Secondo Incontro

964 Words
Beca menatap wanita cantik dengan pakaian glamour di depannya dari atas hingga ke bawah. Bukan bermaksud kurang ajar, namun dia hanya penasaran siapa wanita ini? Tidak ada yang pernah datang kepadanya untuk mencari seorang Athan. Apakah ini saudaranya? "Saya akan menghubungi Mr. Athan terlebih dahulu." Beca masih mempertahankan wajah ramah serta senyum manisnya. "Karena beliau berpesan untuk tidak diganggu sementara waktu." Wanita itu mengibaskan tangannya angkuh. "Tidak usah. Aku akan langsung masuk ke ruangannya saja." "Tapi, Nona.." Beca hendak berteriak namun langkahnya terhenti saat melihat wanita itu menerobos masuk begitu saja. Beca dengan cepat menyusul dan berlari untuk kembali menarik wanita itu, namun sia-sia karena kini Athan sudah menatapnya tajam. "Maaf, Sir. Saya sudah melarangnya masuk, tapi dia bersikeras." Athan menghela napasnya kasar dan mengusir Beca dengan mengibaskan tangannya sembarangan. "Saya permisi." Beca pamit undur diri, meninggalkan wanita itu bersama sang bos. Hatinya mendadak penasaran karena tidak biasanya seorang wanita menemui bosnya. Tapi, Beca sadar bahwa ini bukanlah urusannya maka dia memilih untuk kembali ke meja kerjanya. Dilain sisi, Athan masih menatap wanita yang kini melebarkan senyumnya pada Pria tersebut. "Hay..." Gumamnya pelan. Athan menatapnya dengan wajah datar. "Aku sedang sibuk, Zee. Katakan secepatnya atau keluar dari sini." Ia kembali berkutat pada dokumen-dokumen dihadapannya. Saat ini, Athan memang benar-benar sibuk. Belum lagi rapat yang akan diadakan di Portland besok pagi. Jadi, malam ini dia harus berangkat kesana. "Aku yakin kau sudah mendengar tentangku dari Sam." Gumamnya pelan sambil berdiri dihadapan Athan yang sedang duduk dikursi kebesarannya. Athan menengadahkan kepalanya menatap wanita yang pernah menjadi masa lalunya dengan datar. "Lantas? Kau mau apa?" "Athan.. kau tau aku tidak bersalah dalam hal ini. Aku sudah menjelaskannya padamu." Zee bergumam pelan. Sorot matanya terlihat sendu. "Aku ingin kita memulai semuanya, Athan. Aku ingin kita kembali bersama dan menjalaninya." Sunggingan sinis muncul dibibir penuhnya nan menggoda membuat Zee semakin menunduk dalam. "Kau m******t ludahmu sendiri, Zee." Athan memiringkan kepalanya menatap Zee dengan senyum mengejeknya. "Kau tahu, Zee. Aku tidak pernah memungut sampah yang sudah dibuang dan aku tidak akan pernah memungutmu kembali." Putusnya membuat airmata gadis itu turun begitu saja. Dulu, Athan akan luluh dengan airmata tersebut, namun tidak dengan sekarang karena airmata Zee hanyalah airmata palsu yang membuat Athan semakin muak melihatnya. Ia memang sama sekali tidak lagi memiliki perasaan pada gadis cantik didepannya. "Aku akan terus berusaha, Athan. Apapun yang terjadi, aku akan terus hadir dihidupmu sampai kau mau memungut sampah ini kembali." Ia bergumam miris dengan kata-katanya sendiri. "Sampai jumpa." Sepeninggal Zee, Athan mengusap wajahnya kasar. Sejujurnya, ia terganggu dengan perkataan sampah yang Zee lontarkan untuk dirinya sendiri. Tidak ada lagi perasaan khusus darinya untuk gadis itu karena Athan sudah membunuhnya sejak lama. Sejak gadis itu meninggalkanya. *** Acatia menghela napasnya kasar karena kembali bertemu dengan Pria yang sudah menabraknya dibandara. Pria itu ternyata berasal dari divisi yang sama dengannya dan lebih sialnya lagi, mereka berada disatu kelompok. Ada beberapa orang yang dipindahkan dari luar negeri ke London dalam beberapa departemen. Mulai