Ana mendengkus pelan, menatap sebal layar interkom di depannya. Sudah hampir sepuluh menit dirinya berdiri kaku di depan pintu penthouse atasannya, menunggu tuan rumah membukakan pintu. Namun, sedari tadi tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka.
Ke mana sih tuh orang? Rese banget! Kenapa lama banget! Nggak tahu kaki gue udah pegel banget! Emang dasar manusia laknat! Dia yang nyuruh dateng cepet, giliran dah sampai nggak dibukain pintu! Arrrrgh!!! Ana merutuk dalam hati, memaki bosnya yang tidak kunjung membukakan pintu dan entah sampai kapan Ana harus berdiri di sana.
Sebenarnya hal seperti ini tidak akan terjadi, seandainya Ana membawa kartu akses yang membuatnya tidak perlu repot-repot menunggu dibukakan pintu. Bosnya itu sudah memberinya kartu akses yang bisa ia pergunakan untuk mengakses penthouse milik beliau. Tapi sialnya, Ana meninggalkannya di kos-kosan, ia lupa memasukkannya ke tas saking buru-buru berangkat dan sekarang hal itu menyusahkan dirinya.
Ana berdecak, tidak sabar lagi harus menunggu pintu dibuka. Ia memencet tombol di interkom, mencondongkan wajahnya ke depan layar. "Pagi pak Rey, saya sudah sampai dari lima belas menit yang lalu. Bisa tolong bukakan pintunya, saya lupa bawa kartu akses."
Hening.
Tidak ada sahutan dari dalam. Ana yakin kalau sebenarnya bosnya pasti tahu akan keberadaannya, ia berpikir kalau bosnya sengaja membiarkannya berdiri lama untuk menghukumnya. Sialan! Ana makin gondok.
Harus banget pakai acara dihukum begini! Bener-bener bos nggak ada ahlak!
Habis sudah kesabaran Ana. Ia enggan menunggu lagi, lantas ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya untuk menelepon bosnya. Hal yang jarang Ana lakukan kecuali untuk urusan pekerjaan dan urgent. Namun, kali ini ia terpaksa melakukannya karena menurutnya itu opsi terakhir yang bisa ia lakukan agar tidak terus-terusan berdiri kayak patung di depan pintu.
"Nggak diangkat juga!" Emosi Ana makin mencuat ke ubun-ubun. Panggilan teleponnya diabaikan. "Apa sih sebenernya maunya? Dia yang suruh dateng, dia juga yang ngerjain gue begini! Emang biadab banget!" Ana mengomel, kembali menghubungi nomor bosnya dan hasilnya kembali panggilannya tidak diangkat.
Ana memejamkan mata, mengatur napas. Tidak ada cara lain, mau tidak mau Ana pun memakai opsi terakhir. Opsi yang sebenarnya tidak mau Ana lakukan, tapi terpaksa ia lakukan karena kini hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Pak Rey!"
"Buka pintunya!" Ana menggedor pintu. "Pak Rey, saya udah sampai dari tadi, kalau nggak dibukain juga, saya mendingan pul-" Cara Ana kali ini membuahkan hasil, pintu seketika terbuka dan membuatnya tercekat.
OMG!
Ana melongo sesaat, lalu refleks mengerjapkan mata, memastikan apa yang dilihatnya benar-benar nyata.
Pak Rey, seksi banget-sadar Ana!
Ana spontan menggeleng, menepis pemikiran sesat yang mendadak muncul di dalam kepalanya dan ini semua disebabkan Rey yang membuka pintu dalam keadaan setengah naked.
Ya, laki-laki itu hanya memakai handuk sepinggang dan membiarkan bagian d**a bidangnya terekspos. Wajar jika Ana sempat terpesona, karena badan atletis Rey benar-benar menggoda.
Ana salah tingkah, ketika sadar bosnya sedang memperhatikannya sedari tadi. Ana jadi kikuk sendiri, padahal harusnya yang merasa malu itu bosnya karena hanya memakai handuk, tapi ini malah Ana yang merasa seperti tengah ditelanjangi.
"Ngapain masih di situ?" Setelah diam cukup lama, akhirnya Rey buka suara. Tatapannya masih intens pada Ana yang sengaja menghindari sorot matanya, "Masuk!"
Ana mengerucutkan bibir, mendengar suara Rey yang seolah-olah siap melahap dia hidup-hidup. Galak kayak kucing olen, arghhhh!
"Saya suruh kamu datang cepat, kenapa lelet banget baru sampai!" omel Rey sambil berjalan masuk menuju kamarnya, diikuti Ana yang berjalan di belakangnya. "Gara-gara kamu, saya jadi kesiangan!"
