One night stand

1189 Words
Zendihara kemudian memanggil salah satu pelayan rumah. “Tolong siapkan kamar tamu untuk Freya,” ujarnya lembut. “Baik, Nyonya.” Freya buru-buru menggeleng kecil. “Tidak perlu kamar besar, Tante. Saya nggak enak…” Zendihara langsung tersenyum hangat. “Kamu ini terlalu sungkan.” Wanita itu menepuk pelan tangan Freya. “Mulai sekarang anggap rumah ini rumah sendiri.” Freya hanya bisa tersenyum canggung. Sementara Gavin berdiri dari kursinya. “Mama harus istirahat,” katanya tenang. “Dokter bilang Mama tidak boleh terlalu lelah.” Zendihara mendesah kecil. “Kamu ini, baru pulang sudah cerewet.” “Tapi tetap Mama dengarkan, kan?” Wanita itu akhirnya tersenyum kalah. “Iya, iya.” Gavin lalu menoleh ke arah Freya. “Ayo, saya antar lihat kamarmu.” Freya langsung ikut berdiri. “Iya…” Mereka berjalan keluar dari ruang makan menuju lantai atas mansion yang luas dan tenang. Suasana mendadak terasa canggung ketika hanya mereka berdua. Freya berjalan pelan di samping Gavin sambil memainkan jemarinya sendiri karena gugup. Sedangkan Gavin tampak santai dengan satu tangan masuk ke saku celananya. “Kamu cukup pandai tadi,” ujar Gavin tiba-tiba. Freya menoleh bingung. “Maksudnya?” “Saat membela saya di depan William.” Freya langsung salah tingkah. “Oh… itu…" Ia menunduk pelan. “Saya cuma nggak suka orang menuduh sembarangan.” Gavin memperhatikannya sekilas. "Kamu kan sudah merasakan milik saya jadi kamu bisa mereview milik saya.” Kalimat itu membuat Freya langsung melirik tajam. “Anda ini sangat mesum.” “Tidak.” Gavin tersenyum tipis. “Saya hanya membicarakan faktanya.” Freya langsung memalingkan wajah karena malu sendiri. “Kenapa dia kalau ngomong gak ada filternya." batinnya kacau. Tak lama, mereka berhenti di depan sebuah kamar besar.Gavin membuka pintunya. “Kamu tidur di sini malam ini.” Freya masuk perlahan lalu langsung terpana melihat isi kamar yang jauh lebih besar dari kosnya. “Ini kamar tamu?” tanyanya pelan tidak percaya. “Hmm.” Freya menatap ranjang besar di tengah ruangan, lalu tanpa sadar teringat kejadian di hotel.Wajahnya langsung memanas lagi. Gavin yang menyadari perubahan ekspresinya sedikit mengangkat alis. “Kamu kenapa?” “Ti-tidak apa-apa!” Jawabannya terlalu cepat. Gavin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berjalan mendekat.Semakin dekat.Dan semakin dekat. Sampai Freya refleks mundur satu langkah. Jantungnya langsung berdetak keras. “D-dok— maksud saya Gavin…” Gavin berhenti tepat di depannya. Tatapannya turun menatap wajah Freya yang mulai panik. “Kamu gugup?” tanyanya rendah. Freya buru-buru menggeleng. “Enggak…” Padahal jelas sekali wajahnya memerah. Gavin lalu mengangkat tangan perlahan. Freya refleks memejamkan mata sesaat namun ternyata Gavin hanya mengambil helai rambut yang tersangkut di antingnya. “Rambutmu nyangkut,” ujarnya tenang. Freya langsung membuka mata dan merasa malu sendiri. “Oh…” Gavin berdiri di ambang pintu kamar sambil menatap Freya yang masih terlihat gugup. “Sana masuk,” ujarnya santai. “Atau… mau saya temani tidurnya?” Freya langsung membelalak. “Ngomong apa sih Anda?!” Gavin terkekeh pelan melihat reaksinya. “Kenapa?” tanyanya santai sambil menyandarkan tubuh di kusen pintu. “Saya cuma menawarkan bantuan.” Tatapannya turun sekilas ke wajah Freya yang mulai memerah. “Lagipula semalam kita sudah melewati malam bersama,” lanjutnya tenang. “Kita sudah saling melihat tubuh satu sama lain juga.” Freya langsung salah tingkah. “Itu beda!” “Bedanya di mana?” Gavin mendekat satu langkah lagi. “Sekarang kita bahkan calon suami istri.” Freya buru-buru mundur sampai punggungnya hampir menyentuh meja kecil di samping ranjang. “Pokoknya nggak boleh!” Gavin sedikit mengangkat alis. “Kamu takut?” “S-siapa yang takut!” “Kalau begitu kenapa gugup?” Freya langsung kehabisan kata-kata. Tatapan Gavin terlalu tenang… dan terlalu dekat.Akhirnya Freya menunjuk pintu dengan wajah merah padam. “Kalau Anda nggak keluar sekarang,” ancamnya gugup, “saya teriak!” Gavin justru tersenyum tipis. “Oh ya?” katanya pelan. “Mau teriak apa?” Ia mencondongkan tubuh sedikit mendekat hingga Freya makin panik. “Mama…” suara Gavin sengaja diperlambat, “sebenarnya saya dan Freya sudah melakukan hubungan satu malam.” “GAVIN!” Freya langsung menutup mulut pria itu panik. Matanya membesar ketakutan. “Anda gila ya?!” bisiknya setengah histeris. “Kalau Tante dengar bagaimana?!” Gavin menatap tangan Freya yang masih menempel di bibirnya. Lalu perlahan sudut bibir pria itu terangkat. “Kenapa panik begitu?” tanyanya pelan di balik telapak tangannya. “Bukannya itu fakta?” Freya langsung menarik tangannya cepat-cepat seperti tersengat. “Itu… itu…” Wajahnya sudah merah total karena malu dan panik bercampur jadi satu. Gavin akhirnya terkekeh kecil. “Tenang,” ujarnya santai sambil mundur selangkah. “Saya tidak sebodoh itu untuk mengatakannya pada Mama yang sakit jantung.” Freya menghela napas lega panjang. Namun sebelum pergi, Gavin kembali menatapnya sekilas. “Tapi…” katanya rendah sambil tersenyum samar, “reaksimu lucu juga.” Freya langsung mengambil bantal sofa kecil di dekatnya lalu melempar ke arah Gavin. “Keluar!” Gavin menangkap bantal itu dengan santai sambil tertawa kecil. “Selamat malam, calon istri saya.” Lalu akhirnya pria itu benar-benar pergi menutup pintu kamar.Sementara Freya langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang sambil memegangi dadanya sendiri. “Kenapa jantungku jadi nggak normal begini sih…” gumamnya panik. Freya masih memegangi dadanya setelah Gavin pergi.Jantungnya berdetak cepat tidak karuan. “Dia benar-benar suka bikin orang panik…” gumamnya pelan sambil memukul bantal kesal. Namun beberapa detik kemudian, tanpa sadar sudut bibirnya malah terangkat tipis mengingat ekspresi Gavin tadi. “Lucu apanya coba…” gerutunya malu sendiri. Freya lalu bangkit perlahan dan berjalan menuju balkon kamar. Malam terasa tenang.Lampu-lampu taman mansion terlihat indah dari atas. Ia menghela napas panjang sambil memegang pagar balkon. “Hidupku berubah terlalu cepat…” pikirnya pelan. Kemarin ia masih mahasiswi biasa dengan hubungan yang terlihat normal. Sekarang ia berada di rumah keluarga konglomerat sebagai calon istri seorang dokter sekaligus direktur rumah sakit. Dan pria itu… adalah om mantan pacarnya sendiri. Freya langsung memejamkan mata frustasi. “Kalau Tanaya tahu pasti dia teriak-teriak…” Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Nama Tanaya muncul di layar. Freya langsung panik kecil. “Nah kan…” Ia segera mengangkat teleponnya. “Halo?” “FREYA CELESTE MORGAN!” suara Tanaya langsung menggelegar dari seberang. “JELASIN SEKARANG SIAPA COWOK TADI?!” Freya langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. “Pelan-pelan napa sih…” “Pelan gimana?!” Tanaya setengah menjerit. “Lo dijemput mobil mewah terus pakai gaun mahal! Gue nggak bakal tidur kalau lo belum cerita!” Freya menggigit bibir bawahnya gugup. “Ini… panjang ceritanya.” “Ya cerita sekarang!” Freya menatap langit malam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas. “Tan…” suaranya mengecil. “Kayaknya… gue mau nikah.” Hening. Beberapa detik tidak ada suara dari seberang. Lalu. “HAH?!” Freya langsung meringis sambil menutup sebelah telinganya. “Jangan teriak!” “LO GILA YA?!” Tanaya histeris. “Pagi putus sama William, malam bilang mau nikah?!” Freya langsung duduk di kursi balkon sambil memijat pelipisnya. “Makanya gue bilang ceritanya panjang…” Tanaya langsung curiga. “Tunggu.” Suaranya mengecil penuh investigasi. “Freya… jangan bilang lo hamil duluan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD