“Belajar yang pintar, ya, anak mama,” ujar Nayla mengantar Bian masuk ke dalam mobil. “Iya, Ma, daa, mama, daa, papa. Assalammualaikum,” ujar Bian melambaikan tangan. “Daa, Sayang, Waalaikum salam,” sahut Arman dan Nayla hampir bersamaan. “Huff …”Nayla menghempas napasnya setelah mobil yang membawa Bian hilang dibalik pagar. “Kenapa, Nay?” tanya Arman melihat gundah di wajah ayu itu. “Aku nggak enak hati sama papa, Mas. Aku takut papa marah,” jawab Nayla masaih tetap menghadap pintu gerbang. “Kamu tenang saja. Walau bagaimana pun, kita sudah memutuskan untuk pindah dari rumah ini. Berarti kita sudah siap menghadapi pertanyaan papa dan ibu.” Ujar Arman merangkul pndak Nayla. “Kamu nggak usah gugup. Yang perlu kamu lakukan adalah duduk manis di sanpingku, lalu berikan senyum te

