2 | Bertemu Dia

1224 Words
"Mandul ...?" bisik orang-orang. Kembali jari telunjuk bu kades teracung ke wajah Ilusi. "Kamu ini pernah menjalani operasi pengangkatan sel telur, kan? Iya, kan? Akui itu! Tapi kamu malah menyembunyikannya dari kami, bahkan dari Satria—putra kami!" Ilusi terhenyak. Bapaknya langsung menimpali. "Oalah ... masalah itu. Bu—" "Masalah itu, Pak Marsel? Itu? Seolah hanya 'itu', padahal penting bagi seorang perempuan untuk bisa memberi keturunan! Apalagi Satria ini anak tunggal kami. Berani-beraninya kalian menutupi hal besar itu dan malah seakan menganggapnya remeh!" "HANYA SATU!" sambar Bu Wiwi, selangkah lebih maju di depan Pak Marsel dan menutupi Ilusi yang membeku. "Hanya satu sel telurnya yang diangkat dan bukan bermaksud menutupi, apalagi kejadiannya sebelum—" "HALAH!" Bu kades lebih terbakar. "SATU JUGA ITU SEL TELUR! INDUNG TELUR! YANG MASIH PUNYA DUA SAJA KADANG SUSAH HAMIL, APALAGI TINGGAL SATU!" Ilusi menggigil, jari-jemarinya dingin. Dilarikannya tatapan ke sekitar, tatapan orang-orang terasa menghakimi. Mulai berbeda—serasa tak ada lagi keramahan untuknya. Bahkan ... tatapan itu, tatapan Satria, Ilusi mendapati kekecewaan besar di sana. "Ma, udah, Ma ...." Satria berujar pelan. Menarik mundur sang mama dengan lembut. Bu kades pun berbalik menatap putranya, beliau bilang, "Batalkan pernikahan ini! Mama nggak mau punya menantu mandul! Anak Mama cuma kamu, Mama mau ada cucu! Pokoknya, batalkan ... nggak usah nikah kalau sama Ilusi. Batalkan!" Perih. Sesak. Hati Ilusi sakit mendengarnya. Makin sakit saat sorot mata ini bertemu tatap dengan calon suami. Mata Ilusi sudah tergenangi air. Wajar, kan? Meski masih dia tahan-tahan agar tidak tumpah. Tidak ada pembelaan atau sepatah kata pun dari Ilusi, rasanya percuma bilapun dia membela diri. Toh, sudah diwakilkan oleh ibu dan bapak, meski ucapan mereka selalu kena potongan dari emosi mama Satria. Yang sudah berlalu, bu kades melenggang menyisakan suasana suram—seratus delapan puluh derajat bedanya dengan sukacita di sebelum beliau datang. Ilusi juga melihat ada terlalu banyak orang di sini, yang di luar sampai melongok-longok masuk ingin tahu. Hari itu .... Satria melangkah maju. Semua mata rasanya tertuju pada tokoh utama di acara tiga hari mendatang. Satria dan Ilusi, nama yang sudah tercetak di undangan pernikahan, yang bahkan sudah disebarluaskan. Ilusi menggigit kuat bagian dalam bibir, tak peduli bila sampai ada luka karena gigitannya, demi menahan perih di hati. Satria menelan ludah, menunduk sebentar. Lalu dalam satu tarikan napas, Satria berujar dengan sorot mata jatuh tepat di pandangan Ilusi. "Maaf ...." Ilusi menahan napas. Satria pun berpindah memandang ibu dan bapak Ilusi bergantian. "Saya kembalikan Ilusi ke Bapak ... Ibu. Sepertinya pernikahan ini—" "Kembalikan apa maksud kamu? Ilusi belum pernah kami berikan sampai betul-betul bisa kamu kembalikan," tukas Pak Marsel. Satria tersentak. Tapi Pak Marsel tidak salah. Kan, memang belum menikah. "Pernikahannya kami batalkan," tukas pak kades, ekspres. "Lain kali lebih jujur lagi, ya, Pak Marsel. Ilusi. Jangan sampai ada korban selain putra saya. Ayo, Sat!" Ilusi diam, sejak tadi juga diam. Satria menatap Ilusi sekali lagi, pandangan Ilusi juga masih tertuju ke arah lelaki itu. Sampai akhirnya, Satria yang melengos lebih dulu. Berbalik arah. Pergi. "Lusi ...." Bahunya disentuh ibu, Ilusi menoleh dan senyum, lain dengan mata yang semakin digenangi air, tetapi masih Ilusi tahan-tahan agar tidak tumpah. *** Keesokan hari .... "Tahu, nggak? Pernikahannya batal." "Ih, iya, iya! Katanya karena dibohongin, ya?" "Jangan bilang ke siapa-siapa, ya. Neng Lusi mandul, jadi dibatalin." "Hah? Mandul?" "Ternyata pernah operasi angkat sel telur." "Nggak jujur sama keluarga calonnya, sama calon suaminya juga nggak info-info. Bu kades marah banget, tahu!" "Sampe nampar, Mpok!" "Ssst!" "Waduh ... jadi, nggak, ini beli sayurnya? Dipilah-pilih terus ini dari tadi," potong kang sayur. Para ibu-ibu yang mengitari gerobaknya pun tertawa. Namun, tentu ... gibahnya berlanjut. Sedang panas ini. Hot jeletot mengalahkan sambal cabai sayton. Bagaimana tidak? Tenda pernikahan yang telah dibangun itu dibongkar lagi, panggung yang sudah berdiri pun diratakan, lalu pelaminannya ditiadakan. Ini hal baru di kampung mereka. "Kasihan banget, lho. Lusi diamuk-amuk depan semua orang. Ditampar. Dibatalin nikahnya. Padahal udah pasang tenda, pelaminan udah jadi, panggung biduan udah hampir ready, undangan juga udah disebar, tapi ...." "Batal, Ya Allah. Cobaan orang cantik, ya? Padahal saya kira Neng Lusi ini sempurna banget hidupnya." "Nah. Nyatanya nggak ada satu pun segala sesuatu di dunia ini yang sempurna, Bu. Gak ada." "Bener. Padahal selama ini kita lihat Neng Lusi itu ... kayak kurang apa coba? Cantik, baik, anak orang punya, pinter, pendidikan bagus, eh ... amit-amit. Nggak bisa punya anak katanya." "Iyalah, orang sel telurnya diangkat." "Tapi katanya cuma satu yang diangkat, Mpok." "Masalahnya, yang masih dua aja kadang nggak langsung hamil, kan? Ini gimana kalau satu?" "Bener. Mana calonnya Neng Lusi anak pak kades pula. Satria, kan, anak tunggal. Saya juga kalo ada anak bujang, kayaknya pikir-pikir dulu buat bermantukan Neng Lusi. Duh ... bukannya gimana, ya. Tapi realistis aja." "Cantiknya jadi nggak berguna, ya, Bu?" "Yang cantik mah gampang dicari, Ibu-Ibu. Tapi kalau soal indung telur? Kan, saya pengin punya cucu. Meski dibilang genetiknya bagus, percuma kalau gak bisa punya anak. Ya, kan?" "Bener. Cacat jadinya." "Nggak jadi wanita seutuhnya." Kalian dengar itu? Atau hanya Ilusi yang mendengarnya di sini? Di balik pagar semak yang tingginya melewati tinggi badan Ilusi. Tahu, kan, pagar semak? Pagar alami dari tanaman liar—tetapi ada juga yang sengaja menanam buat dijadikan pagar macam ini. Ilusi berdiri di situ, langkahnya belum melewati pagar itu, di mana tukang sayur ada di sisi jalan yang bersisian langsung dengan pagar semak. Langkah Lusi terbegal oleh obrolan para ibu di gerobak sayur itu. Yang katanya, "Bener. Jangan sama Neng Lusi, dia mandul." Oh ... harusnya Ilusi tidak keluar dulu, ya? Harusnya dia biarlah mengurung diri di dalam kamar dulu sampai bahasan tentangnya mereda. Harusnya. Tapi Ilusi tidak tahan juga di rumah, tak tahan melihat ibu yang terus menangis dan bapak yang murung. Lusi ingin menunjukkan kepada mereka bahwa dia baik-baik saja. Namun, ternyata tubuh Lusi jauh lebih jujur, tangannya mendingin, jantung berdetak keras, bahkan ada getar di jemari. Untungnya, itu sudah lewat. Hanya beberapa bagian dari kenangan buruk Ilusi di tiga tahun lalu. Meski masih terasa menakutkan sekadar buat pulang. Tertanda, hari ini. Ilusi, 24 tahun. "Ci, malam ini jadi?" "Jadi. Si om udah check in." "Njir." Ilusi tertawa. "Katanya, ya, Tin." Tini namanya, teman sekamar Lusi di kos selama tinggal di Jakarta. Pilih indekos yang sekamar bisa berdua supaya patungan bayarnya. Maklum, masih merintis, Sis! Tunggu jadi karyawan tetap dulu baru pisah kamar. "Terus kamu yakin mau nerima tawaran itu?" Ilusi menyempurnakan riasan di wajah dengan memoles gincu. "Hm? Yakin." "Kalau sampai diapa-apain, gimana? Ini Jakarta, lho. Check in hotel sama om-om pula. Aku bisa kena amuk bapakmu, Ci." "Si Nona bilang aman. Udahlah, aku berangkat dulu." Sambil Lusi kalungkan kartu pegawai ke lehernya. Luxe, Atmaja Group. Langkah Ilusi begitu ringan setibanya di sana. Tap in kartu. Sampai di titik dia mau masuk lift, tetapi seseorang di dalamnya seakan tidak memberi ruang—padahal masih kosong—untuk Ilusi masuki. But, bodoh amat! Lusi gesit melesat masuk sebelum pintu benar-benar menutup. Di sini. Berdua. Ilusi berdiri di depan lelaki itu, yang lalu mundur beberapa langkah agar sejajar. Sial, kaku. Terjebak canggung dan Ilusi tak suka itu. Ehm. "Maaf, ya, Mas. Saya buru-buru dan yang tersisa cuma lift ini." Yang Lusi tatap wajah itu, ditatap balik. "Masnya di divisi mana?" Beuh! Ilusi merinding. Auto mingkem. Dingin abis, cuuui! Salah, ya, Lusi ngomong? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD