Karan duduk di mobil, tangannya menggenggam setir namun pikirannya masih berputar-putar di meja makan tadi. Jujur, ia jadi kesulitan membaca pikiran Rainer yang berubah setiap waktu. “Apa dia punya maksud tertentu dengan mengambilkan lauk tadi? Aneh sekali! Atau dia nya arena terlalu larut dalam lamunan, konsentrasinya menyetir pun buyar. Matanya melihat jalanan, tapi otaknya tidak memproses dengan benar. Saat mendekati persimpangan kecil di dekat pasar pagi, ia sama sekali tidak memperhatikan seorang ibu paruh baya yang sedang menyeberang dengan santai sambil menenteng beberapa kantung belanja. Naluri barunya bekerja saat sang ibu sudah hampir tepat di depan kap mobil. Karan terkesiap, panik, dan langsung menginjak rem mendadak. Ban berderit keras, mobil berhenti tepat beberapa senti

