Setibanya di rumah, Arman, Nayla, Oma, dan Bian diam mematung ditempatnya berpijak. Wajah mereka tertunduk ke lantai, melihat opa berdiri tepat di depan mereka. Mata opa tajam menatap Arman, Bian dan Oma bergantian, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Ia enggan menatap Nayla, wanita itu telah merusak aturan di rumah itu. “Bian, Mandi dan ganti baju. Guru mu masih menunggu di ruang belajar.” Ujar opa menatap Bian tajam. Bian tertegun sesaat, tidak menduga kalau guru privatnya menunggu. “Baik, opa.” Jawab Bian menunduk lalu bergegas ke kamarnya. “Arman, ikut papa ke ruang kerja papa!” ujar papa beranjak pergi. Arman menoleh Nayla dan ibu bergantian. “Sebentar, ya, Nay,” ujar Arman menyerahkan stroller baby pada Nayal. Nayla mengangguk lalu meraih stroller baby dari tangan Arman. “I