Ana mendengkus pelan, meredam amarahnya yang seakan mau meledak. Bukankah harusnya dirinya yang marah? Kenapa malah bos sialan ini yang ngomel-ngomel nggak jelas!
Sayangnya Ana tidak bernyali untuk menimpali omelan Rey. Ia hanya tertunduk sambil bilang, "Maaf Pak, semalam 'kan, saya nemenin Pak Rey lembur, makanya saya bangun kesiangan. Saya juga lupa kalau hari ini Pak Rey ada acara. Tapi biasanya 'kan, Pak Rey bisa dateng sendiri kalau bukan acara kantor." Ana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berharap bosnya tidak murka karena ucapannya barusan.
"Ganti baju kamu pakai ini!" Mengabaikan ucapan Ana barusan, Rey menyodorkan paper bag sebuah brand busana dari desainer terkenal.
Ana mengernyit, menerima paper bag yang Rey sodorkan. "Jangan bilang Pak Rey, mau saya-"
"Kenapa?" potong Rey, seakan tahu apa yang akan Ana katakan. "Kamu keberatan?"
"Tapi Pak, ini 'kan-"
"Anggap saja hari ini lembur," tukas Rey, berlalu meninggalkan Ana.
Ana berdecak, pasrah jika sudah begini! Ia tidak bisa menolak jika bosnya sudah berkehendak, termasuk menemani bosnya ke setiap acara-acara penting koleganya.
"Kenapa nggak cari istri aja sih, gue mulu perasaan yang disuruh nemenin!" Sepanjang mengganti baju, Ana terus menggerutu. "Percuma ganteng kalau pacar aja nggak punya, dasar jomlo karatan!" Tanpa Ana sadari, jika orang yang dimaksud mendengar semua perkataannya. "Jangan-jangan si pak Rey nggak doyan cewek, makanya jomlo! Berarti pak Rey, ups!" Ana refleks menutup mulut, tidak percaya dengan apa yang tercetus dalam pikirannya.
Rey yang sudah tidak tahan lagi mendengar pemikiran absurd Ana, lantas menyahut, "Berarti apa?"
Mendengar suara Rey, sontak Ana terkejut. Ia refleks berbalik dan kaget bukan main mendapati Rey ada di ambang pintu kamar. "Pak Rey!"
Rey dengan setelan necis bewarna navy, berjalan menghampiri Ana yang syok melihatnya. "Memangnya kenapa kalau saya jomlo?"
Ana tertegun, dalam hati mengutuk mulutnya yang asal bicara dari tadi. Ia tidak menyangka kalau atasannya akan mendengar semuanya.
"Dari mana kamu tahu kalau saya nggak suka cewek?" Rey terus berjalan maju, saat Ana berusaha menghindarinya hingga punggungnya menabrak dinding.
Ana terjebak, tidak bisa ke mana-mana ketika Rey berhenti di hadapannya, menutup semua akses dengan tangannya yang menopang ke sisi kepala Ana.
"Jadi menurut kamu, saya ini-"
Ana spontan menggeleng, berusaha menepis demi menyelamatkan diri dari kemarahan Rey. "Enggak Pak, saya nggak bermaksud-"
"Ssuuut!" Rey membungkam bibir Ana dengan telunjuk, tidak memberi kesempatan Ana untuk membela diri. Rey menunduk, mensejajarkan wajahnya di depan Ana sambil berkata, "Saya sudah dengar semua Ana."
Ana menelan ludah. Mati gue!
"Pak Rey, saya ...," Ana mendongak, menatap takut bosnya yang tampak tampan, tapi juga menyeramkan dengan sorot mata tegas yang tidak lepas menatapnya. "Saya-" Di saat Ana berusaha ingin menjelaskan, suara lain tiba-tiba menginterupsi.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?" Suara familiar yang membuat Ana dan Rey refleks menoleh ke pintu.
Baik Rey, maupun Ana, sama-sama terkejut melihat siapa yang datang.
"Mama!" Rey mendelik, tidak menyangka akan dipergoki oleh mamanya. Meskipun sebenarnya ia dan Ana tidak melakukan apa-apa, tapi melihat posisi mereka saat ini, jelas siapa pun akan berpikiran ke arah yang sama.
"Nyonya Renata!" Ana melotot. Mampus gue, cobaan apa lagi ini!
Sementara orang yang dimaksud pun geleng-geleng kepala melihat posisi Rey dan Ana. "Mama tunggu di luar, kita harus membahasnya," ucapnya kemudian, berlalu meninggalkan keduanya yang masih terpaku.