Aku melirik sambil tersenyum ke arah Dante yang sedang menciumi perut Oliver sampai anak itu kegelian. Mereka memakai setelah kaos yang sama sementara aku memakai baju dengan warna senada. Ini adalah impian Dante, berjalan-jalan dengan baju sama. Menggelikan bukan? Bagaimana seorang Dante bisa memiliki mimpi semenggemaskan ini. Aku tersenyum geli dan itu tertangkap oleh matanya membuatnya mendengkus kesal. Dia tidak suka diledek tapi aku sudah meledeknya puluhan kali. “Berhenti mentertawaiku, Sita! Sudah ku bilang aku juga manusia biasa,” gerutunya dan aku malah kembali tertawa. Dante semakin menggemaskan seiring dengan pertumbuhan Oliver yang juga semakin pintar, nakal dan banyak akal. Mirip seperti papanya. “Papa.” Suara Oliver kembali merebut perhatian Dante. Seorang papa yang sangat