bc

Pembantu Pemuas Sang Majikan

book_age18+
22
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
forbidden
love-triangle
one-night stand
family
HE
age gap
arrogant
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
bxg
serious
city
office/work place
affair
polygamy
assistant
like
intro-logo
Blurb

"Aku hanya seorang pembantu ... tapi aku mengandung anak suami majikanku."Betari datang ke kota demi menyelamatkan ibunya, bukan untuk merebut suami orang. Namun, satu malam yang penuh penyesalan membuat hidupnya berubah selamanya. Kini ia mengandung anak Aryuda Perkasa, CEO yang telah menikah. Saat rahasia itu terbongkar, sang istri memilih bertahan lalu memulai perang untuk melenyapkan Betari dan bayinya. Di antara cinta, pengkhianatan, dan dendam, siapakah yang akan menjadi pendamping terakhir Aryuda?

chap-preview
Free preview
Bab 1. PPSM
"Tuan Aryuda, saya tidak akan membiarkan Anda menyetir dalam kondisi seperti ini. Tolong, berikan kuncinya pada saya," ujar Doni. Langkah kakinya terus menempel di belakang bosnya, menatap cemas wajah yang kini tampak kuyu dan kusam. Langkah kaki Aryuda Perkasa terhenti tepat di samping sedan mewah miliknya di basemen gedung Perkasa Grup. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu memandangi kunci di tangannya. Tiga gelas wiski dalam pertemuan bisnis setengah jam lalu membuat jarinya gemetar. Ia menoleh, menatap Doni. "Saya masih bisa menyetir, Doni. Ini cuma tiga gelas. Kepala saya tidak selemah itu," suara Aryuda berat dan parau. "Tiga gelas wiski tanpa makan malam itu resep jitu untuk menabrak pembatas jalan, Tuan," sahut Doni ketus. Pria itu melangkah maju, lalu dengan cekatan merebut kunci mobil dari tangan bosnya. "Saya yang setir. Ini perintah dari kewarasan saya, bukan sebagai bawahan Anda. Lagipula, saya belum mau mati muda karena bos saya hobi cari perkara." Aryuda mengembuskan napas kasar. "Kamu berani menceramahi saya sekarang?" "Demi keselamatan bonus akhir tahun saya, tentu saja saya berani," balas Doni lempeng. "Silakan masuk ke belakang, Tuan." Aryuda tidak punya energi lagi untuk mendebat sekretarisnya. Ia membuka pintu belakang dan langsung mengempaskan diri ke kursi penumpang. Sambil menyandarkan kepala ke kaca mobil, ia melonggarkan ikatan dasinya dengan sekali sentak. Sepanjang perjalanan membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang, pikiran Aryuda kusut. Kepalanya terus memutar rekaman obrolan telepon dua jam lalu dengan istrinya. Elisa. "Aku tidak bisa pulang minggu ini, Mas. Milan Fashion Week sangat padat. Kontrakku diperpanjang untuk pembukaan musim gugur. Kamu mengerti, kan?" Kalimat itu rasanya seperti kaset rusak yang berputar tanpa henti. Lima tahun menikah, dan kata-kata itu selalu jadi tameng Elisa tiap kali mereka mulai berdebat soal rumah tangga. Elisa tidak pernah mau tahu kalau yang Aryuda inginkan bukan sekadar perempuan cantik pajangan majalah. Dia cuma butuh seorang istri yang ada di rumah. "Kita sudah sampai, Tuan," suara Doni memecah keheningan saat mobil berhenti di pelataran rumah mewah kawasan Menteng. Doni turun, membukakan pintu, dan menahan sikut Aryuda yang sempat oleng saat keluar. "Terima kasih, Doni. Kamu pulang pakai taksi saja, besok klaim biayanya," gumam Aryuda, berusaha berdiri tegak. "Baik, Tuan. Minum air putih yang banyak dan jangan coba-coba mandi air dingin kalau tidak mau stroke," ucap Doni mengingatkan sebelum berpamitan. Suara deru mesin mobil yang terparkir membuat Betari langsung tegak dari duduknya di sofa ruang tengah. Gadis berusia sembilan belas tahun itu buru-buru mematikan layar ponselnya yang sejak tadi ia pakai untuk membaca artikel lama tentang penghargaan bisnis Aryuda Perkasa. "Tuan sudah pulang?" gumam Betari panik. Ia merapikan celemek abu-abu yang membungkus gaun katun sederhananya, lalu melangkah setengah berlari menuju pintu depan. Sebagai asisten rumah tangga yang baru bekerja selama tiga bulan, Betari selalu waspada. Dia tidak mau kelihatan teledor di depan majikannya yang terkenal disiplin. "Selamat datang, Tuan." Pintu besar dari kayu jati itu terbuka. Betari langsung disambut bau alkohol yang tajam, bercampur parfum maskulin yang sangat ia hafal aromanya. Di ambang pintu, Aryuda berdiri limbung, bersandar pada kusen dengan mata terpejam rapat. "Tuan Aryuda!" Betari memekik pelan. Refleks, dia maju dan menangkap lengan Aryuda, tepat saat pria itu hampir kehilangan keseimbangan. "Siapa ini ...?" Aryuda menggumam, suaranya parau dan tidak jelas. Pria itu membuka matanya sedikit, berusaha memfokuskan pandangan. "Ini Betari, Tuan. Mari, saya bantu ke sofa. Pelan-pelan, Tuan," Betari memosisikan lengan kanan Aryuda di atas bahunya. Tubuh pria itu ternyata jauh lebih berat dari bayangannya. Namun, rasa hangat yang menjalar dari telapak tangan Aryuda yang memegang pundaknya bikin jantung Betari mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Sejak masih remaja di kampung, Betari cuma bisa mengagumi Aryuda lewat layar televisi tetangga. Di matanya, pria itu adalah sosok yang jauh dan sempurna. Sekarang, merengkuh pinggang pria itu demi membantunya berjalan rasanya seperti mimpi yang terlalu lancang. "Awas langkahnya, Tuan. Satu ... dua ... ya, bagus," bisik Betari sabar, menuntun Aryuda sampai pria itu duduk di sofa kulit hitam. Aryuda langsung menjatuhkan kepalanya ke bantalan sofa, mendesah berat sambil melonggarkan kancing kemeja atasnya. "Sesak ...." Betari langsung berlutut di lantai. Tangannya bergerak cekatan, melepas sepatu pantofel mahal Aryuda satu per satu. "Tuan, kepalanya sakit sekali? Saya buatkan teh jahe hangat, ya? Atau mau saya ambilkan obat sakit kepala?" Aryuda tidak menjawab. Dia hanya menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong. "Kenapa rumah ini selalu luas sekali ...." bisiknya tiba-tiba. Suaranya terdengar rapuh. "Kenapa tidak ada suara siapa-siapa di sini? Sepi, Betari. Sunyi seperti kuburan." Betari menghentikan gerakannya. Ia mendongak, melihat wajah tampan yang sekarang kelihatan begitu kesepian. "Tuan ... Anda sedang mabuk. Biar saya ambilkan air hangat." "Kamu juga mau pergi?" Aryuda mendadak menoleh, menatap lurus ke dalam mata Betari. Pandangannya sayu, kacau karena alkohol dan rasa frustrasi. Dalam otaknya yang setengah sadar, wajah polos Betari perlahan mengabur, berubah menjadi sosok istri yang selalu mengabaikannya. "Elisa ... kamu sudah pulang? Akhirnya kamu ingat jalan pulang?" Jantung Betari rasanya mau copot. Dia menggeleng cepat, mencoba menarik tangannya mundur. "Bukan, Tuan. Saya Betari. Nyonya Elisa belum pulang dari luar negeri." "Jangan bohong!" Aryuda mendadak mencengkeram pergelangan tangan Betari kuat-kuat. "Kamu selalu punya alasan untuk pergi! Milan, Paris, New York! Apa rumah ini seburuk itu sampai kamu tidak betah?!" "Tuan Aryuda, lepas! Ini sakit! Saya Betari!" Betari panik setengah mati. Dengan sekali tarik, Aryuda malah membuat tubuh Betari ambruk tepat di atas pangkuannya. "Jangan pergi lagi, Elisa. Aku mohon ... sekali ini saja, lihat aku," bisik Aryuda. Dia sama sekali tidak mendengar bantahan Betari. Matanya menatap lekat-lekat bibir Betari yang bergetar. "Lima tahun aku nunggu kamu. Apa karier kamu jauh lebih penting daripada aku? Daripada rumah tangga kita? Aku ini suamimu, bukan donatur setiamu!" "Tuan, tolong sadar ... saya bukan Nyonya—" Kalimat Betari putus di tengah jalan. Aryuda memajukan wajahnya dan langsung membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang menuntut. Deg. Badan Betari kaku seketika. Semua logika di kepalanya mendadak hilang terbang ke awang-awang. Ciuman Aryuda awalnya terasa kasar dan penuh luapan emosi. Tapi perlahan, ciuman itu berubah jadi lembut, seolah memohon supaya jangan ditinggal sendirian lagi. "Emhh ... Tuan ..." Betari melenguh pelan di sela ciuman mereka, mencoba memalingkan muka. Air mata pertamanya lolos membasahi pipi. Aryuda membalikkan posisi badan mereka dengan cepat. Sekarang, tubuh mungil Betari sudah telentang di sofa dengan Aryuda yang mengungkungnya dari atas. Napas pria itu memburu di leher Betari, meninggalkan kecupan-kecupan hangat yang membuat seluruh badan Betari merinding dan bergetar hebat. "Jangan tinggalin aku ...." gumam Aryuda lagi persis di telinga Betari. Jari-jarinya mulai membuka kancing teratas gaun katun yang dipakai gadis itu. Betari memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya meremas kemeja Aryuda sampai kusut. Air matanya makin deras, mengalir ke sela-sela rambutnya dan membasahi bantal sofa. Di dalam kepalanya, logika Betari berteriak kalau ini salah, “Jangan Betari! Ini dosa besar dan besok hidupmu pasti hancur. Sadarlah! Pria yang di atasnmu ini punya orang lain. Pria ini majikanmu.” Tapi sentuhan dan pelukkan erat Aryuda, serta rasa cinta bodoh yang selama ini dipendam Betari sendirian mendadak melumpuhkan seluruh akal sehatnya. Untuk malam ini saja, Betari memilih kalah pada perasaannya sendiri. Dia membiarkan dirinya menjadi pelampiasan, menjadi bayangan wanita lain, asal bisa mendekap pria yang dicintainya. Malam itu, tepat saat Betari berhenti melawan dan pasrah dalam dekapan Aryuda, keheningan di ruangan itu mendadak pecah oleh suara getaran yang nyaring. Layar ponsel Aryuda menyala terang di atas meja. Berkedip berkali-kali lengkap dengan foto seorang wanita cantik bergaun mewah. [ Elisa Calling ]

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
756.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
988.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
365.0K
bc

Not just, the Beta

read
351.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook