BAB 30

1340 Words

“Nandita, ngapain saja kamu di rumah Pak Camat sampai balik semalam ini?” Baru saja aku menginjakkan kaki di ambang pintu rumah, rentetan pertanyaan dari Ibu langsung menyambutku. Suara Ibu yang melengking khas kekhawatiran seorang orang tua membuat Bapak, yang sedang asyik dengan pisang goreng dan kopi hitamnya di ruang tengah, langsung melongokkan kepala. Aku menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungku. Sudah beberapa hari ini Bapak tidak pulang ke rumah karena harus ke Jakarta untuk mengirim pasokan sembako ke pasar induk. Beliau adalah pemasok palawija, beras, dan hasil tani lainnya yang cukup sibuk. Biasanya, aku sering mengeluh karena Bapak jarang di rumah, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku justru berharap Bapak lebih lama saja di Jakarta. Aku tahu, berit

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD