Dalam perjalanan menuju hutan belantara yang masih perawan itu, matahari siang sudah naik tinggi, membakar kulit, membuat keringat menetes di leher Revan.Di depan, Dika mengayuh sepeda ontelnya dengan penuh semangat, badannya yang gendut bergoyang-goyang, mulutnya tak henti-hentinya bercerita.“WOOOIIII REVAN!! GUE BALIK!! AYOOO CARI MADU SEBELUM SIANG PANAS GILA!! Hahahaha!!”Revan yang masih duduk di teras, gelas kopi di tangan, langsung berdiri pelan. Ember kosong diambil dari sudut, golok kecil diselipkan di pinggang. Dia nggak bilang apa-apa, cuma ngangguk ke Dika.Cici, Vita, Sari langsung lompat dari bangku.Cici: “Kami ikut!! Hahahaha!”Vita: “Iya ikut!! Hihihihi!”Sari malu-malu: “Aku… aku juga boleh ya… hehehe…”Dika langsung heboh, tangan lebar-lebar. “WAAAH CEWEK-CEWEK MAU IKUT!!