dari bedah umum, kardiovaskular, neurology, dan lain-lain. Sialnya, Samuel juga berasal dari kardiovaskular sama sepertinya. "Aku percaya pertemuan kedua adalah takdir. Dan pertemuan ketiga kita berjodoh." Pria itu mengerling nakal membuat Acatia mendengus jijik. Acatia sama sekali tidak ingin meladeni Pria penebar pesona didepannya dan hanya memperhatikan ketua tim mereka yang sedang memberikan pengenalan, beberapa arahan, dan selanjutnya mereka akan keliling rumah sakit untuk mengetahui letak ruang-ruang disana. "Hey, aku berbicara padamu." Bisik Samuel pelan. Acatia menghela napasnya pelan. Menatap Pria itu datar. "Aku kemari untuk bekerja bukan untuk meladenimu, Tuan. Jadi, bisakah kau enyah saja dari hadapanku?" Samuel bukannya marah, ia semakin tergelak. "Kau benar-benar membuatku semakin ingin mengejarmu." Godanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Acatia melengos dan kembali menatap ketua tim mereka yang sudah menyelesaikan pidato panjangnya. Saat ini, Acatia beserta teman barunya akan dibawa keliling rumah sakit yang besarnya mencapai 5 lantai. Rumah sakit Breteda termasuk rumah sakit termewah disana walau ada beberapa rumah sakit yang lebih mewah darinya. Setelah mengelilingi beberapa lantai, ketua tim mereka berhenti saat melihat seorang wanita dengan gaya anggun memberi sapaan. "Selamat siang, dok." Suara wanita itu begitu lembut membuat Pria manapun pasti menjatuhkan hatinya saat melihat wajahnya. "Siang nona, Breteda." Balas ketua tim yang bernama Dr.Breniff. Kemudian, sang dokter memperkenalkan para dokter baru lainnya pada wanita tersebut. "Perkenalkan, dia Lyzeea Goulna Breteda. Anak pemilik rumah sakit ini." Para dokter baru mengangguk-angguk mengerti sekaligus kagum menatap wanita anggun tersebut kecuali, Samuel dan Acatia yang tampak tidak terlalu peduli. Samuel memilih melemparkan senyumnya pada Zee karena mereka memang sudah saling mengenal. "Kau berlebihan dokter." Zee menyahut pelan. "Aku tidak sehebat itu, karena ini semua milik keluargaku." Sambungnya merendah. "Dan.. Kurasa aku mengenal seseorang disini." "Oh ya? Siapa?" Dr.Breniff tampak terkejut. "Dia." Zee menunjuk Samuel yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Pria itu. Tak lupa, senyum memikatnya. "Dia teman ketika kami Senior High School. Dan kurasa, kami akan sering bertemu mulai sekarang." Kali ini Zee menatap Samuel dengan senyuman manisnya. "Bukankah begitu, Sam?" Samuel mengangguk dan tersenyum memesona yang mampu memikat siapapun. "Benar, Zee.. Aku harap dapat bekerja dengan baik disini dan tidak mengecewakanmu.." Acatia yang sedari tadi hanya diam, berdecih sinis tanpa sadar membuat Samuel melirik ke arahnya. "Kau cemburu, hm? Tenanglah. Aku dan Zee hanya teman.." Bisiknya pelan. "Kau tidak perlu khawatir." Ya Tuhan... Bolehkah aku menenggelamkan Pria ini ke dasar Samudera Pasifik? Pintanya dalam hati. Acatia mendengus kasar dan kembali mendapat kekehan dari Pria tersebut. Mereka kembali melanjutkan tournya setelah Zee pamit untuk masuk ke ruangannya. Zee juga termasuk sebagai seorang dokter yang baru saja mengambil spesialis bedah kardiovaskular. "Mungkin sampai disini dulu. Jika ada yang ingin kalian tanyakan jangan segan-segan." Dr.Breniff menatap satu persatu teamnya dengan senyuman ramah. "Berhubung ini akhir pekan, kalian bisa pulang lebih awal dan kita akan berjumpa lagi hari senin." "Baik, dok." Sambut mereka patuh dan bersiap untuk pulang.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD