Alea menatap bayangan wajahnya di cermin. Dia mencari di mana celah di wajahnya yang membuat Nathan ingin mempermainkannya. Alea teringat dengan peristiwa semalam. Bagaimana dia dengan mudahnya memberi kecupan di pipi Nathan. “Ya ampun Lea, kenapa kamu b**o banget sih. Kenapa juga kamu lakuin itu. Kalo Nathan kira kamu murahan gimana? Aaakkh!” Alea semakin frustrasi. “Gak bisa! Aku harus bicarakan ini secepatnya. Dia harus jujur, kalo tetep gak mau jujur, aku gak peduli, bakalan aku putusin aja dia!” Alea sudah memutuskan untuk memperjelas segalanya secepatnya. Dia tidak ingin berlarut-larut dalam hubungan yang tidak jelas. Nathan harus memperjelas hubungannya dengan Luna. Alea tidak ingin dibohongi. Alea merapikan pakaiannya lagi lalu segera keluar dari toilet. Dia menuju ruang guru

