Tetanggaku Pujaan Hatiku

818 Words
Bibir Kejora seakan lupa bagaimana caranya berhenti tersenyum. Bagaimana tidak, ternyata rumah yang dijanjikan sang Ayah untuk Kejora tempati selama berkuliah di Jerman—berada tepat di depan rumah Arjuna. Rendra sendiri tidak pernah tau jika anak dari Alisha dan Ben tinggal di depan rumah yang dibelinya beberapa bulan lalu. Pasalnya Alisha dan Ben juga tidak menetap di sana, mereka selalu berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk mengawasi restoran milik mereka yang tersebar di beberapa kota di Jerman dan Irlandia. Selain itu Alisha dan Ben memiliki rumah tinggal di Irlandia dan datang ke Jerman hanya sesekali untuk mengunjungi Arjuna dan restorannya saja. Seakan semesta berpihak padanya dan takdir kadang bercanda selucu ini. Kejora akan lebih mudah memikat hati Arjunanya, ia telah menyusun berbagai rencana yang salah satunya adalah membuatkan sarapan pagi dan makan malam untuk pria itu. Hitung-hitung ia belajar menjadi seorang istri bagi sang Arjuna. Sebelum rumah itu rampung untuk direnovasi bagian interiornya, untuk sementara waktu Kejora tinggal di apartemen dan mulai besok Kejora sudah bisa menempati rumah itu. Senyum penuh kebahagiaan di bibir Kejora, tertangkap jelas oleh Arjuna yang sedang membayangkan bagaimana hidupnya kedepan dengan Kejora menjadi tetangganya. Semenjak kemarin malam kedua orang tuanya menceritakan jika Kejora akan menjadi tetangganya, sejak itu juga Arjuna seperti ingin lenyap dari muka bumi ini. Siang itu keluarga Rendra sengaja mengunjungi Ben dan Alisha untuk pamit karena akan kembali ke negara masing-masing. Ben dan Alisha menjamu makan siang terakhir sebelum Rendra dan keluarganya menuju Bandara dimana dua privat jet milik AG grup terparkir di sana. “Waaa ... kebetulan sekali ya Abang beli rumah di perumahan ini, Arjuna jadi bisa jagain Kejoranya,” Aunty Alisha berkata begitu renyah memberikan kesegaran bagai angin sepoi-sepoi menerpa hati Kejora. “Makasih ya Ayah ... Kejora sayang banget sama Ayah,” Kejora memeluk sang Ayah erat. Entah ini pertanda bagus atau buruk, hati kecil Rendra mengkhawatirkan sesuatu. Walau bagaimanapun Kejora adalah anak gadisnya yang memiliki kecantikan di atas gadis normal pada umumnya. Mungkin Arjuna saat ini belum menyukai Kejora tapi jika Kejora yang terus-terusan menyodorkan dirinya, bisa jadi Arjuna dan ... Rendra menggelengkan kepala mengenyah pikiran buruk tentang ‘kecelakaan’ sebelum nikah yang banyak terjadi di kalangan anak muda jaman sekarang. “Jaga kepercayaan Ayah ya Kejora, kamu menyandang nama baik Gunadhya di belakang namamu,” gumam Rendra dengan mata menatap tajam ke arah Arjuna yang kemudian menelan saliva kelat seolah pesan Rendra pada Kejora merupakan ultimatum untuk Arjuna. Padahal tidak sedikitpun Arjuna menyukai gadis genit seperti Kejora, jika boleh jujur—Arjuna lebih tertarik kepada Kalil-Kakak dari Kejora yang selalu menunjukan tampang datar dan setiap gerak-geriknya selalu efisien, tidak banyak bicara dan elegan terkesan misterius. “Tenang Ayah ... Kejora enggak akan masukin cowok ke dalam rumah, paling sekali-kali Bang Juna masuk ke rumah buat ngusir kecoa atau bantuin masangin lampu,” kata Kejora beralasan. “Arjuna ‘kan cowok, Kejora ... .” Kama-sang Kakak tersayang melayangkan protes. “Abang Juna ‘kan calon mantu Ayah, jadi boleh ya, Yaaaah?” Rendra hanya tersenyum menanggapi. “Kata Bunda ... Kejora jago masak, jadi nanti kalau Mommy sama Daddy lagi survey restoran ke beberapa kota atau kembali ke Irlandia ... kamu ada yang masakin, Jun!” Alisha menepuk pundak Arjuna pelan. “Ya ampun Aunty ... kok kita bisa sehati sih, Kejora juga udah kepikiran gitu,” kata Kejora dengan ekspresi wajah malu-malu kucing membuat Ben dan Alisha tergelak. Bunda Aura dan Kalika merotasi bola matanya, di antara keluarga Gunadhya hanya Kejora yang memiliki sifat berbeda dari yang lain. Itu kenapa Kejora menjadi kesayangan Gunadhya dan selalu menjadi bintang di hati mereka. *** “Seperti yang kita tau, Kejora menyukaimu ... aku tidak mengerti kenapa Kejora sampai tergila-gila padamu ... padahal anak Presiden di negara Kami dan anak Sultan dari Negara tetangga, dia tolak mentah-mentah ...,” tutur Kama ketika hanya berdua saja di taman belakang bersama Arjuna setelah selesai makan siang. Arjuna tersenyum kaku, ia begitu menghormati keluarga angkat Mommynya yang menurut Arjuna sangat ramah. Tapi tidak dengan Kejora. Gadis itu, ya Tuhan ... nyaris membuatnya hypertensi. Contohnya tadi ketika makan siang bersama di meja makan, gadis itu menyuapkan lauk pauk dari piringnya ke mulut Arjuna bertepatan saat Arjuna membuka mulutnya. Terpaksa Arjuna mengunyah apa yang sudah berada di mulutnya dari sendok Kejora tadi. Ingin marah tapi dua pria Gunadhya itu seakan mengawasi Arjuna meski netra mereka tidak terarah kepadanya. “Sebagai Kakak, aku berharap kamu tidak menyakitinya ... .” “Aku akan berikan penjelasan kepada Kejora, semoga dia mau mengerti.” Tersirat jelas dari ucapan Arjuna jika pria itu tidak mencintai Kejora, Kama mendengus geli di dalam hati. Mungkin sekarang Arjuna tidak mencintai Kejora, dengan pertemuan mereka yang intens karena rumah mereka yang saling berhadapan, Kama bertaruh paling lama enam bulan Kejora sudah berhasil memikat hati Arjuna. “Semoga berhasil,” ucap Kama, menepuk pundak Arjuna sedikit kencang kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, sang Ayah sudah memanggilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD