bc

Cinta yang Tak Semestinya

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
forbidden
family
HE
second chance
friends to lovers
blue collar
sweet
bxg
brilliant
like
intro-logo
Blurb

Keizara kembali ke rumah masa kecilnya sebagai seorang janda dengan satu anak, membawa luka yang belum sembuh.

Di sana, dia bertemu lagi dengan Arzhavian, teman kecil yang kini tumbuh menjadi pria mapan dan penuh perhatian. Dari pertemuan sederhana, tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Namun, cinta itu datang di waktu yang salah.

Di saat Keizara merasa tak lagi pantas untuk dicintai, Arzhavian justru harus memilih antara hatinya … atau restu orang tuanya?

Karena tidak semua cinta … bisa dipilih. Mampukah mereka meredam rasa itu? Atau membiarkan semuanya berjalan sebagaimana semestinya?

chap-preview
Free preview
1. Jodoh Pilihan Ibu
“Temanmu itu lho Vi, masih muda sudah jadi janda,” tutur seorang wanita paruh baya yang menyiapkan sarapan untuk putranya yang baru turun dari lantai atas. Pria berkemeja hitam yang menyampirkan jas di lengannya, satu tangan mencangklong tas punggung di bahunya. “Siapa sih, Bu?” tanya Arzhavian biasa dipanggil Zhavi. “Keizara, yang rumahnya di blok sebelah. Masa lupa? Kalian dulu kalau main selalu sama-sama,” ujar sang ibu, Zhavi menarik kursi rotan di ruang makan itu hingga terdengar suara derit yang berpadu dengan lantai membuat ayahnya yang sibuk membaca koran itu menoleh ke arahnya. “Diangkat kan bisa?” gumamnya. Zhavi hanya tersenyum lebar, duduk di kursi itu dan menerima piring berisi nasi goreng buatan ibunya. “Ya mungkin rumah tangganya sudah enggak sehat, jadi bercerai,” tutur Zhavi, ingatannya jatuh pada sosok wanita yang dulu sempat menjadi incarannya, sayangnya wanita itu memilih menikah muda, baru lulus kuliah, belum sempat kerja namun sudah menikah dan diboyong pergi oleh suaminya ke Sumatera. “Enggak semua rumah tangga berjalan dengan baik-baik aja,” oceh sang ibu, “pasti setiap rumah tangga ada ujiannya, memang kamu pikir ibu dan bapak enggak diuji? Ya tentu diuji, tapi ibu bertahan, itu namanya perempuan tangguh. Kalau sebentar-sebentar cerai itu namanya lemah.” Ayah Zhavi melipat koran dan meneguk kopi hitamnya, “sudahlah Bu, pagi-pagi kok sudah ghibahin tetangga,” ucapnya. “Untung kamu enggak jadi sama dia dulu, kalau jadi pasti kamu juga jadi duda sekarang, ih amit-amit jabang bayi, nikah itu untuk sekali seumur hidup,” ucapnya masih berdecih. Zhavi merasa tak tahan lagi, dengan cepat dia jejalkan nasi goreng itu ke mulutnya, “dari dulu juga ibu gak bolehin sama ini, sama itu, terlalu banyak yang ibu larang,” gerutunya. “Ibu mau yang sekufu, yang cocok bibit bebet bobotnya!” “Kalau bisa yang satu daerah sama kita, minimal satu provinsi, ya kan?” ucap Zhavi menirukan ucapan ibunya. Diminum air putih hangat yang tersedia di meja, dia pun berdiri, kembali mendorong kursi ke tempatnya. “Lho kok buru-buru?” ujar ibunya. Zhavi melihat jam tangannya, “buru-buru, ada meeting,” ucapnya sambil meraih tangan sang ibu, dia mengecup punggung tangan ibunya dengan takzim juga ayahnya dan berjalan cepat ke luar rumah sebelum mendengar ocehan sang ibu lagi. Ayah Zhavi melihat putranya yang melenggang jauh, putra tunggalnya. “Bu, mau sampai kapan ngatur jodoh untuk anaknya?” tanya sang suami. Ibu Zhavi mendelikkan mata ke arahnya. Lalu suaminya menambahkan, “Zhavi sudah mau tiga puluh tahun lho sebentar lagi, biarkan sekarang dia pilih jalan hidupnya sendiri.” “Terus ayah mau punya menantu yang pernah gagal rumah tangga? Atau yang enggak sepaham dengan tradisi kita turun temurun?” cerca sang istri. Ayah Zhavi hanya menggeleng tak mengerti, istrinya memang keras kepala dan sangat susah digoyahkan jika sudah memutuskan sesuatu. Sementara itu Zhavi membuka gerbang rumahnya, komplek itu memang komplek tua yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum Zhavi lahir, rumahnya sudah ada. Dan kini rumah itu telah direnovasi sepenuhnya. Ayahnya pensiunan pegawai bank, uang pensiun digunakan untuk membeli ruko-ruko di depan perumahan, salah satu ruko dipakai sendiri olehnya untuk berjualan ikan dan akuarium sebagai hobinya yang memang menyukai hewan air itu. Untuk mengisi waktu luang katanya. Setelah memanaskan mesin mobilnya, Zhavi pun hendak melajukan mobil itu, namun kakinya menggantung tak jadi menekan pedal gas ketika melihat sesosok wanita memakai baju terusan selutut berwarna pucat. Rambutnya dikuncir setengah dan dia tampak menuntun gadis kecil yang memegang boneka di tangannya. “Keizara?” bisiknya pelan. Dia menurunkan kaca mobilnya. Tersenyum pada wanita yang tampak sayu itu. “Kei!” sapa Zhavi dengan senyum sumringah. Ternyata benar ucapan ibunya, Keizara kembali ke sini, mungkinkah benar juga dia sudah bercerai dengan suaminya? Wanita yang seusia dengan Zhavi itu mengangkat wajahnya, “Hai Zhav,” panggilnya pelan. Sementara putri kecilnya hanya menatap wajah ibunya dengan pandangan tak mengerti. “Mau ke mana?” tanya Zhavi ramah. “Ke depan, beli makanan,” tutur Keizara. “Ayo bareng aja, lumayan jauh lho,” tutur Zhavi. “Enggak apa-apa sekalian olah raga.” “Bunda ... aku capek,” rengek putrinya. Keizara hanya menatapnya dengan pandangan sendu. “Tuh kasihan anaknya capek,” tutur Zhavi, dia pun turun dari mobil, membuka kursi belakang dan langsung menaikkan gadis mungil itu, lalu dia mengedikkan dagunya meminta teman lamanya itu duduk di kursi penumpang sebelahnya. Karena anaknya sudah masuk, mau tak mau Keizara pun memasuki mobil itu, hingga Zhavi menekan pedal gas untuk melajukannya. “Kerja di mana Zhav?” tanya Keizara basa basi. Zhavi melirik anak temannya yang duduk di belakang, tubuhnya mungil pipinya chubby dan dia tak semurung tadi karena kini sudah bermain dengan bonekanya. “BUMN Kei,” jawabnya, “kamu ... apa kabar?” tanyanya balik. Keizara tersenyum tak enak hati, “yah mungkin kamu sudah dengar gosipnya,” ucap Keizara pelan seperti bergumam. Zhavi hanya mengangguk kecil. “Terus rencana kamu selanjutnya apa?” tanya Zhavi. Keizara menatap putri kecilnya sesaat di belakang. “Belum kepikiran apa-apa, aku lulus kuliah langsung nikah, enggak ada pengalaman kerja karena selama ini jadi ibu rumah tangga,” tuturnya lalu dia melirik Zhavi, teman kecilnya yang dulu sering menjahilinya, namun juga paling sering memboncenginya sepeda, kini dia tampak sangat berbeda, tubuhnya menjulang tinggi, parfum mahal memenuhi indera penciumannya. Dan wajahnya jauh lebih tampan dibanding terakhir kali Keizara ingat. “Kalau ada info loker kabarin,” ucap Keizara ringan. Zhavi mengangguk, “nanti aku kabarin ya,” jawabnya dengan sungguh-sungguh. Mobil bergerak perlahan, Zhavi tentu sengaja memperlambat lajunya agar bisa lebih lama berbincang dengan Keizara. “Kamu belum nikah?” tanya Keizara memastikan posisi Zhavi saat ini. Zhavi menggeleng, “aku nungguin kamu, tahu?” ucapnya serius. “Ha?!” Sedetik kemudian Zhavi tertawa kencang, “bercanda,” kekehnya, “aku belum nikah, ibu masih sama kayak dulu pilih-pilih pasanganku, enggak boleh sama ini sama itu, capek dengerinnya, mending melajang aja selamanya,” gerutu Zhavi membuat Keizara tersenyum kecil. Senyum yang entah mengapa begitu dirindukan Zhavi karena sejujurnya sejak menikah memang Keizara tak pernah pulang sama sekali sehingga mereka tak pernah bertemu. “Ibu kamu hanya mau yang terbaik untuk kamu, sebaiknya kamu dengerin. Jangan sampai kayak aku ... salah pilih pasangan,” ucapnya seraya menunduk, suaranya semakin kecil seolah tak mau didengar putrinya di belakang. “Nama anak kamu siapa?” tanya Zhavi mengalihkan pembicaraan. “Caca, nama aslinya Syakira Azarine,” ucapnya. “Lho Cacanya dari mana coba?” tanya Zhavi. “Dari nama kita berdua, Zhavi dan Zara, Zhaza diplesetin jadi Caca,” jawab Keizara bernada serius. “Kei?” Sedetik kemudian Keizara tertawa kecil, “bercanda! Ya dari Syakiranya biar gampang aja panggil Caca,” kekehnya. “Hah! Kaget aku!” gerutu Zhavi. “Ngapain kaget, kamu bukan investornya kok,” ucap Keizara, mobil mulai sampai di depan gapura perumahan. “Ya barangkali jadi investor dalam mimpi,” gurau Zhavi. Keizara menggeleng geli. “Kalau dekat kamu, ada aja bahan tertawa ya,” ucapnya diikuti nada sendu di akhirnya. “Sering-sering dekat aku biar happy terus,” tutur Zhavi seraya menepikan mobil di depan ruko milik ayahnya. “Terima kasih tumpangannya Zhav,” ungkap Keizara tulus. “Sama-sama, di sana itu lontong sayurnya enak, di sampingnya ada taman bermain kecil bisa sambil nyuapin Caca,” tutur Zhavi. Keizara mengangguk dan turun dari mobil Zhavi. Dia membuka pintu belakang dan mengajak putrinya turun. “Bilang makasih sama Om,” ucap Keizara memberi instruksi pada putrinya. “Makasih Om,” ucap Caca dengan suara cadelnya. “Sama-sama Caca cantik,” ucap Zhavi. Keizara menutup pintu itu dan membiarkan mobil Zhavi melaju pergi. Dia kembali menggenggam tangan putrinya, melihat mobil itu sampai jauh. Dalam hatinya berkata, ‘seandainya dulu ibumu enggak menegurku Zhav, mungkin hubungan kita lebih dari teman biasa.’ Keizara menunduk menatap pakaiannya yang sangat biasa, sandalnya yang nyaris butut, dulu saja dia tak direstui, apalagi sekarang setelah statusnya menjadi janda? Sudahlah, pikirnya ... Zhavi berhak bahagia dengan jodoh pilihan ibunya. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
698.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
938.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
335.9K
bc

Not just, the Beta

read
335.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook