Rasa Kemanusiaan Belaka

812 Words
Arjuna melirik Kejora yang duduk di kursi penumpang di sampingnya, gadis itu tampak seperti menahan tangis. Kristal bening mengucur deras namun bibir Kejora mengatup, kedua tangannya yang berada di atas pangkuan bergetar hebat. “Kejora ... apa kamu terluka?” Arjuna bertanya dengan nada lembut. Kejora menggelengkan kepala. Arjuna meraih tissue yang kemudian ia berikan kepada Kejora. Satu tangannya yang lain memegang kemudi dan mata Arjuna bergerak cepat menatap jalan kemudian Kejora secara bergantian. Beberapa saat tangan Arjuna menggantung namun akhirnya tangan bergetar Kejora terangkat juga menerima tissue tersebut. Kening Arjuna tidak berhenti berkerut hingga mobilnya keluar dari jalan tol, membelokan kemudi untuk memarkirkan mobilnya di minimarket. Tanpa banyak bicara Arjuna keluar dari mobil dan beberapa saat kemudian masuk kembali dengan botol air mineral di tangannya. “Minumlah ... .” Arjuna menyodorkan botol air mineral tersebut namun Kejora diam saja. Tangannya masih bergetar hebat dan air matanya belum berhenti mengalir. Arjuna jadi bingung harus bagaimana, kondisi seperti ini baru pertama kali dihadapinya. Jika saja Kejora gadis yang dicintainya mungkin Arjuna akan memeluk Kejora agar gadis itu tenang. Tapi memeluk Kejora saat ini sama saja memberikan harapan untuknya sementara ia telah berniat akan menjelaskan kepada Kejora jika tidak ada cinta dihatinya yang bisa ia berikan kepada Kejora. Berharap Kejora berhenti menjadi gadis murahan yang mengejar-ngejarnya setengah mati seperti yang ia lakukan beberapa hari terakhir. Meski sejujurnya Arjuna merasa iba dengan apa yang telah Kejora lalui, emosinya saja belum hilang sampai saat ini dan jika bisa, ingin rasanya Arjuna langsung menghabisi para berandal itu hingga pemakaman yang menjadi tujuan akhir mereka. Arjuna meraih tangan Kejora, menggenggamnya sebentar bermaksud menghentikan getarannya kemudian memposisikan tangan Kejora memegang botol air mineral dengan kedua tangan. Kejora masih diam, Arjuna juga enggan bertanya lebih banyak, mengerti dengan kondisi kejiwaan Kejora yang masih syok. Perlahan Arjuna membawa kedua tangan Kejora yang memegang botol mendekat ke mulutnya. Wajah kejora yang tadi tertutup rambut karena terus menunduk kini harus menengadah menenggak air dari dalam botol. Tidak ada wajah ceria dan tengil seperti biasa yang ada raut ketakutan bahkan wajah Kejora masih pucat pasi padahal kejadian itu sudah satu jam berlalu. Arjuna mengembuskan napas kasar, memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Antara membawa Kejora ke apartemennya atau membawa gadis itu ke rumahnya karena di sana ada sang Mommy yang mungkin bisa menenangkan Kejora. Sepertinya Arjuna masih punya hati untuk tidak meninggalkan Kejora sendirian di apartemen dengan kondisi seperti ini. “Kejora ... aku akan membawamu ke rumahku ... di sana ada Mommy yang akan menjagamu,” ujar Arjuna memberi tau. “Kejora harus pulang ke apartemen ... ganti baju, Kejora besok harus kuliah, Bang ... dan siangnya Kejora ada janji sama orang untuk pindahan ... Kejora pulang aja,” Kejora melirih. Meskipun Kejora syok tapi ternyata ia masih memikirkan tanggung jawabnya, di dalam hati Arjuna salut karena mental Kejora tidak seperti mental anak manja pada umumnya. “Bang ... jangan bilang Uncle sama Aunty tentang kejadian ini ya, nanti mereka cerita sama Ayah dan Bunda ... Trus Kejora pasti dibalikin ke Indonesia,” sambung Kejora lalu menelan saliva. “Trus ... nanti Kejora enggak bisa ketemu Abang lagi, hiks ... hiks ... hiks ... .” Tangis Kejora pecah padahal berjam-jam lamanya berhasil ia tahan. Hanya karena takut tidak bisa berjumpa lagi dengan Arjunanya, Kejora tidak mampu menahan tangis. Arjuna menggelengkan kepala, ia harus segera bicara dengan Kejora tentang paksaan gadis itu yang menjadikannya seorang kekasih karena tampaknya Kejora menganggap dirinya sebagai seorang kekasih yang sebenarnya. Tentunya tidak sekarang Arjuna bicara dengan Kejora, mungkin nanti ketika Kejora sudah lebih tenang. Arjuna memakai seatbelt, menyalakan mesin mobil kemudian menginjak pedal gasnya tanpa menanggapi ucapan Kejora tadi. “Beritau aku dimana apartemenmu,” kata Arjuna terdengar dingin. Dengan bantuan navigasi dari Kejora akhirnya Arjuna sampai di basement apartemen gadis itu. Kejora merasa terobati hatinya karena jika Arjuna memarkirkan mobilnya di basement berarti pria itu akan mengantarnya hingga unit apartemen dan mungkin menemaninya. Tapi Kejora masih belum bisa merubah raut syok di wajahnya. Saat ini lututnya saja terasa lemas dan sulit untuk melangkah. Beruntung tidak lama pintu lift terbuka dan Arjuna masih setia menemaninya meski memberi jarak. Bagi Kejora ini adalah suatu peningkatan dalam hubungan mereka yang patut ia syukuri. Tapi tidak dengan Arjuna yang memang hanya berdasarkan rasa kemanusiaan saja melakukan semua ini terlebih Kejora adalah anak dari saudara angkat ibunya yang berarti Kejora adalah sepupu angkatnya. Saking lemasnya, Kejora nyaris tersungkur ke depan beruntung dengan sigap Arjuna meraih tubuh Kejora. Kejora refleks meronta hingga dekapan Arjuan terlepas dan pria itu mundur selangkah. Ia teringat dengan sentuhan para berandalan tadi, rasanya sentuhan Arjuna adalah sentuhan para berandal yang hendak melecehkannya. Arjuna tertegun sesaat, rasa ibanya bertambah dua kali lipat. Ia yakin jika kejadian tadi telah menyerang mental Kejora lebih dalam. “So ... sorry,” sesal Kejora. “It’s oke, ayo aku antar sampai apartemen.” Kejora mengangguk, berjalan di depan menuntun Arjuna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD