Pukul 22:30 malam. Kamar Revan. Revan masuk dan langsung duduk di dipan kayu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia mencoba menenangkan diri setelah jatuh total dalam pertempuran iman. Ayu masuk, auranya mistis, super cantik, dan centil, tubuhnya yang hanya dibalut kebaya tipis transparan itu meliuk dengan genit. Keindahan Ayu begitu memukau, membuat kamar bilik bambu itu terasa seperti istana yang terlalu sempit untuk menampung auranya. Ayu: (Berdiri tepat di depan Revan, dengan wajah polos dan keingintahuan yang kekanakan) "Kenapa Revan? Kamu kenapa tutupi wajahmu? Aku kan tidak jahat. Aku cuma ingin tahu, kenapa kamu panggil aku lagi? Kamu kangen ya?" Revan: (Wajahnya masih memerah, ia berusaha keras tidak melihat lekukan tubuh Ayu) "Jangan dekat-dekat, Ayu! Aku panggil kamu kare

