolong saya.”
Setelah berpakaian, Freya berjalan menuju pintu. Langkahnya pelan dan sedikit tertatih, namun ia tetap memaksakan diri.
Gavin hanya bisa memandang punggungnya yang semakin menjauh, tanpa sempat menahan atau berkata apa pun lagi.
Di dalam lift, Freya bersandar lemah pada dinding. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Pria sialan…” gumamnya pelan. “Awas kamu, William… beraninya kamu menjebak aku seperti ini…”
Matanya memanas, tapi ia menahan diri untuk tidak menangis.
Lift terbuka di lobby.
Freya berjalan keluar, lalu segera memesan ojek online dari ponselnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Dalam hatinya, pikirannya justru semakin kacau.
“Aku harus ke rumah sakit…” batinnya gelisah. “Aku nggak boleh hamil… apalagi tadi… tidak menggunakan pengaman…”
Napasnya terasa berat.
Tak lama, notifikasi datang.
Pengemudi sudah tiba.
Freya menarik napas panjang, lalu berbisik pelan seolah menguatkan dirinya sendiri.
“Atas nama… Freya Celeste Morgan…”
Motor ojek online melaju membelah jalanan malam yang mulai lengang. Freya duduk diam di belakang, tangannya mencengkeram tas di pangkuannya erat. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya, tapi tak mampu mengusir kekacauan di dalam pikirannya.
Sepanjang perjalanan, ia hanya diam.
Tatapannya kosong, namun pikirannya penuh.
“Kenapa aku bisa sebodoh ini…” gumamnya dalam hati. “Aku percaya sama dia… tapi malah dijebak… sekarang aku udah kotor.”
Rahangnya mengeras, menahan campuran marah, kecewa, dan takut yang bergolak dalam dirinya.
Beberapa menit kemudian, motor berhenti di depan kosan sederhana tempat Freya tinggal.
“Sudah sampai, Mbak,” ujar pengemudi.
Freya tersadar, lalu buru-buru turun.
“Iya, Pak… terima kasih.”
Ia membayar, lalu berjalan masuk ke area kosan dengan langkah pelan. Suasana sudah sepi, hanya lampu temaram yang menerangi lorong.
Begitu sampai di depan kamarnya, tangannya sempat berhenti di gagang pintu.
Napasnya tertahan.
Lalu ia membuka pintu dan masuk.
Klik.
Pintu tertutup.
Freya bersandar di baliknya, perlahan tubuhnya merosot hingga duduk di lantai. Untuk pertama kalinya sejak tadi, air matanya jatuh.
“Kenapa…” bisiknya serak. “Kenapa harus aku…”
Tangannya menutup wajah, bahunya bergetar menahan tangis yang akhirnya pecah.
Beberapa saat kemudian, ia memaksa dirinya bangkit. Dengan langkah lemah, ia berjalan ke kamar mandi.
Air shower menyala.
Freya berdiri di bawahnya, membiarkan air mengalir deras membasahi tubuhnya, seolah ingin menghapus semua yang terjadi malam ini.
Namun perasaan itu tetap ada.
Rasa bersalah. Takut. Marah.
Dan juga penyesalan.
Setelah selesai, ia keluar dengan pakaian sederhana. Rambutnya masih basah, wajahnya pucat.
Freya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan.
“Aku harus ke rumah sakit besok…”
gumamnya pelan. “Aku harus pastikan semuanya baik-baik saja…”
Tangannya mengepal di atas lutut.
“Dan William…” matanya mengeras. “Aku nggak akan diam saja.”
Pagi hari datang tanpa benar-benar memberi istirahat bagi Freya.
Ia terbangun dengan mata sembab dan tubuh yang masih terasa lelah. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamarnya… sampai ingatan semalam kembali menghantam.
Freya langsung bangkit pelan.
“...Aku harus ke rumah sakit hari ini,” gumamnya lirih.
Ponselnya yang tergeletak di samping bantal terus bergetar sejak tadi. Saat ia melihat layar, puluhan pesan dari William memenuhi notifikasi.
Sayang kamu di mana?
Kamu kenapa pulang duluan?
Freya angkat telepon aku.
Rahang Freya mengeras.
“Munafik…” bisiknya dingin.
Tanpa ragu, ia mengabaikan semua pesan itu, bahkan menonaktifkan notifikasi. Ia tidak ingin mendengar apa pun dari pria itu.
Freya kemudian bersiap. Gerakannya pelan, masih terasa tidak nyaman, tapi tekadnya lebih besar dari rasa sakitnya.
Tak lama, ia sudah berdiri di depan kosan.
Ia memesan ojek online.
Beberapa menit kemudian, motor datang.
“Rumah sakit ya, Mbak?” tanya pengemudi.
“Iya, Pak… ke rumah sakit,” jawab Freya singkat.
Sepanjang perjalanan, Freya hanya diam. Tatapannya kosong, pikirannya penuh kecemasan.
Sesampainya di rumah sakit, ia turun dan membayar.
“Terima kasih, Pak.”
“Iya, hati-hati, Mbak.”
Freya melangkah masuk ke dalam rumah sakit yang ramai dengan pasien. Aroma khas antiseptik langsung menyambutnya.
Ia menuju meja pendaftaran dengan langkah pelan.
“Selamat pagi,” sapa petugas dengan ramah. “Ada yang bisa dibantu?"
Freya menelan ludah sebentar sebelum menjawab.
“Saya… mau periksa ke dokter spesialis kandungan.”
Petugas itu mengangguk sambil mengetik sesuatu di komputer.
“Baik, atas nama siapa?”
Freya menarik napas kecil.
“Freya Celeste Morgan.”
Petugas mengecek data, lalu tersenyum.
“Silakan langsung ke lantai dua, ya. Dokter yang sedang praktik hari ini adalah Dokter Gavin Alister Smith.”
Freya membeku.
“...Siapa?” tanyanya pelan, seolah tidak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Dokter Gavin Alister Smith, Dokter Sp.OG. Beliau sedang praktik sekarang,” ulang petugas itu.
“Baik…” jawabnya pelan. “Terima kasih.”
Freya berdiri di depan lift, pikirannya kembali berputar.
“Alister Smith…” gumamnya dalam hati. “Bukannya itu marga keluarga William? Dan ini… Starling Premier Hospital… jelas rumah sakit milik keluarganya…”
Ia memejamkan mata sejenak, menyesali kelengahannya.
“Kenapa aku bisa lupa… harusnya aku gak kerumah sakit ini.”
Ting!
Pintu lift terbuka.
Freya melangkah masuk, lalu menekan tombol lantai dua. Jantungnya berdetak lebih cepat, entah karena cemas… atau firasat yang tidak ia mengerti.
Sesampainya di lantai dua, ia menjalani pemeriksaan awal. Perawat mengukur tekanan darahnya.
“Tegang ya, Mbak?” tanya perawat itu ramah.
Freya hanya tersenyum tipis. “Iya… sedikit.”
“Sudah, silakan tunggu sebentar. Nanti dipanggil masuk ke ruang dokter.”
Tak lama kemudian.
“Freya Celeste Morgan,” panggil seorang perawat.
Freya berdiri, langkahnya terasa berat saat mendekati pintu ruang praktik.
Tok… tok…
“Masuk.”
Suara itu.
Freya langsung membeku sejenak sebelum akhirnya membuka pintu.
Dan saat ia melangkah masuk matanya langsung bertemu dengan sosok yang duduk di balik meja dokter.
Freya terkejut.
“Kamu…?” suaranya nyaris tak terdengar.