Kayla menunggu jawaban Zavian dengan resah, tapi ketakutannya tidak terjadi. Zavian mengulas senyum dan menjawabnya dengan lembut.
"Tidak, Kay. Aku kan sudah janji tidak akan marah padamu."
Jawaban Zavian pun menenangkan, membuat Kayla merasa lega. Perempuan itu takut kalau Zavian marah padanya karena bertemu Vano, meski secara tidak sengaja.
Entah bagaimana Vano bisa tahu keberadaan Kayla. Apa pria itu benar-benar menguntitnya? Kayla merasa merinding sekarang.
"Sebenarnya aku kemari juga karena takut Vano mengikutiku sampai ke rumah, sedangkan di sana tidak ada orang." Akhirnya Kayla mengatakan sejujurnya, padahal tadi ia bilang hanya mampir dan ingin melihat kantor Zavian.
Zavian mengangguk mengerti. "Kamu membuat pilihan yang tepat. Tunggulah di sini sampai aku menyelesaikan pekerjaanku. Tidak apa-apa kan?"
Kayla pun langsung mengangguk antuias. "Aku akan menunggumu."
Suaminya pun kembali ke meja kerjanya, sedangkan Kayla memperhatikan bagaimana Zavian mengecek dokumen-dokumen yang ada di atas meja kerjanya dengan raut wajah serius.
Baik Zavian maupun Vano, kedua pria itu sebenarnya sama-sama tampan. Hanya saja tipe wajah Vano lebih teduh, sedangkan Zavian sedikit terlihat tegas. Kayla memandangi suaminya dengan tangan menopang dagunya, seolah begitu terpana.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Zavian, yang tiba-tiba menatap pada Kayla, membuat sang istri salah tingkah.
"Tidak, aku tidak sedang melihatmu." Kayla langsung mengambil asal majalah yang ada di atas meja dan pura-pura membacanya.
Terdengar langkah Zavian mendekatinya, membuat Kayla semakin mendekatkan majalah itu ke wajahnya.
"Kamu bisa membaca dengan terbalik?" Zavian mengambil majalah dari tangan Kayla dan membaliknya.
Kayla malu bukan main, karena dia ketahuan. Ia asal mengambil majalah dan pura-pura membacanya padahal bukunya terbalik.
Zavian terkekeh karena tahu istrinya saat ini pasti sedang merasa malu. "Istirahatlah barangkali kamu lelah, pekerjaanku sepertinya tidak bisa selesai cepat."
Kayla menggeleng seraya tersenyum. "Aku akan menunggumu, Vian. Santai saja."
Hari semakin sore, tanpa sadar Kayla menguap. Perlahan ia menyandarkan badannya pada sofa dan tiba-tiba saja dia sudah meringkuk di atasnya. Kayla tertidur.
Zavian merenggangkan badannya dan melihat ke arah Kayla yang ternyata terlelap di atas sofa. Pria itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menghampiri Kayla dan berjongkok di depan sofa, memandangi wajah istrinya yang begitu cantik meski sedang tertidur.
Jika dikatakan jatuh cinta, sepertinya Zavian belum merasakannya. Pria itu menghargai Kayla sebagai wanita dan juga sebagai istrinya, tapi perasaan suka itu belum juga tumbuh. Meski begitu, Zavian yakin tidak akan sulit jatuh hati gadis seperti Kayla. Dia berkeyakinan rasa suka itu perlahan akan hadir di antara Zavian dan Kayla.
"Aku tahu kamu juga menyukai Vano, Kay. Tapi aku tidak mau kamu bersamanya. Meski tujuan awalku karena tidak mau melihat Vano bahagia, tapi sekarang tujuanku ingin membahagiakan kamu."
Tangan Zavian terulur mengusap kepala Kayla lembut. Perempuan itu menggeliat sedikit, namun tidak terbangun. Karena tidak mau mengganggu tidur Kayla, maka Zavian membiarkan perempuan itu dan menunggunya.
"Kamu sudah menungguku, kini giliran aku yang menunggumu."
Hampir tiga jam lamanya Kayla tertidur, hari sudah gelap. Perempuan itu bangun dan terlonjak kaget
"Astaga, aku ketiduran!" Kayla mengusap wajahnya, kemudian tidak melihat Zavian di ruangannya. "Kemana Zavian? Apa dia meninggalkan aku?"
Kayla langsung meraih tasnya dan keluar dari ruangan Zavian. Kantor sudah sepi karena sudah tidak ada orang. Perempuan itu mempercepat langkahnya karena takut. Dia sampai di depan lift dan langsung memencet tombol turun.
Tiba-tiba Kayla merasa bahunya ditepuk seseorang dan ia menjerit kaget. "Aaa ...!" Dia memukul-mukul orang itu sambil menutup matanya.
"Hey, ini aku, Zavian! Kayla, aku suamimu!" Ternyata orang itu adalah Zavian.
Kayla membuka matanya. "Kamu membuatku kaget!" rengeknya, karena sungguh kaget setengah mati.
"Kamu masih tidur, jadi aku pergi membuat kopi, saat aku kembali ke ruanganku kamu tidak ada di sana." Zavian memeluk Kayla singkat. "Maaf kalau mengangetkanmu. Kita pulang ya, aku ambil tasku dulu."
Zavian segera berlari menuju ruangannya untuk mengambil tas kerjanya, kemudian bergegas kembali menghampiri Kayla yang menunggu di depan lift. "Ayo, pulang."
Tangan pria itu mengambil tangan Kayla dan menggenggamnya. Setelah masuk ke dalam lift pun genggaman tangan Zavian tidak terlepas, sampai-sampai membuat Kayla bingung dan terus memandangi tangan mereka yang bertautan.
"Kenapa?" tanya Zavian, memecah keheningan.
"Hah? Tidak, tidak apa-apa." Kayla menyembunyikan kebingungannya dengan menunjukkan senyum manisnya.
Kayla dan Zavian dalam perjalanan pulang. Pria itu mengemudi mobil dengan sangat hati-hati, sambil sesekali melirik ke arah Kayla.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku, Vian?" tanya Kayla, membuka obrolan.
"Kamu tidur nyenyak sekali, aku tidak tega membangunkanmu." Zavian menyahut sambil menoleh sebentar.
"Maaf kamu jadi lebih lama di kantor karena menungguku bangun."
"Tidak masalah, Kay. Tadinya aku ingin menggendongmu jika kamu belum bangun juga," kekeh Zavian.
Kayla pun ikut terkekeh. Mungkin Zavian memang bukan pria yang Kayla sukai pada awalnya. Namun mencoba mencintai pria yang kini menjadi suaminya itu seharusnya Kayla bisa melakukannya. Zavian pria baik bagi Kayla, meski dia menyimpan rahasia yang mungkin bisa membuat perempuan itu terluka.
***
Kayla merasa pundaknya sakit, mungkin karena posisi tidurnya di sofa kantor Zavian tadi. Dia memijit-mijit pundaknya sendiri, namun rasanya agak sulit. Zavian melihat dan menawarkan diri.
"Kenapa? Pundakmu sakit karena salah posisi tidur ya? Mau aku bantu pijit?"
Kayla sebenarnya merasa canggung, tapi ia mengangguk karena rasanya pundaknya memang sakit sekali.
Zavian pun naik ke tempat tidur dan duduk bersila di belakang Kayla. Tangan pria itu mulai memijit pundak istrinya. "Kalau terlalu keras atau sakit bilang ya, Kay. Aku pelan-pelan."
Kayla mengangguk mengerti. Pijitan Zavian terasa pas, tidak terlalu lemah dan tidak terlalu keras. Pundak Kayla terasa lebih rileks sekarang.
"Sudah enakan?" tanya Zavian, sambil terus memijit.
"Sudah, Vian. Terima kasih." Kayla hendak berbalik, tapi Zavian malah memeluknya dari belakang.
Tangan pria itu melingkar di perut Kayla. Kepalanya ia tenggelamkan di ceruk leher istrinya, membuat kulit Kayla meremang.
"Za-vian," panggil Kayla terputus, napasnya mulai memburu.
Dia tidak mau berharap lebih, karena Zavian tidak pernah melanjutkan apa yang sudah dimulainya. Dia tahu pria itu akan berhenti tiba-tiba.
"Kamu wangi," puji Zavian.
"A-aku kan sudah mandi." Kayla menjawab sekenanya. Mencoba mempertahankan kewarasannya.
Zavian memang memeluknya, menggenggam tangannya, menciumnya, tapi tidak pernah lebih dari itu. Pria itu belum bisa melakukan, karena Zavian punya alasannya sendiri.
"Zavian, cukup." Kayla meminta suaminya itu berhenti.
"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?" Zavian pun berhenti dan menatap Kayla dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.