Pukul 19:45 malam.Malam di Desa Gadita sunyi sekali. Angin gunung berhembus dingin dari lereng, bawa bau tanah basah dan daun jati kering. Langit gelap penuh bintang, bulan sabit tipis menggantung di atas pohon kelapa. Jalan tanah merah menuju pos ronda di pintu masuk desa terasa sepi, hanya suara sandal jepit Revan dan Mas Andi yang berderit pelan, plus sesekali suara jangkrik dari pinggir sawah.Revan jalan di samping Mas Andi, jaket lusuh dipakai karena dingin mulai terasa, senter kecil di tangan kanan menyinari jalan depan.Ayu melayang santai di belakang mereka, kaki telanjang nggak nyentuh tanah, kebaya sutra hijau tipisnya bergoyang pelan, mata hijau zamrudnya berbinar penasaran lihat malam desa.Mas Andi nyengir lebar, (tangan angkat senter lebih tinggi.) “Van, lo lupa banget sih mala

